Kayaknya sudah seribu orang bertanya kenapa saya gak memilih sekolah ke luar negeri. Hehe. Waduh, agak gimana gitu yah ditanya begitu setiap waktu. Kalau begitu, saya jawab saja yah lewat tulisan ini.

****

Andaikan sabar dan syukur adalah dua tunggangan aku jadi tak peduli mana yang harus kukenderai – Umar ibn al-Khatab

Saya tidak tahu bagaimana memulainya. Hanya saja saya sedang berusaha menjernihkan pikiran dari segala macam hal-hal negatif. Sudah empat hari ini saya susah sekali makan, terutama sarapan. Sekali masuk mulut, perut rasanya tidak enak, hingga saya muntah-muntah. Saya ambil timbangan, dua minggu ini berat badan turun dua kilo. Haha. Memang sedang ada banyak hal yang dipikirkan. Dan tiba-tiba saja banyak pula proyek kerjaan berdatangan.

Saya harusnya bersyukur betapa mudahnya Allah memberikan saya rejeki tanpa harus bersusah payah. Semuanya datang sendiri setelah saya mengalami pergolakan batin, haha, lebay. Awalnya saya ingin sekali terjun ke bidang media untuk berkarir menjadi jurnalis. Itu cita-cita saya sejak saya duduk di bangku SMP. Bagi saya, memakai ID card jurnalis, berpanas-panasan, bertemu orang besar, berkeringat dan dikejar deadline adalah sesuatu yang menyenangkan. It’s  real me. Lalu tiba-tiba saja banyak hal yang membuat saya berpikir ulang. Ceritanya panjang, hingga pada akhirnya  ayah saya meminta saya menjadi dosen, meneruskan karirnya sebagai guru besar (?). Katanya saya punya potensi, walaupun IP saya tidak besar-besar amat, hanya 3.42.

Saya sempat kepikiran waktu kuliah dulu, saya sungguh tidak percaya diri melihat beberapa kawan dengan IP cumlaude, 3.7 3.8 3.9. Ah saya jadi ciut sendiri. Dosen kan dipandangnya: Cerdas, IP tinggi, dan pasti kalau jurusan Inggris, bahasa Inggrisnya harus bagus!

Saya berpikir ulang, ayah saya seorang Guru Besar Tafsir di IAIN Serang Banten. Saya melihat pribadi beliau sebagai seorang yang cerdas dan well-organized, berbeda dari saya yang agak “rusak”, haha. Makanya saya suka marah kalau ayah saya menuntut saya IP harus tinggi! Dulu saya marah-marah, sekarang saya menyesal.

Waktu itu saya berpikirnya toh saya mau terjun ke media, dua tahun bekerja dan mengambil beasiswa S2 ke luar negeri juga pasti bisa, tidak perlu IP tinggi-tinggi amat, yang penting interpersonal dan intrapersonal skill terasah. Saya tahu memposisikan diri. Hingga suatu hari, lambung saya, yang memang sejak dulu kumat-kumatan, bertambah parah karena suatu hal. Intinya saya perlu istirahat dulu dari hal-hal yang bisa memicu HCL lambung saya. Saya merasa sesak luar biasa dan kram satu jam sekali. Saya sempat endoskopi, kata dokter tidak ada apa-apa, hanya penyakit psikologis. What?!!

Setelah merenung lama, saya mengambil lagi part time teacher di BKB Nurul Fikri dan magang di rektorat untk urus event leadership mapres se-nasional. Dari dulu saya memang di NF, tapi sempat off setahun karena satu dan lain hal. Sambil kerja part time, saya pikir-pikir lagi, mau jadi apa saya, sementara beberapa teman sudah banyak yang kerja kantoran. Melihat teman saya yang sudah di Republika, kayaknya keras banget yah jadi wartawan, sementara kesehatan saya belum bisa kompromi. Melihat teman-teman yang potensial jadi dosen, saya kok yah gak yakin potensi saya bisa kerkembang di dunia akademisi.

Akhirnya saya shalat istikharah, dapatlah saya pencerahan, setelah menemukan fakta bahwa Pak Prof. Rhenald Kasali dulu IPK-nya 2.49, tapi ia bisa S2 S3 di Amerika. Ah, ayolah Fiii, berubah menjadi lebih baiiiik!

Saya coba menganalisis hal-hal positif yang bisa meyakinkan saya menjadi dosen.  Pertama, skripsi saya tentang linguistik makro satu-satunya yang dapat A di jurusan. Kedua, saya senang menulis di media dan saya tahu saya punya potensi untuk mengasah kemampuan bahasa. Setidaknya membantu saya untuk menulis jurnal ilmiah. Toh saya juga sering ikut lomba jurnal ilmiah di UI. Saya putuskan, saya mau ambil  S2 komunikasi! Tapi tiba-tiba ada problem lagi, mau jadi dosen komunikasi? Di mana? Bagaimana mulainya? Sementara untuk menjadi guru besar, kebijakan dikti, jurusan harus linear dari S1 sampai S3. Apa?

