Tulisan 3 tahun lalu🙂 Kangen suasana ini.
KEPADA PEMENANG DI PENTAS SYI’AR

Batu itu begitu beratnya. Seberat ketika kau melihat Bilal menunjuk telunjuknya untuk mengatakan kata “ahad”.

Selantang suaramu seperti Abuzar al-ghifari yang meneriakkan kebenaran di keramaian pasar.

Jauh penderitaanmu tak sebanding dengan tiga tahun pemboikotan, fitnah, dan penghinaan. Atau sejahil ketika bayi perempuan dikubur hidup-hidup tak berperikemanusiaan?

Seberat jasad syuhada itu, ketika seorang ayah menguburkan jasad anaknya, al-Banna, disaksikan para pengecut di balik terali. Atau barangkali, ratusan jiwa menangis padahal hanya nama yang tersisa…

Sungguh, lelah itu sifat sebenar2nya dakwah….

Muslim da’i: Demi satu yang disyi’arkan, Ikhwah: AHAD

KEPADA PEMENANG DI PENTAS SIYASIH

Ribuan tahun semenjak futuh sudah terlewati. Runtuh. Tinggal kita pewaris negeri, terdiam terpaku, hanya bersuara ketika sulut kontroversi

Bercak darah pada ar-royan al-liwa, dan langkah kuda-kuda gagah yang memercik api, akankah menjadi sebuah romantisme yang terlupakan?

Tinggal kini kita berdo’a, dan bergeraklah, naik kekuasaanmu atau naik harkat martabatmu di depan orang-orang yang melecehkan idealisme dan kejayaanmu di masa lalu.

Muslim negarawan: Untuk satu yang diperjuangkan, Ikhwah: AHAD

KEPADA PEMENANG DI PENTAS ‘ILMY

Arang ini hitam, tinta para ‘alim ulama ketika menulis mahakarya di balik penjara. Siapakah yang berani mengaku da’i jika jatuh hanya karena sentilan orang-orang tak berakal?

Peradaban kita adalah peradaban agung, berilmu dan beradab. Peradaban yang terlukis di kanvas sejarah umat manusia..

Hilang jati diri kau mereka rampas dengan budaya tak beradab. Begitu halus mereka semai benih-benih kehancuran tokoh cerdas cendekia.

Muslim cendekiawan: hanya satu yang diperjuangkan, Ikhwah : AHAD

KEPADA PEMENANG DI PENTAS TARBAWI/NUKHBAWI

Hanya kelompok kecil saat rasulullah membina, tapi komitmen mereka dan kecintaan mereka terhadap dakwah mengantarkan mereka pada kemenangan…

Tidak sebatas menebarkan aroma perang karena sungguh kita ada untuk mengusung peradaban berkeimanan

Ribuan musuh pada perang Badar tak berarti
tapi satu kelompok kecil saja akan menegakkan kembali tiang negara yang berderak dari hari ke hari…
Ada harapan yang kau tanam pada (calon) kader dakwah. Pengusung kebenaran. Harokatunnukhbawiyah…

Muslim murobbi: perjuangan kita TAK KENAL HENTI!!!!

wallahu’alam

Depok, 16 Mei 2009
setelah kumpul2..:)🙂🙂