-Kurnia Effendi-

Bak keinginan menyentuh permukaan air telaga atau kolam hijau yang berhiaskan teratai, ada kecemasan akan mengganggu ketenangan dan kebeningannya; demikianlah cara saya menikmati puisi-puisi Goenawan Mohamad (selanjutnya akan saya tulis GM).

Saya mengenal puisi-puisi GM secara agak saksama ketika kuliah, ketika saya terhimpun bersama kawan-kawan penggemar sastra di Grup Apresiasi Sastra ITB. Masa itu (tahun 80-an), saya sering secara sengaja atau tidak sengaja, bertemu dan berdialog dengan Arya Gunawan, Nirwan Dewanto, Acep Zamzam Noor, M. Fadjroel Rachman, dan Enin Supriyanto. Rasanya, kini, kelima teman saya itu masih berkibar namanya di antara penggiat sastra dan budaya.

Puisi Goenawan Mohamad adalah salah satu yang kerap kami perbincangkan. Bahkan, ada semacam sihir keajaiban, ketika Arya Gunawan membaca “Dingin Tak Tercatat” dalam lomba baca puisi nasional tahun  84/85, tiga juri antara lain Jacob Soemardjo dan Saini KM memberi nilai tertinggi hingga ia menggondol piala juara pertama.

Puisi “Dingin Tak Tercatat” menampilkan suasana ngungun, terpisah dari keramaian, namun terselip rasa bahagia yang menimbulkan tanya. Seolah mereka (GM dan Tuhan) sedang berdua menikmati ‘kesepian’ itu bukan dengan ‘kesedihan’. Kata “cahaya berenang” dalam puisi itu, kemudian, sungguh-sungguh kami (bersama Arya Gunawan) buktikan saat menikmati larut malam di tepi pantai Ancol. Dalam ribuan gelombang mungil sebagai anak ombak yang menepi ke pantai, pada tiap punggung dan cekungannya, terpantul cahaya yang bersumber dari lelampu gedung-gedung yang dari kejauhan seperti terletak di pinggir laut. “Itu dia cahaya yang berenang…!” seru kami takjub. Sebenarnya ketakjuban itu terbit justru karena GM mampu menuliskan pemandangan itu dalam frasa yang sederhana namun tepat.

Kemampuan seperti itu layak dipunyai oleh seorang penyair. Teman saya Tia Lesmana di Yogya, pernah menyebut sebagai “bahasa dewa” untuk kata-kata yang lahir dari seorang penyair. Di masa yang sangat lalu, pujangga umumnya adalah orang berdarah biru yang dekat dengan silsilah raja-raja (Misalnya Jayabaya dan Ronggowarsito). Dengan demikian, istilah bahasa-dewa atau bahasa-para-raja tak terlampau keliru. Sementara Joko Pinurbo menganggap pilihan kata pada puisi GM begitu mewah dan megah.

Menggunakan kata-kata ‘mewah’ atau ‘sederhana’, istilah itu mungkin semata menurut sang penafsir saja. Mari kita cermati setiap kata yang digunakan oleh GM dalam setiap puisinya. Tampaknya tidak terlalu asing (jika ‘asing’ diartikan dengan kemewahan yang mungkin jadi ‘mahal’ nilainya). Persoalannya adalah, GM memetik pelbagai idiom atau istilah yang berbeda secara kreatif. Pembaca, yang perbendaharaan bahasanya belum begitu luas, merasa harus berpikir, merasa-rasa seperti orang mencecap menu makanan baru, kemudian menelannya dengan sedikit sensasi. Apakah dengan demikian kemudian terjadi kesenjangan kimiawi antara penyair (GM) dengan kita (sebagai pembaca)?

Idiom, frasa, diksi, atau bentukan kata yang dipungut dari hamparan bahasa sendiri itu seperti mutiara yang tercuci dari lumpur. Setelah dipikir-pikir, apa anehnya? Misalnya ungkapan: kedai tukang las, sirkel api, kemah-kemah awan, cakrawala aspal, gerimis telah jadi logam, hutan besi, cahaya berenang, garis-garis suara, ornamen embun, bulan yang berlumut, derum daun-daun Ithaca, mencambukkan pijar…

Ah, alangkah banyak komposisi kata yang tak terduga (menurut saya). Yang apabila kita, bahkan tak sengaja, memungutnya, bakal segera diketahui sumbernya: GM.

