Satu bulan ini boleh dibilang bulan tersibuk saya menata hidup, lebih tepatnya menata jalan karir. Sangat dinamis. Saat kelelahan menghampiri, saya seringkali duduk di pinggir ranjang, mengatur nafas, dan melihat kembali gambar panah-panah di atas kertas putih yang saya tempel di dinding. Perjalanan dari Agustus hingga  hampir kembali bertemu Agustus. It’s (almost) a year, right?

Saya merasa perlahan tapi pasti usaha saya berbuah hasil, dan do’a-do’a saya didengar, walaupun tentu belum sepenuhnya tercapai. Dalam perjalanan satu tahun pascakampus, saya merasa belajar banyak hal soal profesionalisme. Banyak kesalahan yang saya lakukan, itu berarti banyak proses pembelajaran yang saya tempuh. Saya bertemu banyak orang dengan background yang berbeda-beda, saya melihat dunia luar, dunia kampus, dan well, gesekan antara idealisme dan realita.

Lelah sekali ini fisik. Ternyata menggapai cita-cita itu banyak ranjaunya. Tampaknya saya harus lebih banyak berdoa, dan tidak boleh pantang menyerah. Dunia akademik akan saya tempuh lagi. Menghadapi masa transisi ini belakangan saya jadi sering ke kampus lagi untuk mengikuti training-training mengajar. Dan merasakan kembali hawa-hawa kuliah yang semakin dekat. Tinggal 1.5 bulan saya bekerja di kantor. Setelah itu, September besok saya akan menempuh pendidikan master.

Tiba-tiba, saya hanya merasa aneh dengan diri saya, dan dengan pola hidup seperti ini. Mungkin ini yang namanya masa transisi. Semoga Allah senantiasa kuatkan.