Saya sempat putus asa. Ya Tuhan apa benar saya harus ambil jurusan di linguistik, sastra, atau studi budaya lagi?  Tiba-tiba saya mengalami kegalauan, setelah serampangan mengobrol dengan dosen sana-sini, beliau bilang saya harus mengajar di kampus swasta dulu, karena negeri tidak menerima S1. Dan untuk sekolah ke luar negeri, biasanya sudah bekerja dulu di institusi. Apalagi kalau ngincernya fulbright. Akhirnya saya serampangan tanya sana/i tentang fulbright dan beasiswa ke luar lainnya. Saya mau ambil American Studies, yang khusus membahas politik dan dunia Islam, tapi saya belum mempersiapkan apapun. Ffffh, baru buka buku IELTS, kesehatan masih belum stabil, mau kerja di kampus swasta juga harus S2. Mau kerja kantoran ibu saya bilang, “Kalau kamu nunda sekolah, ntar keasikan kerja lagi. Terus kapan nikahnya?” Ibu saya benar-benar salah fokus. Jodoh aja belum ada yang klik #jangansedih haha

Setelah mengobrol dengan dosen saya, saya putuskan untuk studi di dalam negeri. Masalahnya, ambil apa? American Studies di Indonesia belum spesifik, Studi Budaya, apa benar saya akan berkarir di pemikiran-pemikiran budaya macam Bu Melany atau Pak Manneke? Setelah istikharah, saya putuskan ambil Linguistik di FIB UI karena saya tahu ada kanal-kanal yang bisa saya tempuh. Alhamdulillah, untuk studi S2 di UI, khusus FIB sastra ada jalur tanpa test, dengan syarat baru setahun lulus, ada recommendation letter dari kaprodi, CV, dan sertifikat mapres. Baiklah!

Timbul lagi masalah, selagi nunggu S2, saya ngapain ya Tuhaaaan. Akhirnya saya berkali-kali apply ke kursus-kursus Bahasa Inggris, tapi Bo, masak kursus aja saya harus jauh-jauh ke Sudirman. Untuk mengajar di LBI UI, harus ada teachers training dulu, baru bisa dievaluasi, tapi kapan buka lagi??? ffh. Saya apply ke penerbit Erlangga, dipanggil sih, tapi saya bilang, kemungkinan saya S2 tahun ini, akhirnya sang interviewer ragu dan dia bilang, “kami butuh yang tetap”. Saya putus asa, dari Maret ke September (waktu kuliah) masih lama. Ngapain yah? Kalau saya ambil kerja tetap, ada kontrak setahun, sementara sisa waktu saya hanya 6 bulan. Saya pasti bakal resign di waktu yang tidak tepat, dan belum tentu juga perusahaan menerima saya dengan kondisi, “prioritas sekolah”

Akhirnya saya stay di NF, sambil pegang tiga privat. Satu IELTS untuk mengajar seorang peneliti di FE, dua IELTS untuk teman kuliah, dan tiga persiapan UN. Ffffh, ternyata mengajar itu melelahkan tapi saya berusaha latihan gak minta uang sama orangtua. Nah, masalahnya lagi, kuliah S2 berarti saya harus bayar sendiri atau cari beasiswa, sementara adik bungsu saya ingin kuliah di ITB, artinya rekening orangtua saya akan jebol! Selagi cari-cari beasiswa, saya berpikir, saya harus cari uang banyak in case saya gak dapat beasiswa biar saya gak memberatkan mereka.

Saya perhatikan Melody, teman kosan saya yang bekerja sebagai translator novel in house (pekerjaan yang dulu sangat saya hindari). Translator itu membosankan, duduk terus tapi kepala mumet. Tapi wah, lumayan juga uangnya bisa buat nabung S2 di dalam. Saya berdoa pada Allah agar Ia memberikan saya pekerjaan ‘translator’, tanpa kontrak, bisa ngantor di gedung tinggi, tidak perlu terjebak macet, dan penghasilannya besar.

Luar biasanya, suatu hari Ijonk me-mention nama saya via twitter. Dia RT tweet temannya, Vina HI08 yang sedang butuh translator di kantornya. Allahuakbar, doa saya dikabulkan. Jadilah saya test di sana, dan baiklah, saya diterima sebagai outsource translator di PR consultant Pondok indah. Tadinya saya pasrah sama sekali gak mengharap uang banyak, ternyata saya kaget, pendapatannya bisa dua kali lipat kerja kantoran biasanya, meaning 3 sampai 4 kali lipat UMR karena jadi translator diitungnya per lembar, hehe. Alhasil, saya bekerja di sana, menerjemahkan berita-berita tentang saham naik turun, regulasi, dan masalah dunia perusahaan tambang, dari Indonesia ke Inggris. Sebagian juga saya kerjakan di rumah, tergantung deadline-nya.

Sejak saya kerja kantoran, rejeki berdatangan. Tiba2 saya diminta jadi juri olimpiade PKM GT Etos se-nasional, lalu diminta translate verbatim bahasa Inggris dengan bayaran yang besar, diminta translate dokumen-dokumen lain, lalu diminta part time PR di NEC. Akhirnya saya pilah/pilah mana yang worth it bagi saya. Tapi saya tahu, cita-cita saya kan jadi dosen, saya harus susun plan benar-benar! Ini belum apa2 woy!

Akhirnya,  begitu ada teachers training LBI, saya ikut, hehe. Tidak tahu akan dipanggil atau tidak, yang jelas, segala cara harus saya tempuh dengan sabar dan syukur. Saya tahu Allah selalu memberikan yang terbaik bagi saya. Dan ternyata pascakampus membuat saya sadar, tidak semua hal bisa kita dapatkan. Tapi Allah pasti memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Toh sekolah ke luar negeri masih jadi cita-cita saya. Ini hanya masalah waktu. Anak panah perlu mundur dulu kan biar tarikannya lebih lesat?

Belakangan pekerjaan proyek menyita tubuh, mata, dan hati saya. Saya harus lebih banyak bersabar. Sebentar lagi Ramadhan, harusnya lambung saya baik-baik saja. Ah fi, kamu akan sehat lahir batin dengan syukur dan sabar. Ayo kuat!!!

*tulisan random. jarang2 gue serandom ini nulis*