Sebagai contoh, karena kata-kata itu ditemukan oleh GM, maka saat membaca ‘sirkel api’ dalam salah satu puisi Arif Bagus Prasetyo, terasa ada proses adopsi, walau mungkin tak sengaja. Kata ‘lampus’, ‘akanan’, dan ‘melankoli’, saya temukan juga dalam gugus puisi GM. Sehingga ketika bertebar pada puisi Acep Zamzam Noor (yang dimuat Kompas), seakan-akan ada pengaruh yang merasuki proses kreatif AZN. Dan pada salah satu puisi Wendoko, peserta Ubud Writers & Readers Festival (UWRF 2010), tercantum ungkapan ‘cahaya berenang’ yang diterjemahkan sebagai ‘cahaya mengapung’ dalam bahasa Inggris oleh Debra Yatim.

Saya, secara pribadi, memang seolah selalu mendapatkan pengalaman baru, sensasi baru, ketakjuban baru, setiap kali menelusuri baris-baris puisi GM. Hampir seluruh puisinya yang tak ‘berteriak’ (mungkin hanya satu-dua seperti misalnya “Gatoloco”, yang agak terasa lantang), mengandung makna tak terbatas pada yang tersurat. Lalu kami, dengan pengalaman menghayatinya, menganggap puisi-puisi GM sebagai puisi kontemplatif, puisi imajis, puisi suasana, atau juga puisi kamar. Puisi yang dibacakan dengan tenang, mungkin tak perlu panggung atau suara genderang. Saat dibaca, antara penyair dan penikmat hanya ada jarak yang intim. Mungkin boleh serupa bisik.

Namun demikian, seperti paradoks, beberapa puisi GM justru digelar dalam kemasan pertunjukan. Yang tentu membutuhkan orang banyak sebagai penonton. Salah satunya yang berjudul “Doa Persembunyian” . GM bekerjasama dengan pemusik Tony Prabowo dan pelantun lagu Ubiet.

Tuhan yang meresap di ruang kayu di greja dusun di lembah yang kosong itu, kusisipkan namamu …

“Kalau bikin puisi, kata-katanya harus monumental, agar orang selalu ingat,” demikian kata teman saya, penyair Herdi SRS. Ia pun hendak mengarah ke sana. Sejumlah besar puisinya, terutama yang berlatar mancanegara, berusaha menggapai suasana imajis. Namun tak sepenuhnya sampai. Sementara GM, belum tentu sebulan menulis satu puisi (lihat pada bukunya “Sajak-sajak Lengkap 1961-2001”). Sepertinya ia begitu sabar menanti netasnya kata-kata yang tak terduakan.

Seperti juga dalam menggarap Catatan Pinggir, GM tentu tak ingin mengulang frasa atau komposisi yang sama pada satu puisi dengan yang lainnya. Itu cukup berhasil. Namun saya temukan kata: “berlari dalam darah” pada dua buah puisi, yakni: “Di Tengah Rumah”  (sekitar 1986) dan “Di Serambi” (1979). Saya kutip masing-masing satu bait: Di dalam rumah ini kita dengarkan sebuah Bach Di ujung jalan siapa berlari dalam darah?

(Di Serambi)

Di tengah rumah kaubaca sajak Amir Hamzah Di ujung jalan Orang-orang berlari Dalam darah

(Di Tengah Rumah).

Adakah yang memengaruhi karya-karya GM, atau dengan kata lain, siapa penyair yang menjadi inspirator GM? Saya tak tahu persis. Saya hanya meraba-raba, mungkin Amir Hamzah dan Chairil Anwar. Mengapa demikian? Saya merasakan ada beberapa struktur kalimat yang beraroma sajak lama. Misalnya pada bait-bait “Surat-surat Tentang Lapar” atau “Catatan-catatan Jakarta”. Tapi itu memang puisi-puisi awal GM, dengan titimangsa 1961. Sedangkan pilihan judul yang sangat lekat dengan suasana, umumnya juga digunakan oleh Chairil. Semisal: “Cemara Menderai Sampai Jauh”, “Senja di Pelabuhan Kecil.” Untuk telaah lebih jauh, sebaiknya menjadi tugas kritikus saja, misalnya Nirwan Dewanto. Saya sampai sejauh ini sedang bahagia menjadi penikmat.

