Ia yang ditunggu-tunggu datang juga. Seorang lelaki pembawa dua buah bakul kotak. Hati-hati dihubungkannya dua bakul itu dengan satu kayu panjang. Disarangnya kayu itu di atas satu bahu. Anak-anak berlarian menyambut lelaki itu setiap sorenya, berebutan menyerahkan uang limaribu. Setiap harinya lelaki itu berjalan puluhan kilo mengitari sudut-sudut kota, membakul dua kotak kayu demi mendapat kebahagiaan sederhana.

Lelaki itu biasa berjalan ke tempat-tempat ramai, ke komplek-komplek, ke stadion, ke stasiun, hingga ke depan gedung walikota, untuk menjajakan rujak tumbuknya. Jika panas menyengat, ia berhenti sejenak. Menepi sambil mengipasi diri dengan topi kumalnya. Jika hujan datang, ia berlari kecil, mencari tempat berteduh. Memandangi hujan sambil bersenandung. Kadang wajah Laras, istrinya, datang sekelebat di antara rinai hujan. Laras yang dengan setia menunggunya di rumah pasti akan berdoa jika hujan sedang turun. Berdoa semoga Ita dan Aji, dua anaknya bisa sekolah setinggi mungkin, apapun yang terjadi.

Maka lelaki pembawa bakul itu paham, bahwa ia harus bekerja keras dalam keadaan apapun. Minggu ini ia harus bekerja lebih lama dari biasanya. Impiannya sederhana, ia ingin mendapatkan uang lebih banyak agar bisa mengajak Ita dan Aji berjalan-jalan ke Pekan Raya. Ada wahana bermain yang dibuka setiap pekan ketiga di sana, beberapa ratus meter dari rumahnya. Ah, ia dan keluarga tak pernah bisa berlibur jauh dari kota.

Dua hari yang lalu, Aji yang masih kelas dua SD sempat ngambek saat tahu kawan-kawannya bisa berlibur ke Dunia Fantasi. Ia melengos dan pergi saat ditanya ada apa. Wajahnya dibiarkannya berlipat-lipat. Ita bilang kalau Aji iri karena teman-teman SD-nya akan ke Dufan liburan semester nanti. Sebagian orangtua anak-anak juga akan ikut, dan sang ayah, sambil menahan-nahan agar tak ada beban terpancar di wajahnya, mengelus rambut Aji dan bilang, “Nak, Bapak belum bisa kasih uang buat ke Dufan. Tapi Bapak janji, kita sekeluarga akan pergi ke Pekan Raya, bulan depan ya. Kamu bisa naik bianglala” Aji masih memasang muka masam, tapi ia tetap mengangguk, menatap mata ayahnya dan mengiyakan, tidak pernah ayahnya mengajaknya ke tempat yang lebih jauh dari bantaran kali. Tempat rumahnya berdiri kini.

****

Esok harinya lelaki itu memutuskan bekerja lebih lama. Ia berjanji pada Aji, bulan depan satu keluarga akan pergi ke Pekan Raya. Buah-buahan potongnya sudah hampir habis. Lelaki itu bersiap pulang menjelang petang, tapi tahu-tahu saja seorang lelaki berseragam memanggilnya dari jauh. Di gerbang gedung walikota.

“Nus!” Yunus menoleh. Itu Sardi, kawannya yang bekerja sebagai satpam di gedung walikota. Ia berbalik, menghampiri Sardi.

“Istri Pak Walkot yang lagi hamil muda kepingin rujak”

“Eh, serius Mas Sardi?”

“Yah, tadi Pak Walkot sedang sama keluarganya. Ayo buat gih

Buru-buru Yunus mengerjakan apa yang diminta. Ini pelanggan paling spesial yang pernah dilayaninya. Ah, merakyat sekali keluarga pak walkot mau rujaknya. Dengan sumringah ia menyerahkan satu daun pisang besar berisi rujak tumbuk. Sejak saat itulah, ia jadi sering berlama-lama di depan walikota, berharap Sardi atau ajudan atau OB atau bodyguard walikota memanggilnya dan berkata, “Mas Yunus, rujaknya enak”. Benar saja, rujak Yunus disukai. Alhasil, ia jadi bersemangat setiap lewat walikota. Kabar rujak enak buatan Yunus tersebar ke para pegawai di sana. Hampir setiap hari mereka akhirnya memesan rujak Yunus. Bahkan hingga pak walikota.

“Mas Yunus, Bapak suka rujak Mas Yunus. Buat lagi untuk istrinya” kata satpam

“Mas, anak Bapak mau rujaknya” kata OB

“Mas, sekretaris Bapak minta rujaknya” kata Satpam

“Mas, ajudan Bapak bilang rujak Mas enak” kata tukang potong rumput

“Mas, Bapak mau rujak Mas Yunus!” kata ajudan

Betapa bahagianya Yunus setiap singgah di kantor walikota. Sudah tiga minggu ini para pegawai di kantor walikota jadi pelanggan tetapnya. Hingga suatu hari, saat ia membawa bakulnya ke depan kantor, Yunus berpapasan dengan puluhan anak muda yang tampaknya sedang kelelahan. Para mahasiswa itu duduk di trotoar jalan. Ada yang membawa gulungan poster, ada yang minum air mineral, ada yang tampak mengobrol saja. Mereka tampaknya baru selesai berteriak-teriak di depan walikota.

Sekilas Yunus membaca poster-poster yang terbuka. Mereka sudah tidak lagi mengangkat poster itu tinggi-tinggi, “TURUN!”, “WALIKOTA BUTA SEJARAH”, “SELAMATKAN CAGAR BUDAYA” dan lain sebagainya.

