Lagi iseng buka-buka notes FB yang sudah lama ditinggalkan, tetiba mata tertumbuk pada note ini lagi. I Just wanna smile. Pada akhirnya semuanya berlalu. Memang, kesabaran itu gak pernah ada batasnya😉

 

Adalah musim ke musim yang membuat bola mata itu tabah

Saat kau lipat uji seperti melipat kerah kemejaku

Pada episode yang telah lampau, kita pernah saling bertanya:

“apakah waktu akan memulangkannya sia-sia?”

Rasa-rasanya, waktu bergulir begitu cepat. Tapi dalam beberapa kasus, ia bisa menjadi dua atau tiga kali lebih lambat. Sebagaimana maut, sebagaimana pula ujian, tak ada yang tahu kapan datang. Ia tak mengetuk pintu dahulu, apalagi sampai mengucap salam. Ia datang berjingkat di belakang. Tak bisa ditebak kapan menerkam. Sebagaimana ‘sabar’, sebagaimana pula ujian, ia yang mengangkat manusia pada tingkat kemuliaan. Ia yang bisa menerima; sebesar-besar penerimaan.

Menghitung hari, berharap satu per satu keinginan tercapai tentu sangat melelahkan. Siapa juga yang tahan dengan lelahnya hati, saat menerima ujian bertubi? Hingga pada akhirnya, semua yang sudah terlanjur terjadi membuat kita sadar, bahwa hanyalah Tuhan sebaik-baik tempat kembali. Memaafkan itu tentu sulit, dan kesabaran terbesar, sabda Rasul, adalah saat kita berinteraksi dengan orang lain. Rasa kesal, penyesalan, rasa bersalah, dendam, benci, semua bertumpuk membuat hati menjadi begitu kerdil. Kita terlalu sibuk mengurusi keburukan orang lain, tapi tak mau mengevaluasi diri: apa yang salah? Mengapa keadaan ini membuat batin tidak tenang? Kenapa hari-hari selalu diisi dengan keluhan? Mengapa kejadian buruk itu berulang? Dan seterusnya, dan seterusnya.

Pada titik tertentu, saat kita masuk kamar dan menghadap cermin. Kita melihat diri kita dalam bentuk yang utuh. Nampak tak terjadi apa-apa. Sungguh. Tapi siapa yang mengira, di seberang sana, pada dimensi yang berbeda, kita berbicara, ‘betapa bodohnya dulu saya, di waktu dan ruang yang berbeda, saya melakukan ini, melakukan itu, lalu ini, kemudian itu’  terus menerus mengutuk tanpa henti. Sementara orang-orang di luar sana tidak peduli. Mereka tetap bekerja, mencari uang, lalu belajar, mencari ilmu. Kehidupan berjalan begitu normal. Dan dunia terkeruh, sebenarnya, ada dalam diri kita sendiri, kita yang menciptakannya sendiri, ruang negatif kita sendiri.

Jikalah selepas shalat kita selalu memohon kepada Allah, ‘jadikanlah Hamba pribadi yang sabar’, Allah pasti akan memberikan kita ujian. Sabar tidak semata-mata turun dari langit. Ia ada, justru karena ujian. Tuhan tentu tidak sembarangan melemparkan koin atau menaruh kita dalam perputaran waktu. Kemudian kita tersuruk-suruk menahan sakit yang luar biasa, tanpa ada sebab dan akibat yang bisa menjadikan pribadi kita menjadi lebih matang. Ujian ada untuk lebih mendekatkan. Ia akan selalu menyerang titik terlemah kita, sampai kita betul-betul menjadi kuat.

Maka bersabarlah. Bersabarlah, Kawan. Seperti kukuhnya gunung yang menjadi pasak-pasak bumi. Ia yang tak menjadikan tanah ini bergoyang dan tetap stabil menopang. Maka bersabarlah. Sebagaimana karang di lautan. Ia yang tak hancur dilumat ganasnya ombak dan tetap gagah mendiami lautan. Maka bersabarlah, sebagaimana waktu mempertemukan kita dengan ujian demi ujian, orang per orang, dari latar belakang yang berbeda, dan masalah yang tidak sama. Sabar, kata pepatah arab, siapa yang bersabar, ia akan beruntung. Siapa yang bersabar, ia akan beruntung. Siapa yang bersbar, ia akan, beruntung. Man Shabara Zhafira…

Wallahu’alam

 

20 Maret, pukul 21.50