Bak keinginan menyentuh muka air telaga atau kolam hijau kebiruan yang berhiaskan kuncup-kuncup padma, muncul semacam kecemasan akan mengganggu ketenangan dan kebeningannya; demikianlah cara saya menikmati puisi-puisi Goenawan Mohamad.

Betapa tidak? Sering saya merasa berdebar saat menemukan sejumlah kecil puisi GM yang tertcantum di Jurnal Kalam, misalnya. Berdebar ingin segera membacanya, sekaligus berdebar ingin berhemat agar tak segera mengakhirinya. Saya berdebar akan menemukan idiom-idiom atau metafor-metafor baru. Dan dengan ‘kemewahan’ pilihan kata-katanya (mengutip Jokpin), puisi GM menjadi semacam sidik jari penyairnya. Sehingga ketika puisi berjudul “Mezbah” di-posting di milis Apresiasi Sastra saat hari puisi sedunia (21 Maret beberapa tahun lalu) oleh Endah Sulwesi tanpa mencantumkan nama pengarangnya, saya sempat takjub. Hebat puisi itu, seperti gaya Goenawan Mohamad, pikir saya. Dan ternyata benar.

Malam pun menemui kurban di hamparan. Cahaya warna kusta dan plaza jadi dingin, ketika Ajal memandang 

Karena sikap saya demikian terhadap puisi-puisi GM, jangan-jangan ketika menulis puisi, saya pun terpengaruh padanya. Saya katakan: tentu! Meskipun, seperti juga Herdi SRS, tak sepenuhnya berhasil. Dan memang seharusnya begitu. Karena ada yang meronta untuk menunjukkan dirinya sebagai berbeda.

Dalam hal pencapaian suasana, saya kira GM tak perlu diragukan – atau setidaknya tidak saya ragukan. Suasana juga dicapai oleh sajak-sajak Rendra di awal kepenyairannya saat jatuh cinta pada Sunarti. Juga dicapai satu dua puisi Sutardji Calzoum Bachri, misalnya pada sajak berjudul “Alina”, atau “Idul Fitri”. Dan terutama yang dicapai oleh Sapardi Djoko Damono (SDD) dalam hampir seluruh puisinya. Di satu saat, saya sempat curiga, bahwa antara GM dan SDD ada kesepakatan untuk saling memuji, saling membesarkan, melalui cara saling memberi pengantar pada buku antologi puisi mereka. Tapi itu sah-sah saja. Karena, toh secara umum, keduanya berada pada tataran yang saling menghormati.

Kembali pada suasana, makna kata di dalam puisi GM saling menguatkan kesan, dan seolah ada warna yang bermain, ada suara yang bergerak, ada suhu yang meresap, ada desir perasaan yang menggelinjang. Misalnya pada judul, “Di Kota Itu, Kata Orang, Gerimis Telah Jadi Logam”. Saya membayangkan runcing jarum air yang jatuh menusuk dari langit. Saat gerimis itu menyentuh kulit, ada suhu dingin yang kontras dengan hangat tubuh kita, menghunjam tajam serupa lidi besi…

Lalu kisah apa yang terjadi pada “Perempuan yang Dirajam Menjelang Malam”? Mungkinkah itu Maria Magdalena? Atau ketika saya membaca “Persetubuhan Kunthi”, metafor erotisme itu begitu lembut tertera:

Semakin ke tengah tubuhmu yang telanjang dan berenang pada celah teratai merah … ada lempang kayu apu yang timbul tenggelam meraih arus dan buih

Sampai badai dan gempa seperti menempuhmu dan kauteriakkan jerit yang merdu itu …

Atau pada puisi “Kwatrin tentang Sebuah Poci”, kata ‘tolol’ di sana memang harus diakui oleh semua pencinta nostalgia. Barangkali ada serumpun surat-surat lama yang begitu menghanyutkan saat kita baca: mengingatkan kembali pada cinta masa lalu. Menghidupkan kenangan, yang boleh jadi, sudah tiada lagi atau tak mungkin dipanggil kembali dalam situasi apa pun. Sama halnya ketika kita memandang secercah bintang, dengan jarak sekitar ratusan tahun cahaya. Adakah benda pemilik kerlap itu masih benar-benar bertengger di sana? Bukankah separuhnya hanya ilusi? … sesuatu yang kelak retak dan kita membikinnya abadi

