oleh: Ibnu Wahyudi

Agak mengherankan bahwa kumpulan puisi tertua dalam khazanah sastra modern di Indonesia menyuratkan nada keislaman. Dikatakan demikian sebab prosa tertua di Indonesia, Tjerita Nyai Dasima, yang ditulis dan diterbitkan sendiri oleh G. Francis pada tahun 1896, cukup terasa nada ketidakislamannya. Simak saja nama yang menyiratkan sisi negatif dalam novel itu, misalnya pembunuh bayaran yang menghabisi nyawa Dasima, bernama Bang Puase. Juga Wak Salihun, yang haji, mempraktikkan tatacara yang dalam konteks Islam harus dihindari, yaitu mengguna-gunai Dasima.

Namun kumpulan puisi pertama di Indonesia ini, Boek Saier oetawa Terseboet Pantoen yang terbit tahun 1857 dan ditulis oleh Sa-Orang jang Bangsjawan, kental dengan nuansa keislaman. Bait pertama dari 80 syair yang ada, dimulai dengan  //Bismillah itoe moela dikata/ Rahman dan rahim kedoewanja serta/ Mengarang sair soewatoe tjeritta/ Dengen pitoeloeng Toehan kitta//.

Karya bernuansa Islam seperti ini akhirnya menjadi sesuatu yang langka pada masa awal pertumbuhan sastra modern Indonesia itu, yaitu pada pertengahan sampai akhir abad XIX. Yang lebih mendominasi adalah karya-karya—khususnya syair—yang ditulis oleh  peranakan Cina atau orang Indo-Eropa, yang cenderung menulis hal-hal biasa dan netral saja atau mengisahkan cerita yang berkaitan dengan relasi pribumi dan nonpribumi, khususnya yang berhubungan dengan masalah pernyaian.

Kecenderungan tematik yang sarat dengan ajaran moral atau keislaman secara khusus, dapat dikatakan sebagai sesuatu yang hampir-hampir tidak lagi kental. Kenyataan ini menarik dan menimbulkan tanda tanya. Apa gerangan yang terjadi? Jangan-jangan, tema seperti ini masih ditulis dan banyak, namun terwadahi dalam karya-karya yang ditulis dengan huruf Jawi sebagai naskah atau sebagi kirografik. Demikian pula dengan identitas pengarangnya, yang agaknya pribumi atau sekurang-kurangnya bukan keturunan Cina atau Indo-Eropa—merupakan pula sesuatu yang istimewa sebab pengarang pribumi pertama yang selama ini luas dikenal adalah R.M. Tirto Adhisoerjo dengan karya-karyanya yang terbit pada awal abad XX.

 

Didaktis

Syair yang terhimpun dalam buku ini lebih tepat disebut sebagai “syair didaktis” atau boleh juga masuk kelompok “syair agama”. Dikatakan demikian, mengingat bahwa tema yang ada di dalam kumpulan syair ini berisi ajaran atau arahan moralitas yang bertolak dari keharusan bagi berbagai pihak. Sebagai misal, di dalam kumpulan ini tersurat keharusan bagi seorang anak untuk berbakti dan menurut kepada orangtuanya, petunjuk kepada para murid untuk selalu menghormati dan menghargai gurunya, anjuran kepada para bangsawan dan hartawan agar tidak takabur dan tinggi hati, awas-awas kepada siapa saja untuk menghindari berjudi, main perempuan, berdusta, berhutang sana-sini, boros, serta melakukan kebiasaan kawin-cerai. Dapat dijumpai di dalam bait-bait syair ini, pada akhirnya, suatu ajakan untuk menghindari semua perbuatan buruk dan tercela ini dengan cara selalu memohon petunjuk Sang Pencipta agar selamat di dunia dan akhirat nanti.

Apa-apa yang dipesankan melalui syair tersebut merupakan hal-hal yang sangat sehari-hari, manusiawi, dan bukan sesuatu yang luar biasa. Berkenaan dengan tema yang sedemikian ini, maka jelas bahwa syair dalam buku ini berbeda dengan syair-syair sebelumnya yang biasanya ditulis dengan huruf Jawi dan cenderung berisi hal-hal yang bersinggungan dengan mitos, sejarah, serta melukiskan dunia antah-berantah. Kenyataan ini setidak-tidaknya menunjukkan bahwa kumpulan syair ini telah berhasil keluar dari konvensi penulisan sastra lama, baik dari sisi tema maupun stilistikanya. Oleh sebab itu, tidak ada kesangsian lagi di sini untuk menyatakan bahwa buku kumpulan puisi yang berupa syair ini adalah khazanah sastra modern atau lebih tepatnya disebut sebagai pemula khazanah sastra modern di Indonesia.

Secara tematik, keseluruhan bait syair ini dapat dipilah ke dalam beberapa topik utama, yaitu topik yang berkaitan dengan ajakan untuk berbuat kebajikan dalam hidup keseharian, topik yang berhubungan dengan sikap yang selayaknya ditunjukkan oleh murid terhadap gurunya atau topik yang berhubungan dengan dunia pendidikan, dan topik yang berhubungan dengan persoalan spiritualitas atau religiositas.

