Sejujurnya, saya paling tidak suka dengan perpisahan. Apalagi terhadap teman-teman yang pernah banyak membantu saya. Bagi saya, harmonisasi, kebersamaan, kekeluargaan, adalah semangat tersendiri bagi saya. Manusia bukanlah orang utan yang ditakdirkan untuk hidup soliter, kawin sekali, lalu pergi begitu saja, hidup menyendiri dan memiliki ikatan yang cukup satu kali untuk selamanya. Manusia butuh afeksi, butuh didengar, butuh kebersamaan. Tapi kadang saya terlalu naive. Tidak ada yang pernah abadi di dunia ini. Kebersamaan pun kadang memiliki ranjaunya sendiri: perbedaan. Itulah mengapa ada yang namanya ‘konflik’.

Ah, bukankah hidup sudah satu paket? Bukankah dalam setiap interaksi sosial kita seringkali menemui dua kutub yang bersebrangan dan tak pernah akur? Ada gunung yang tinggi menjulang, tapi ada juga dasar lautan yang gelap dan asing. Ada sedih, ada senang. Ada hitam, ada putih. Ada positif, ada negatif. Ada pertemuan, pasti ada perpisahan. Hukum alam.

‘Dee’ dalam novelnya yang berjudul Partikel menyinggung soal ini. Tidak tahu mengapa, ada satu scene yang saya suka di halaman 280.

“Sampai kapan kita terus begini? Kapan kamu bisa memaafkan ibu?” ratapnya

Tidakkah ia tahu? Di dalam hatiku, aku selalu mengajukan pertanyaan yang sama. Kapan ibu mau memaafkan aku? Memaafkan perbedaan kami?

“Zarah nggak menyalahkan ibu,” kataku akhirnya.

Ibu diam. Hanya bolak-balik mengusap air matanya.

“Salam untuk Abah dan Umi, Bu. Zarah pamit.” Aku menghampiri ibuku, mengambil punggung tangannya untuk kusentuhkan pada kening. Tahu-tahu, tanganku dibetot kencang. Ibu memelukku, menangis tersedu-sedu.

Betapa ku ingin menangis bersamanya. Betapa aku ingin menghiburnya dengan kata-kata manis dan segala ungkapan sayang. Tak ada yang keluar. Tidak ada air mata, tidak juga kata-kata. Hatiku pedih ketika sadar ucapan ibu ternyata benar. Akulah yang belum memaafkannya.

Tak ada yang menyakitkan dari kepedihan yang tak bisa ditangiskan (Dee)

Mungkin memang demikianlah manusia. Dibangun oleh dua kutub yang berseberangan. Dan berakhir dengan drama yang  menyakitkan. Kita diciptakan untuk berbeda, lalu berpisah, dan terluka (*)