Dari kiri ke kanan Fik, Adhul, Wahyu, Ika, Fiza, Wulan, Alfi (Februari, 2011)

Tadinya saya ingin menulis ini pakai bahasa Inggris, tapi sepertinya publik bakal eneg duluan untuk baca, haha, jadi saya tulis bahasa Indonesia saja :p

Nah, dari dua minggu lalu saya sudah merencanakan untuk menulis ini, tapi tunggu waktu yang tepat. Rasanya sekarang sudah tepat. Menahan-nahan untuk tidak bercerita kabar bahagia pada siapapun itu rasanya seperti bermain debus. Lha, apa pasal? Yup, it’s like putting a stove on your head, or counting down a ticking time boom!

Nah, Teman, cerita ini dimulai dari tweet Fiza…

“Teman2, fik tanggal 19 Juni ini umrah, menang lomba menulis (dari Sari Ayu)..…”

Tweet Fiza membuat perasaan saya campur-aduk, antara percaya tidak percaya. Saya hanya bilang dalam hati, “Ini si fik, gila apa yah. Tiap declare mimpi pasti tercapai”. Siapa fik? Apa yang dia lakukan? Kenapa dia menjadi sosok yang istimewa di mata saya?

Kali pertama saya mengenal Fikriyah, atau akrab dipanggil Fik, di ILDP, sebuah forum kepemimpinan yang pada mulanya diperuntukkan untuk teman-teman MAPRES UI (cek http://ildp.ui.ac.id/). Sebelumnya kami sudah pernah bertemu di suatu tempat, hanya selewatan, saat ia belum menjadi star seperti sekarang, hehe. Waktu berlalu cepat, setelah program ILDP #1 berakhir, kami justru malah semakin akrab. Apalagi, di antara semua komunitas A-Z yang saya ikuti di kampus, teman-teman ILDP adalah orang-orang yang paling membuat saya merasa mingle. Beberapa di antara kami menjalin persahabatan, sampai detik ini.

Fik, adalah orang terbawel yang pernah saya temui. Ia anak yang ceria luar biasa. Kesan pertama saya terhadapnya adalah, “sumpah nih anak bawel banget, ga bisa diem” haha. Tapi justru berkat sikap periangnya, segala situasi rumit bisa jadi sedernana, segala hal yang menyedihkan bisa jadi membahagiakan. Tapi siapa yang tahu, dibalik keceriaannya, ia menyimpan masa lalu yang begitu getir. Keluarga Fik tinggal di kampung Banten Selatan, tepatnya di Lebak. Ia sempat putus sekolah karena gonjang-ganjing masalah keluarga. Waktu mengubur semuanya, dan ia bangkit dengan segudang mimpi-mimpinya.

Sejak ia dikirim ke Brunei Darussalam oleh jurusannya pada 2009, dalam 2 tahun terakhir ini ia sudah mengunjungi 10 negara, akan menjadi 11 ditambah dengan umrah nanti. Semua dilakukan dengan modal #persistencedetermination (ketekunan dan tekad). Kalau saya boleh bilang, dia adalah orang ternekad yang pernah saya temui. Fik adalah dream hunter, hobi travelling dan konferensi ke berbagai Negara, passionate about business (dan engineer, haha), pencair suasana, keras kepala, friendly, sekaligus sentimentil.

Saya tidak mungkin menceritakan bagaimana perjuangan dia meraih itu semua dalam tulisan singkat ini. Yang saya tahu, dia punya network yang luar biasa, mulai dari orang kecil sampai pejabat. Sepertinya semua tersebar di mana-mana. Haha. Bayangkan saja, untuk mencari dana atau mewujudkan mimpinya, dia rela berpanas-panas, berhujan-hujan, dan jatuh bangun sampai nangis darah. Is it true, Fik? Yang saya ingat, Fik pernah bilang pada saya, dia ingin sekali ke Amerika, lalu satu bulan setelahnya dia betul-betul pergi ke sana. Dulu dia bilang ingin ke A, B, C, D. Semuanya kesampaian; Amerika, Jerman, Belanda, Singapura, Vietnam, Malaysia, New Zealand, Brunei Darussalam, dll. Ia pasang betul-betul mimpi-mimpinya di dinding kamar, tulis coret, tulis coret, demikian seterusnya. Setiap dia ingin ke ABCD, dia ubah PP Facebook dengan foto tempat yang dia inginkan. Saya jadi berpikir, saking seringnya mimpi dia kesampean, mungkin dia bisa pasang foto engineer juga biar  jodohnya kesampean #salahfokus.

Nah, selama saya berkawan dengannya, dia sering transit ke rumah saya di Serang (Banten Utara), kalau ia mau pulang ke Lebak (Banten Selatan). Maklum, rumah Fik jauh di pelosok sampai cukup sering bermalam dulu di rumah saya. Bagi orangtua saya, dia sudah dianggap seperti keluarga sendiri. Sosok orangtua saya mungkin mengingatkan Fik pada kehidupan kecilnya yang tidak begitu meyenangkan. Saya ingat dia pernah tiga kali bolak-balik Serang-Lebak dalam sehari karena urusan proposal dengan pemerintah Lebak agar bisa dapat dana untuk ke New Zealand. Semua jatuh bangun dialami, hingga suatu hari dia sadar, ada tempat paling penting yang belum dia kunjungi: Mekah.

Sungguh terharu mendengar sahabat sendiri akhirnya bisa ke sana 19 Juni nanti. Setelah beberapa lamanya foto Ka’bah dia pasang jadi PP Facebook. Kadang-kadang saya suka geleng-geleng kepala sendiri, melihat ke-tough-an anak yang satu ini. Keinginannya untuk membahagiakan ibunya, keinginan untuk belajar agama lebih dalam, keceriaannya setiap kali jadi PJ ‘kumpul-kumpul’ genk ILDP, membuat saya takzim padanya.

Kemarin-kemarin, sepulang acara sosialisasi beasiswa Oxford dan Cambridge di Rektorat, saya dan Fik makan siang di kantin. Waktu itu saya sedang bingung dengan berbagai pilihan hidup. Rasa-rasanya pascakampus membuat dunia begitu berbeda, banyak hal yang membuat saya berpikir terlalu keras. Fik, yang bahkan belum lulus dan belum mengalami dunia pascakampus bilang pada saya:

“Fi, kalau lo selamanya meletakkan kacamata lo di orang lain, lo akan terus ngeliat dengan pandangan orang lain, bukan keyakinan lo sendiri. Kalau lo udah memutuskan sesuatu, jalani. Kalau selamanya begitu, jatuhnya malah lo capek, dan gak bersyukur. Lo gak bersyukur fi…” katanya tegas.

Ah Fik, terimakasih telah mengajarkan saya untuk menikmati hidup dengan selalu berhusnuzhan pada (keputusan) Allah. Terimakasih telah mengingatkan kembali mimpi-mimpi saya, untuk terus saya yakini dan capai dengan penuh kesyukuran…

Terimakasih Fik. Selamat jalan ke Tanah Suci, untuk menjadi pribadi yang lebih baik, dunia akhirat.

Dedicated to Fik: gue nulis ini buat mendorong lo untuk buat buku tentang perjalanan hidup lo. Kasih inspirasi sama orang-orang Fik. You can do it!