Ajakan untuk Berbuat Kebajikan

Bait-bait yang di dalamnya mengandung aspek moralitas, dalam arti memberi ajaran moral kehidupan yang selayaknya dipahami dan sedapat mungkin diikuti oleh pembaca-sasaran, intinya menegaskan akan bahayanya enam kebiasaan buruk manusia. Keenam perilaku negatif yang harus dijauhi atau dihindari ini, karena terbukti berakibat buruk untuk diri sendiri di dalam pergaulan dan di masa depan, adalah mengonsumsi candu, bermain judi, suka berbohong, suka berhutang, suka melancong tak berketentuan, dan punya kebiasaan kawin-cerai. Kesemua tabiat atau pola hidup manusia yang harus dijauhi ini terekspresikan dalam bait-bait berikut ini.

Pertama madat kedoewa maen

Sentiijasa lakoenja soedalah aën

Ahirnja itoe mentjoerie kaen

Modalnja abis tiijada laen

 

Katiga orang soeka berdoesta

Apa lah segala ampoenja kata

Terboleh pertjaija semata-mata

Ketieganja itoe bersama serta

 

Kaämpat soeka beroetang oetangan

Yang tiijada kira dengen itoengan

Kelima orang soeka pelantjong ngan

Lawan nja itoe bersama timbangan.

 

Kaanemnja orang serieng bebinie

Sabentar bertjerë sabentar bebinie

Pikier moe tratetep kesana kesinie

Soesah dipertjaija orang beginie

 

Bait-bait ini secara cukup terang mengemukakan perihal sisi buruk dari tabiat manusia, tapi kesemuanya itu baru berupa pengetahuan atau hal-hal yang perlu diindahkan, sementara alasan yang mendasari kenegatifan kebiasaan-kebiasaan tersebut belum secara langsung disebutkan. Dasar argumen yang menyebabkan keenam perilaku itu buruk, baru disebutkan pada bait-bait selanjutnya, seperti bahwa orang akan berpenyakitan jika suka menghisap madat,  atau orang akan semakin miskin jika perilaku berhutang sudah menjadi kebiasaan

Dipraktikkan atau munculnya perilaku buruk seperti telah ditunjukkan, tentu dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Hal itu bisa sebagai akibat pergaulan yang tidak baik, bisa karena ketidaktahuan akan bahaya keenam faktor negatif tadi karena lingkungan yang tidak sehat, bisa pula diakibatkan oleh faktor pendidikan. Dengan penjelasan lain, perilaku atau tabiat seperti itu barangkali bukan sesuatu yang disengaja atau “dicita-citakan”, melainkan akibat tingkat pendidikan yang rendah atau akibat dari tidak adanya atmosfir didaktis yang mengitarinya. Secara tersurat, bair-bait syair ini menyatakan bahwa aspek pendidikan itu sangat penting dan memegang peran utama dalam pembentukan kepribadian manusia.

 

Keislaman sebagai Landasan Spiritualitas

Selama ini, karya-karya sastra yang terbit pada awal keberadaan sastra Indonesia modern, lazimnya ditulis oleh peranakan Cina atau Indo-Eropa, yang (hampir semuanya) tidak beragama Islam. Beberapa di antara mereka malahan memperlihatkan nada merendahkan Islam. Hampir tiadanya karya sastra di masa itu yang menyiratkan atau juga menyuratkan keislaman, sesungguhnya dapat dipahami.

Mereka yang berkiprah dalam penulisan biasanya adalah orang-orang non-Islam yang umumnya berpendidikan Eropa atau bersekolah secara formal dalam format sekolah modern, bukan di pesantren. Berdasarkan realitas itu maka cukup mengherankan ketika membaca buku syair ini, dan lebih-lebih sebagai karya yang sementara ini disebut sebagai yang pertama dalam peta sastra Indonesia modern, ternyata sarat dengan nada keislaman atau ungkapan-ungkapan yang khas Islam.

Bukti mengenai hal ini terlihat pada bait-bait syairnya. Bukan hanya dengan semata-mata menyebut “Allah” misalnya, melainkan juga karena berhubungan dengan hal-hal dogmatis yang operasional-keseharian sifatnya. Sebagai contoh saja, perhatikan bait syair ini: //Sabda rasoel penghoeloe kitta/ Goeroe itoepoen toean kitta/ Goeroe itoe tamsil pellitta/ Manerangken hattie ijang gelap goelitta//.***

 

*Ibnu Wahyudi, peminat dan penikmat sastra, pengajar FIB UI, tinggal di Depok.

� i-Ȩ7 �X5 agai karya yang sementara ini disebut sebagai yang pertama dalam peta sastra Indonesia modern, ternyata sarat dengan nada keislaman atau ungkapan-ungkapan yang khas Islam.

 

Bukti mengenai hal ini terlihat pada bait-bait syairnya. Bukan hanya dengan semata-mata menyebut “Allah” misalnya, melainkan juga karena berhubungan dengan hal-hal dogmatis yang operasional-keseharian sifatnya. Sebagai contoh saja, perhatikan bait syair ini: //Sabda rasoel penghoeloe kitta/ Goeroe itoepoen toean kitta/ Goeroe itoe tamsil pellitta/ Manerangken hattie ijang gelap goelitta//.***

 

*Ibnu Wahyudi, peminat dan penikmat sastra, pengajar FIB UI, tinggal di Depok.