Cobalah terdiam beberapa saat. Karena terkadang kesadaran penuh itu ada pada saat kita tak bersuara. Detak jam dinding, suara CPU, ketukan-ketukan jari jemari di atas keyboard, suara ibu-ibu yang sedang senam di stadion belakang rumah, Teh Tini yang sibuk di dapur, deru motor dari kejauhan, sepupuku, Vera yang memanggil Nindi sayup-sayup. Dan nafasku, jantungku, ah, jantungku berdetak. Masih berdetak.

Pada suatu pagi yang sunyi, aku mencoba merasakan kehidupan yang berbeda. Setahun selepas lulus dari kampus. Kulirik sejenak tumpukan paper, BB, lembar demi lembar pages di layar komputer, baris demi baris kalimat, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, ayah ibu yang ngomel-ngomel memintaku istirahat, adikku yang kooperatif membantu.

Al-qur’an-ku nyaris tergenang, kacamata, kesenangan, kebersamaan, semua tergenang. Hingga pada titik tertentu, aku sungguh-sungguh ingin mendengar bagaimana darahku mengalir. Kubayangkan aliran darah itu seperti alur roller coaster, ada beberapa anak yang terjun di atas rel dan berteriak-teriak. Oh, yah kah?

Mungkin, ah, begini saja, hidup itu sama seperti ketika kita naik ke atas roller coaster, kadang naik, kadang turun, tinggal memilih, ingin menikmati hidup, atau protes berteriak-teriak pada hidup. Mmm..tahu-tahu saja teringat percakapan kemarin.

“Dulu Hidayat Nur Wahid itu mengajar abah di UIN waktu pascasarjana. Gak punya apa-apa dia dulu, tadi debat kandidat udah ada 17 milyar aja”

“Oh yah, Foke berapa?”

“40 milyar kalau gak salah”

“Tapi Pak HNW tetap sederhana yah”

“Yah, dia itu lulusan Gontor. Begitu kalau orang berilmu”

“Alex Nurdin?”

“30-an milyar”

“Faisal Bahri?”

“Paling kecil 4 milyar”

“Dosen UI kan dia”

“Yah, itu siapa yah tadi yang 19 milyar”

Adikku menimpali

“Itu diitungnya gimana sih harta gitu?”

Ibuku menjawab

“Yah, kayak kita ini, rumah mobil tabungan dihitung”

“Eh berarti itu kaya banget yah calon gubernur”

“Tapi ada yang namanya Hindun Wilda Risni. Itu harta yang gak bisa diitung!”

Pada suatu pagi yang sunyi, aku ingin saja tinggal berlama-lama di sini. Di rumah ini. Di antara keluarga ini. Kulirik pekerjaanku yang baru saja selesai, rasanya puas sekali, lega sekali. Ingin langsung naik roller coaster, menikmati dua perasaan sekaligus, berteriak tegang, sekaligus senang.

Ah, masih ada, tugas yang belum selesai. Persiapan Ramadhan. Kau tahu, setelah bulan itu, aku berjanji, dengan kesungguhan hati, untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Semoga, semoga.