‘Mungkin, 10 tahun yang lalu, you saw me as an unpleasant person, but now, I grow up karena beragam benturan. Saya jadi lebih tahu bagaimana bersikap toleran’

Kata-kata Bu Tomi, atasan saya yang berulang tahun kemarin, membuat saya tercenung. Kantor yang penuh dengan makanan rasanya tidak lebih membuat saya bahagia dibandingkan mendengar satu kalimat tersebut. Rasanya ada sebuah lorong waktu di depan mata, sebuah lingkaran hitam berputar-putar cepat seperti sebuah black hole. Hiruk pikuk kantor mendadak berhenti dan waktu seolah melambat. Saya kembali pada masa 10 tahun silam, 5 tahun silam, 2 tahun silam, lalu 1 tahun silam. Hal-hal kecil yang rasanya sekarang begitu besar, because sometimes you never know the true value of moment until it becomes just a memory (anonym)

Menjadi seorang pemimpin dalam satu perusahaan tentu tidak mudah. Akan ada banyak benturan yang dihadapi. Ada orang-orang yang menjunjung tinggi, ada juga yang pasti meremehkan. Ada partner yang menguatkan satu sama lain, ada pula musuh bersama yang harus dilawan. Sama seperti perjalanan hidup kita. Kita bergulat dengan waktu dan tempat, dengan beragam tipikal orang dalam rentang waktu yang (sebenarnya) begitu singkat. Tapi terkadang, di tengah perjalanan begitu banyak duri. Duri yang masuk ke dalam ujung jari. Duri yang sulit dikeluarkan, membuat kesal setengah mati. Waktu akhirnya terasa lebih lambat. Karena kita bertengkar dengan duri. Duri dalam daging sendiri.

Dunia adalah apa yang kita lihat dengan beragam persitiwanya. Saat kita terlahir ke dunia, kita menangis karena rahim ibu yang begitu nyaman mau tidak mau harus kita tinggalkan. Hangatnya sebuah ruangan kecil dengan air ketuban dan sebuah plasenta yang menjulur panjang—penghantar zat makanan bergizi—tentu enggan sekali kita tinggalkan. Sang janin adalah Ratu mungil yang berlindung di sebuah benteng pertahanan: rahim; dijaga oleh para balatentara antibodi bernama sel trofoblas. Tapi ibu tak mau kita terus menerus di sana, menjadi ratu yang dipuja dalam singgasana dan tidak pernah mau beranjak melihat dunia yang lebih luas. Akhirnya, kita dikeluarkan dari rahim, dan menangis, karena ternyata kita menghadapi dunia baru yang betul-betul berbeda.

Lalu dimulailah sebuah petualangan. Kita mengenal apa yang disebut dengan ‘bahasa’, ‘keluarga’, ‘teman-teman’, ‘sekolah’, ‘buku’, ‘cinta’, ‘kasih sayang’, ‘sedih’, dan ‘senang’. Kita tumbuh menjadi pribadi hasil persinggungan antara gen dan lingkungan. Kita kemudian menghadapi peristiwa demi peristiwa yang mungkin pada saat kecil kita sempat pertanyakan “ini apa?”, “kenapa orang-orang dewasa itu?”. Pada titik tertentu, saat kita tumbuh, kita sadar, ada satu kosakata yang belum kita masukkan dalam kotak memori kita: “ujian”

Tanpa ada ujian manusia tidak akan bertumbuh. Bisa jadi, kita yang sekarang, adalah hasil dari goncangan peristiwa demi peristiwa di masa lalu. Semakin batang usia meninggi, semakin besar ujian yang akan dihadapi. Itulah yang membedakan anak kecil dan orang dewasa, atau remaja dan orangtua. Semakin mereka menghadapi benturan demi benturan, gaya bicara, pola berpikir, kadar spontanitas, level kesabaran, akan berbeda seiring berjalannya waktu.

