Dengan cara apa Tuhan menciptakan seorang ibu. Terbuat dari apa ia, bagaimana mulanya, apa yang ditiupkan ke dalam dirinya, saya sungguh penasaran….

Kadang-kadang saya seringkali bertanya. Selama saya hidup, tidak ada orang di dunia ini yang kesabarannya melebihi ibu saya. Mungkin saya berlebihan. Tapi harus dengan apalagi saya bilang, jatuh bangun yang dirasakan ibu sedari kecil hingga sekarang, membuat ia menjadi pribadi yang tahan banting, matang, sentimentil, memanjakan, dan terlalu berlebihan dalam memberikan kasih sayang.

Begitulah ibu saya, yang sejak kecil seringkali dilarang-larang kakek untuk beraktivitas di luar rumah. Yang cerdas tapi jarang mendapatkan kesempatan untuk berkembang.

Ibu pernah menjadi satu-satunya anak, di antara tujuh anak kakek nenek, yang bisa mendamaikan pertengkaran mereka sewaktu pernah berpisah ranjang. Di antara tujuh anak kakek dan nenek, saya kira, ibu saya orang yang paling sabar, ramah, sangat welas asih ketika berinteraksi dengan orang lain. Teman-teman dan murid-muridnya bilang, “ummi jarang marah, tapi sering kasih nasihat yang mendamaikan”. Ia bahkan menjadi salah satu guru favorit di sekolah. Bayangkan, bayangkan, kalau dengan orang lain saja bisa begitu, apalagi dengan saya?

Mati batin ibu itu kuat. Pernah suatu kali, hari kedua saya bekerja di kantor baru, saya sangat merasa lelah, pinggang saya sakit dan darah rendah saya kumat. Tiba-tiba saja, ibu saya keukeuh ingin datang ke kantor sewaktu ia sedang berada di Jakarta. Padahal ia tidak tahu kondisi saya, tapi entah mengapa, katanya ia dan ayah ingin sekali bertemu saya. Alhamdulillah, saya sungguh terbantu waktu itu.

Pernah suatu kali, saya merasa tertimpa sebuah durian. Lima kali mencoba tertidur dengan lampu gelap, selalu saja gagal. Ada persoalan yang sangat menggganggu pikiran. Saya terbangun berkali-kali, gelisah tidak karuan. Saya keluar kamar, mencoba menonton TV, tapi setengah badan rasanya lemas sekali, leher sakit, dan saya tidak bisa memberikan penjelasan kegelisahan macam apa ini. Alhasil saya tidur jam 1.30 dini hari, dan bangun lagi jam 4 subuh. Rasa-rasanya, saya mau pingsan saja karena persendian saya sakit, dan lambung saya perih tak karuan.

Waktu itu juga makan siang terlewat, makan malam telat dan hanya bisa satu sendok, makan pagi hanya bisa 5 sendok, karena saya mengalami depresi. Pagi-pagi ibu menelepon, katanya ingin ke Depok dari Serang. Saya tanya kenapa, ada apa, saya tidak kenapa-napa. Tapi firasat ibu lain, dia keukeuh ingin pergi ke Depok demi menyenangkan hati saya. Khusus untuk saya. Saya tanya lagi, “ada apa ke Depok?” tapi ibu tak bisa menjelaskan. Yang jelas ia ingin bertemu saya. Sungguh saya sangat terbantu dengan kehadirannya.

Allah ya Rabb, rasa-rasanya, saya tidak bisa berkata-kata. Kenapa, mata batin ibu itu kuat sekali.

Dengan cara apa Tuhan menciptakan seorang ibu. Terbuat dari apa ia, bagaimana mulanya, apa yang ditiupkan ke dalam dirinya, saya sungguh penasaran….