Namun GM tak hanya sentimental dengan perasaan-perasaan pribadi. Saat ia mengambil materi sajak dari peristiwa politik, bersit suasana tetap hadir, bahkan ditambah dengan aroma ketegangan yang kita butuhkan. Misalkan pada “Zagreb”

… Ibu itu datang, membawa bungkusan, berisi sepotong kepala, dan berkata kepada petugas imigrasi yang memeriksanya: “Ini anakku.” … dan ia bercerita: “Tujuh tentara menyeretnya dari ranjang rumah sakit, tujuh tentara membawanya ke tepi hutan dan menyembelihnya, tujuh musuh yang membunuh sebuah kepala yang terguling dan menggelepar-gelepar dan baru berhenti, diam, setelah mulutnya yang berdarah itu menggigit segenggam pasir di sela rumputan.”

Atau pada “Misalkan Kita di Sarajevo”. :

Misalkan kita di Sarajevo; mereka akan mengetuk dengan kanon sepucuk, dan bertanya benarkah ke Sarajevo ada secelah pintu masuk.

… Tapi misalkan kita di Sarajevo: di dekat museum itu kita juga akan takzim membersihkan diri: “Biarkan aku mati dalam warna kirmizi.”

.

Atau jauh di masa lalu, GM juga berhasil memotret tak sekadar warna datar dari situasi pemilihan umum. Kita simak puisi berjudul “Tentang Seorang yang Terbunuh di Sekitar Hari Pemilihan Umum”

… Di bawah petromaks kelurahan mereka menemukan liang luka yang lebih. Bayang-bayang bergoyang sibuk dan beranda meninggalkan bisik. Orang ini tak berkartu. Ia tak bernama. Ia tak berpartai. Ia tak bertanda gambar…

Kita memang merasakan, menjelang atau sesudah revolusi, situasi politik menjelang atau ketika berlangsung Pemilu, adalah situasi yang seakan tak aman bagi semua pihak. Tak ada ukuran benar dan salah, kecuali dengan parameter kekuasaan pada saat itu. Dan kekuasaan ternyata serapuh benang basah yang harus ditegakkan.

Untuk memilih mana yang paling saya suka dari sajak-sajak GM, terlampau sulit menjawab dan menentukannya. Biarlah semua sajak GM tetap tenang serupa permukaan kolam atau telaga yang biru kehijauan. Saya belum, dan mudah-mudahan tak akan, bosan menikmatinya. Karena senantiasa ada pengalaman baru setiap kali membacanya.

Mungkin yang dapat saya katakan dan mudah-mudahan benar: puisi-puisi GM tidak labil sejak awal kepenyairan hingga yang terakhir ditulisnya. Keinginannya untuk tidak mengulang, membuatnya tetap setia pada kualitas kata yang dipilihnya. Dan karakternya tidak berubah oleh waktu atau musim tertentu, dengan kematangan yang terus terbangun melalui tahun-tahun pengalaman penciptaan.

Bak keinginan menyentuh permukaan air telaga atau kolam hijau yang berhiaskan teratai, saya dengan sendirinya hati-hati menangkap tiap tafsir yang berkelindan pada suasana perasaan saya, yang tak hendak mengganggu ketenangan dan kebeningannya; demikianlah cara saya menikmati puisi-puisi Goenawan Mohamad.

(Kurnia Effendi)

BIODATA

Kurnia Effendi lahir di Tegal, 20 Oktober 1960. Menulis cerpen dan puisi untuk publik pertama kali tahun 1978. Gemar mengikuti sayembara fiksi pada era 80-an, meraih sekitar 30 penghargaan, 8 di antaranya juara pertama.

Cerpen dan puisinya tersebar di berbagai media, dihimpun dalam banyak antologi bersama terutama pada agenda sastra nasional maupun internasional. Telah menerbitkan 12 buku, berupa antologi puisi, kumpulan cerpen, novel, kumpulan esai, dan memoar.

Pada Oktober 2010, diundang sebagai penulis untuk Ubud Writers & Readers Festival (UWRF). Sejak 1991 tinggal dan bekerja di Jakarta.