Aku dan Kau, punya cara berbeda dalam bicara.

Tentu.

Bagiku, kadang ada beberapa hal yang tidak bisa diwakili oleh kata-kata. Dan dialog yang paling asing sekaligus sempurna adalah dengan-Mu.

Kesendirian, tangisan, harapan, ketakutan, kesabaran, rasa syukur. Antara ‘aku’ dan ‘Engkau’ tak ada sekat yang memisahkan. Kita berdua saja, di sini, duduk. Aku menyelami-Mu lewat kesendirian. Sungguh, kesendirian yang paling asing.

K-i-t-a punya cara yang berbeda dalam berbicara satu sama lain. Cara-Mu berbicara kadang sungguh lebih sering menimbulkan tanya, bahkan konflik, kadang rasa tidak terima. Dan ah ya, sama sepertiku barangkali, Kau tidak berbicara dengan kata, tapi dengan tangis, dengan harap, dengan takut, dengan kasih sayang, dengan ujian yang diberikan kepada manusia.

Sentuhan yang terkadang tidak bisa diterka, terlalu halus, baru terasa ketika beberapa lamanya. Sentuhan yang menimbulkan tanya demi tanya yang tak pernah bisa terjawab pada saat itu juga. Tapi waktu, waktu yang menyadarkan semuanya.

Ya Allah, baru ini rasanya lemas sekali jari-jari ini menulis, sungguh hanya kepada-Mu aku memohon kekuatan. Ya Allah yang Maha membolak-balikkan hati, teguhkan aku, jadikan aku pribadi yang sabar dan selalu memiliki seribu alasan untuk berbahagia. Sungguh, hanya dengan mengingat-Mu hati menjadi tentram.

Sabar itu berliku, tapi nyata kesudahannya…