Sebagai conroh, saya seringkali mengamati pola asuh ibu saya terhadap anak-anaknya di rumah. Sewaktu masih tinggal di rumah, saya tidak begitu peka melihat karakter kedua orangtua saya. Namun, begitu saya ke luar dari kotak bernama ‘rumah’, dan berkuliah di Depok dengan rentang jarak ratusan kilo panjangnya, saya bisa melihat mereka secara lebih objektif.

Ibu saya adalah orang yang sangat memanjakan anak-anaknya, walaupun anak-anaknya seringkali mengeluh karena dalam beberapa kasus, kami tidak diberikan ruang untuk menumbuhkan karakter mandiri. Baru setelah lama terpisah jauh, saya memaklumi apa yang seringkali dilakukan ibu saya. Melalui cerita-cerita masa lalunya, saya belajar banyak dari beliau. Dulu ibu saya seringkali dikekang kakek (ayah beliau) karena jarang diizinkan keluar rumah jauh-jauh. Aktivitas di luar sekolah juga dibatasi. Alhasil, ibu saya jadi lebih sering belajar, membaca buku, dan bersosialisasi dengan keluarga besar dan warga kampung. Nenek saya sempat depresi berat dan berpisah ranjang dengan kakek selama beberapa bulan. Ibu yang waktu itu masih remaja adalah orang yang paling berani mendamaikan di antara tujuh anak kakek-nenek yang lain. Dari peristiwa itu ia tumbuh menjadi pribadi yang matang.

Sementara itu, nenek saya jarang menyuruh ibu saya melakukan pekerjaan rumah, seperti memasak dan mencuci. Ia lebih tidak enak hati mengganggu anaknya apabila sedang membaca buku. Akibatnya, saat ibu saya awal-awal berumah tangga, ia tidak bisa melakukan pekerjaan rumah, ia juga akan lebih menyilahkan anak-anaknya belajar daripada membantu urusan domestik, pun menyilahkan anak-anaknya aktif di luar sekolah karena dulu ia merasa tidak mendapatkan hak itu. Ia akhirnya tumbuh menjadi perempuan yang sensitif, penolong, penuh tatakrama, dan sangat peka dengan kondisi keluarga besar. Benturan-demi benturan akhirnya membuat ia melihat, merasa, dan jadilah ia yang sekarang. Waktu demi waktu berlalu, dan setiap benturan yang hadir dalam kehidupannya membuat ia tumbuh menjadi pribadi yang sangat sabar.

Kita memiliki rentetan peristiwa. Dan masing-masing peristiwa memberikan benturan yang berbeda. Apa yang kita alami di masa lalu sesungguhnya adalah apa yang sebenarnya kita butuhkan untuk masa depan. Toh hidup tidak lebih dari hubungan sebab-akibat. Tuhan memiliki cara tersendiri untuk mengarahkan hamba-Nya, mengajaknya kembali kepada fitrah manusia yang sebenar-benarnya. Saat ujian datang, hanya ada dua kemungkinan yang akan dialami oleh manusia; ia akan menjadi semakin dekat, atau semakin jauh dengan Tuhan.

Kalimat Bu Tomi di awal barangkali benar. Interaksi dengan bermacam-macam klien dari latar belakang yang berbeda memberikan benturan-benturan tersendiri. Hanya kesabaran dan pengertianlah yang bisa membuatnya mempertahankan relasi dengan klien. Ibu saya matang pun karena interaksi dan benturan-benturan dengan orang-orang di masa lalu.

Mari kita renungi kata-kata Mario Teguh berikut:

Manusia adalah makhluk yang tak kan pernah selesai kita kenal. Karena, saat kita merasa sudah mengenalnya, ada saja hal baru yang mengejutkan kita. Entah kebaikan atau keburukan, tapi akan selalu ada yang mengejutkan. Maka marilah kita bersabar dengan kesulitan orang lain untuk menjadi sebaik-baiknya kekasih atau sahabat bagi kita, karena kita juga mengharapkan mereka bersabar dengan kesulitan kita. Kesabaran dan pengertian baiklah yang memanjangkan hubungan, bukan besarnya cinta atau kepentingan. Cinta sebesar Himalaya, akan runtuh oleh kebiasaan marah tentang kerikil-kerikil kehidupan