Sebetulnya ingin sekali menghancurkan tembok tinggi itu. Sekat yang membuat saya tidak bebas bergerak. Tapi toh semuanya butuh waktu. Bukan ingin menurutkan ego atau mementingkan diri sendiri, apalagi mengorbankan kepentingan bersama.

Hanya saja terkadang dalam hidup kita harus memilih untuk memberikan ruang bagi diri sendiri, alih-alih mengedepankan kepentingan banyak orang, tapi di satu sisi justru menzhalimi diri sendiri.

Terkadang kita hanya butuh ruang untuk merenung, menyepakati jalan hidup. Membuka kembali surat perjanjian yang diberikan oleh semesta. Bahwa hidup sudah digariskan sedemikian adanya. Tugas kita berusaha, memberikan yang terbaik. Menerima bukan berarti diam. ‘Move’ berarti ke atas, bukan hanya ‘shift’ yang berarti pindah, bergeser dari satu tempat ke tempat yang lain.

Saat ini saya sadar ada tembok yang belum saya hancurkan. Semoga saya tidak mencari kompensasi dengan hal-hal yang bisa merugikan. Keyakinan bahwa setelah tembok itu hancur, akan ada situasi yang lebih menyenangkan harus diazamkan kuat-kuat. Harus. Kebebasan, kebersamaan, kebahagiaan, rasa syukur, kehidupan yang lebih harmonis akan didapatkan lagi. Kuncinya adalah sabar.

Allah Maha Tahu, Ia tidak akan mengubah nasib suatu kaum sebelum kaum itu mengubah keadaan mereka sendiri. Semoga Ramadhan menjadi sebaik-baiknya waktu untuk berbenah.

4 Ramadhan, 06.12