Aku bisa merasakan geliat kota malam-malam. Lampu-lampu di tepian, mobil lalu lalang, deru motor, dan suara-suara cemas di ujung jalan. Aku bisa merasakan dingin yang berjalan bersisian. Ada yang terdengar dari kejauhan. Ada sayup. Ada samar.

Aku bisa melihat waktu tersapu debu-debu jalan. Ada yang berlari begitu cepat, ada yang memungut menit demi menit kenangan.

Aku bisa merasakan hawa kota malam-malam,  ada bisik-bisik nakal, ada tawa anak-anak dengan balon di tangan, ada asap rokok dan jerit kereta malam. Ada  gedung-gedung tinggi yang menjulang dan suara sepatu mengetuk-ngetuk jalan.

Aku bisa merasakan kota yang meronta-ronta. Petikan dawai gitar, mangkok plastik untuk menadah uang, tongkat kayu, kacamata hitam, roda-roda kecil yang berderit di dalam gerbong-gerbong panjang.

Aku bisa merasakan kota yang telanjang. Ada yang jatuh di kepala. Bayang-bayang bulan. Ada yang berdesik pelan. Mungkin kerinduan. Ada yang menerka-nerka kapan ketakutan hilang. Ada yang merayap-rayap di antara sela-sela waktu. Ada yang berjalan dua kali lebih lambat. Ada yang bertanya-tanya di tengah keramaian, “kapan sampai di tempat pemberhentian?”