Ia tidak mengerti tentang apa yang sesungguhnya sedang terjadi, hingga seorang mahasiswa membeli rujaknya. Alhasil, satu anak yang membeli rujak diikuti oleh anak-anak yang lain. Bertanya sana-sini, akhirnya Yunus tahu juga apa yang sedang terjadi.

“Yah, Mas, mingu depan tanah di dekat bantaran kali sampai ke tanah tempat markas peninggalan koloni Belanda akan digusur, dibangun dengan mall!” seru seorang mahasiswa berapi-api.

“Padahal markas di sebelah gereja itu ‘kan situs sejarah yang tidak bisa begitu saja dihancurkan” lanjut yang seorang lagi

Yunus terkesiap, ia tidak tahu apa itu cagar budaya, apa itu warisan sejarah, atau apalah itu kata-kata mahasiswa yang menerangkan abc kepadanya begitu tinggi. Ia terkejut benar justru karena tanah itu adalah tanah dekat tempat tinggalnya. Itu berarti, tidak akan ada lagi Pekan Raya bulan depan. Ia teringat Aji. Benar, Aji! Bagaimana janjinya dengan Aji? Bagaimana ia bisa mewujudkan liburan kecilnya bersama keluarga? Yunus melihat sekelilingnya, ada sesuatu yang terlintas di kepalanya.

****

Keesokan harinya Yunus  sengaja pergi lebih lambat ke kantor walikota. Sardi bilang, Pak Walkot biasa keluar hari ini, jam segini, dan pada saat begini. Yunus memutuskan menunggu di depan gerbang walikota untuk sowan kepada Pak Walkot. Ia buatkan rujak tanpa Pak Walkot minta. Berjam-jam sudah Yunus menunggu, Sardi heran mengapa Yunus tampak gelisah dan tidak pergi-pergi juga.

Jelaslah bahwa Yunus berniat untuk mencegat mobil Pak walikota, berbicara langsung agar tanah itu jangan digusur, atau minimal diundur saja setelah bulan depan, setelah Aji bisa dibawanya ke Pekan Raya. Toh Pak walkot juga sudah beberapa minggu ini jadi pelanggan rujaknya.

Akhirnya mobil dinas itu datang juga ke pintu gerbang. Yunus berjaga di dekat pintu satpam, Sardi heran. Yunus melambaikan tangan ke mobil pak Walkot, Sardi kebingungan. Yunus mencegat mobil itu tiba-tiba, Sardi mendadak kelimpungan.

“Pak, keluar sebentar, Pak, saya mau ngomong tentang gusuran itu, Pak!” kata Yunus mengetuk kaca mobil. Di tangan kirinya ada rujak buatannya, khusus untuk Pak Walkot. Pintu kaca mobil depan terbuka.

“Heh, Sardi, ada orang sembarangan berhentikan mobil gak kamu cegat!” kata bodyguard walikota. Di jok belakang mobil, walikota tertawa kecil sambil berucap entahlah apa pada kawan di sebelahnya.

“Anu, itu..Pak, anu…err…” Sardi serba salah. Yunus kini berdiri tegar di depan mobil Pak Walkot.

“Sardi ndak salah, Pak. Saya mau ngomong, Pak, tentang tanah yang mau dibangun mall, Bapak turun dulu” Yunus keukeuh. Segera sang bodyguard walikota turun tangan, Yunus malah berjalan ke arah samping di mana wajah pak walikota terlihat. Kaca mobil terbuka.

“Anu, ini rujak dari saya, Pak”

“Ah, ya, makasih yah” kata pak walikota, lalu memberi anggukan kepala sebagai isyarat pada bodyguard-nya.

“Pak, saya mau minta tanah jangan digusur dulu, Pak, anu…” Belum selesai Yunus bicara, bodyguard walikota segera menyingkirkannya dan menyerahkan Yunus kepada Sardi. Sementara di dalam mobil, walikota menggeleng-geleng.

“Haaah, sudah sudah! Ini sama saja kayak anak-anak aktivis!” bodyguard itu berseru.

“Pak, tolong, Pak, tolong! Undur dulu gusurannya setelah bulan depan!” Yunus berontak.

Gantian Sardi  yang menghalau Yunus. Mobil meluncur kembali dengan tenang. Nafas Yunus tersengal. Lalu kasar meminta Sardi melepaskan tangannya. Ia berlari mengejar mobil itu sambil terengah.

“Pak! Pak walkoooot!”

Sadar tidak terkejar, bakul rujaknya ia tendang dengan keras. Satu, dua, hingga tiga kali. Bug! Mata Yunus berubah nanar.

“Nus, nyebut Nus, nyebut!” Sardi menenangkan sambil tetap menjaga jarak.

Sambil menghubungkan kayu panjang dengan dua bakulnya, Yunus tumpahkan segala sumpah serapah.

Hingga hanya punggung Yunus yang terlihat makin menjauh, sumpah serapah itu masih juga terdengar samar di telinga Sardi. “Tahu gitu, aku kasih racun aja itu rujak!”  teriaknya.

****

            Sementara di dalam mobil, sang bodyguard walikota sibuk mencari kantong plastik.

“Yah, ini dibuang saja, siapa tahu penjual rujak itu kasih saya racun tikus” walikota meminta mobil berhenti, sang bodyguard turun dan melemparkan kantong plastik itu ke tempat sampah (*)

Inspired by: “libur kecil kaum kusam”, lagu Iwan Fals