Sewaktu SMP dulu, saya pernah mendengar ceramah seorang ustad di sebuah event pesantren kilat Ramadhan, katanya “meminta maaf” itu gampang, tapi “memaafkan” itu sulit. Entah mengapa waktu itu saya tidak sepakat dengan kata-kata sang ustad. Rasa-rasanya bagi saya yang seorang anak SMP, saya adalah orang yang mudah memafkan, toh saya tidak punya niatan untuk berkonfrontasi dengan orang lain. Hingga hari demi hari berlalu, bulan demi bulan, dan tahun demi tahun terlewati. Saya sadar benar, bahwa kapasitas saya sebagai anak SMP tidak seperti kapasitas saya saat ini.

Saat usia saya menginjak SMA, permasalahan seputar sekolah dan pribadi lebih kompleks, tapi tentu saya masih memiliki kawan yang bisa diajak mengatasi permasalahan secara bersama-sama. Menginjak kuliah, terpisah jauh dari orangtua, membuat saya mengerti apa itu ‘masalah’ keluarga, orangtua, adik-adik, dan keluarga besar, lalu juga bagaimana masalah organisasi di kampus, bagaimana berinteraksi dengan teman-teman, dosen, dan pihak-pihak lain yang berkepentingan. Saya belajar lebih banyak, bahwa salah satu ladang amal mengumpulkan pahala sabar adalah saat berinteraksi dengan orang lain. Dan di kampus, tentu saja masih banyak teman yang bisa mem-back up segala permasalahan.

Namun, ketika urusan kampus beres, mulailah saya melihat bahwa dunia tidak sesempit area UI, bahwa orang-orang tidak setipe warga UI, bahwa permasalahan tidak seluas kampus, area Margonda, luas petak kamar kos, dan sebagainya. Ketika saya lulus, saya memutuskan untuk pindah ke tempat kos  yang lebih plural. Sungguh sangat berbeda dengan kosan saya dulu, yang isinya teman-teman aktivis, pekerjaannya pergi pagi pulang malam, kering interaksi, sekadar say hello, pekerjaannya bolak-balik kampus, dan pastinya ‘satu’ tipe dengan saya.

Berbeda dengan kosan yang sekarang, di mana saya bisa bertemu dengan orang-orang dari berbagai latar belakang, lebih dinamis, dan ada unsur kerjasama di sana. Semuanya serba ‘share‘, entah dapur, panci, wajan, ember, ruangan tempat berkumpul. Semuanya memengaruhi kesadaran saya tentang interaksi. Konsekuensinya, saat interaksi semakin dinamis, ada saja konflik-konflik kecil yang harus ditangani, ada saja tipikal teman-teman yang mungkin tidak cocok, ada saja pelajaran untuk lebih berbesar hati. Demikian juga di kantor, dan di tempat-tempat lain yang menyadarkan saya bahwa, “O, ok, masing-masing orang itu unik yah”. Intinya, semua pancaindra kita lebih sensitif, dan tentu saja, lagi-lagi kita harus bersyukur bahwa Allah memberikan kita lahan untuk meningkatkan level kesabaran kita.

Demikian juga saat saya bekerja, di kantor, atau di tempat-tempat yang membutuhkan effort yang lebih profesional. Maka tanggung jawab akan semakin besar, dan interaksi dengan orang lain akan semakin kompleks. Alhasil, konflik yang ada juga lebih besar. Tapi apakah kita punya teman-teman untuk mengatasi persoalan bersama? Apakah mereka satu visi misi dengan kita? Belum tentu. Terkadang kita dituntut untuk mengatasi persoalan secara mandiri. “That’s your choice, and every choice bears a consequence. You deal with it by your own”

Tapi tentu saja semakin dinamis hidup kita, semakin matanglah cara kita berpikir dan berbuat. Semakin tough kita menghadapi segala persoalan. Dan semakin bisa berinteraksi dengan orang lain dengan cara yang lebih elegan. Saya jadi teringat novel ’99 Cahaya di Langit Eropa’, suatu hari Hanum dan Fatma sedang makan di sebuah restoran di Wina. Tiba-tiba saja, di sebelah meja mereka yang terpisah oleh tembok, sayup-sayup terdengar obrolan warga Eropa yang menjelek-jelekan Islam. Hanum hendak marah dan berpikir akan membalas mereka dengan kata-kata yang kasar. Fatma bertanya pada Hanum, “ada berapa orang di sana, dan apa yang mereka makan?”. Lalu Fatma beranjak ke kasir dan membayar makanan orang-orang Eropa itu, sambil memberikan catatan kecil pada kasirnya, agar nanti diberikan pada si anu dan si anu di meja nomor sekian. Hanum hanya bisa terkejut dan merasa malu betapa ia tidak berpikir seperti Fatma. Sama seperti Rasul saat ada seseorang yang melulu meludahi beliau, ia tengok orang itu saat sakit, atau saat ada yang membuang sampah di depan rumah beliau, ia balas dengan cara yang lebih santun, sehingga orang yang dulu menjahati beliau menjadi segan dan berpikir ulang untuk melakukan hal negatif. Begitulah memang seharusnya saat kita berinteraksi dengan orang lain.

Lantas kemudian, saya teringat kata-kata Dahlan Iskan di buku, “Sepatu Dahlan Iskan”, bahwa sesungguhnya tempat kita belajar bukan sekolah formal, bukan pula universitas tempat kita mencapai gelar setinggi mungkin, tapi kehidupan itu sendiri adalah tempat belajar. Dan kesabaran terbesar, kata Rasul, adalah saat kita berinteraksi dengan orang lain. Berikut saya kutip kata-kata Dahlan.

Ketika kerjamu tidak dihargai, maka saat itu kamu sedang belajar ketulusan

Ketika usahamu tidak dinilai penting, maka saat itu kamu sedang belajar keikhlasan

Ketika hatimu terluka sangat dalam, maka saat itu kamu sedang belajar memaafkan

Ketika kamu lelah dan kecewa, maka saat itu kamu sedang belajar tentang kesungguhan

Ketika kamu merasa sepi dan sendiri, maka saat itu kamu sedang belajar ketangguhan

Ketika kamu harus membayar biaya yang sebenarnya tidak perlu kamu tanggung, maka saat itu kamu sedang belajar kemurahhatian

Tetap semangat, tetap sabar, tetap tersenyum, karena kamu sedang menimba ilmu di universitas kehidupan. Tuhan menaruhmu di tempat yang sekarang bukan karena kebetulan.  Orang yang hebat tidak dihasilkan melalui kemudahan, kesenangan, dan kenyamanan. Mereka dibentuk melalui kesukaran, tantangan, dan air mata (Dahlan Iskan).

Semoga kita tetap bersemangat dan pantang menyerah untuk belajar, dan terus belajar…