Sudah lama aku tak menemuinya. Setahun pascakampus ternyata banyak mengubah segalanya. Ia yang kukenal begitu tenang. Cenderung diam, tak banyak cakap. Tapi sekalinya bersuara, kata-kata kawanku itu bagai mutiara. Sejauh yang kukenal, ia adalah pribadi yang santun dan cerdas. Hingga sebuah peristiwa mengubah jalan hidupnya…

Juni-Juli 2011

“Tahu gak dia kenapa?” selidikku

Dari satu orang ke orang yang lain, tidak ada yang pernah tahu ada apa dengan kawanku itu. Belakangan ia jadi pendiam, ditegur tak membalas, seharian mengurung diri di kamar kos. Hingga puncaknya, HP-ku berdering berkali-kali, banyak kawan yang menanyakan kabarnya. Kenapa ia tidak kuliah, kenapa penelitian skripsinya tidak dikerjakan, kenapa anu kenapa itu, kenapa ia tidak mau terbuka? kenapa anu itu ini.

Aku terpaku. Aku sungguh tidak tahu sampai sebegitu efeknya. Tapi aku juga tidak tahu apa penyebabnya.

September 2011

Kuhampiri kamarnya. MasyaAllah, ia sudah mau diajak bicara. Ragu aku menyunggingkan senyum. Kondisi membaik, ia juga sudah bisa diajak bersosialisasi, dan yang terpenting, melanjutkan kuliahnya lagi setelah dua bulan off.

Ragu aku bertanya ada apa dengannya kemarin-kemarin. Pelan-pelan, dengan nada bijak ia terangkan. Aku merespon dengan senyum getir. Klasik, tapi sangat membuatku terkejut. Namun, alhamdulillah, segala masalahnya sudah berlalu berkat dukungan keluarganya. Mungkin waktu memang menyembuhkan segalanya. Akhirnya, walau harus extend 1 semester, kuliahnya lulus juga.

Satu tahun kemudian

Juli 2012

Terakhir aku bertemu pada saat ia meminjam kebaya wisudaku semester kemarin. Aku bahkan lupa kalau ia belum mengembalikannya. Hingga bulan demi bulan berlalu, dan kabar terakhir yang kudengar kembali mengejutkan.

“Ia menghilang, sudah tiga minggu ini. Keluarganya tidak ada yang tahu kemana” kata kawan dekatnya. Aku tertegun.

“Yang kemarin itu….ng..lagi?” responku, dahiku berkerut.

“Yah…”

Aku merenung. Berkali-kali istighfar sekaligus hamdalah aku ucapkan. Ada rasa bersalah karena tak bisa membantu, ada rasa syukur karena aku masih bisa diberikan rasa tenang.

Allah yang Maha Memberikan Kekuatan. Semoga segala ujian, apapun itu bisa terlewati dengan mengingat kebesaran-Mu. Nikmatmu tak terhitung, bahkan jika pohon-pohon dijadikan pena dan lautan di dunia ini dijadikan tinta. Hidup harus berlanjut, masih banyak tantangan di muka, masih banyak yang harus disyukuri. Andai setiap kita bisa memahami hadits ini:

” Ketahuilah, sesungguhnya dalam jasad terdapat segumpal daging, apabila dia baik maka jasad tersebut akan menjadi baik, dan sebaliknya apabila dia buruk maka jasad tersebut akan menjadi buruk, Ketahuilah segumpal daging tersebut adalah “Qolbu” yaitu hati “. ( Hadis Riwayat Bukhori )

Dalam setiap perjalanan hidup kita, kita tentu menemui banyak peristiwa demi peristiwa. Semuanya membuat kita belajar. Ujian masing-masing orang berbeda. Hanya orang-orang terpilih yang mampu melewatinya. Dan hanya orang-orang hebat yang bisa memaafkan peristiwa tak menyenangkan di masa lalu.

Rasa kehilangan memang berat. Tapi toh semua yang ada di dunia ini fana. Anak dari orangtuanya adalah amanah. Pasangan hidup juga toh pada akhirnya terpisahkan oleh maut. Apa yang kita cari di dunia ini selain keridhaan Tuhan? Tidak ada.

Semuanya akan kembali ke titik nol. Ke titik nol.

Cerita demi cerita yang sampai ke telinga adalah pelajaran tersendiri, tarbiyah tak terduga dari Allah. Seringkali, kisah tentang perjalanan hidup kawan kita itu menjadi nasihat yang lebih ampuh daripada sekadar wejangan….