Bulan ini sejujurnya saya sangat tegang. Tegang karena akhirnya keputusan untuk kuliah S2 di UI di tahun kedua pascakampus kejadian juga. Hehe. Tegang karena bulan ini, tepatnya setelah lebaran, saya resmi meninggalkan kantor konsultan yang sudah memberikan saya penghidupan (ce ileh). Tegang karena mulai bulan depan saya akan mengajar PDPT Bahasa Inggris di kampus. Tegang karena bulan ini bulan transisi, bulan yang membuat saya banyak berpikir, bulan untuk kembali melihat resolusi awal tahun. Bahkan bulan lalu tiba-tiba kepikiran buat beli kertas warna-warni, karton, spidol, search gambar orang-orang besar, gunting sana gunting sini, dan tertempellah sebuah tulisan di kamar:

Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, sampai kaum tersebut berusaha mengubah nasibnya sendiri

Ayat ini adalah ayat super yang membuat saya selalu semangat ketika ingin mengejar mimpi. Bahwasanya doa saja tidak cukup. Semua harus juga didukung dengan usaha. Faidza ‘azamta fatawakkal ‘alallah.

Saya ingat sekali, pada 12 Juni 2012, saya datang ke Bank Syari’ah Mandiri di FMIPA untuk setor uang 16 juta ke UI, nominal bayar DP dan semester 1 untuk S2. Sepanjang jalan, saya mikir gini, “Aduh, demi apapun, seumur-umur baru kali ini gue mikirin duit sebegininya. Gimana entar kuliah adik-adik gue,  si Nini di ITB, si Ndan di UIN. Beasiswa, mana beasiswa? Ini beneran gue mau kuliah lagi nih? Gak mau cari pengalaman kerja di tempat lain dulu, beneran gak jadi ambil kerjaan di bidang media? beneran mau jadi dosen? Beneran balik lagi ke dunia kampus? Beneran mau kuliah di dalam negeri?” Rasa-rasanya waktu itu pengen banget teriak di bikun, hahaha. Amplop yang berisi uang itu saya elus-elus dulu bahkan, sambil sekali lagi meyakinkan diri, “Ini investasi dunia akhirat. Bakti sama orangtua. Ridha Allah ridha orangtua juga. Gak usah berdebat lagi sama mereka. Ini win-win solution. Mereka yang ingin gue kuliah tinggi secepat ini. Yeah, bismillah”

Dan akhirnya, uang itu pun disetor juga. Saya pasrah. Pasrah dengan suara printer bank yang mencetak nominal uang di buku rekening saya. Haha. Pasrah begitu mendapati tabungan saya jebol (ceritanya pete-pete sama orangtua setengahnya). Pasrah gak jadi liburan ke Singapur atau Bangkok. Pasrah gak jadi kuliah di luar negeri buat tahun depan. Kalau kerja dulu kan, saya bisa sekalian plan ke luar. Haha. Pasrah sama satu dua kemudian tiga, lalu belasan hingga ratusan orang yang mempertanyakan, “Lo, Alfi, beneran ambil linguistik dan di dalam negeri?”. LINGUISTIK dan di DALAM NEGERI? Seumur hidup, gak pernah kebayang mau ambil jurusan itu, dan di UI lagi. Entah berapa orang yang bertanya kepada saya pertanyaan sejenis, dan cuma saya jawab, “Hehe, banyak pertimbangan”. Tahukah engkau apa yang sesungguhnya terjadi pada saya selama satu tahun ini, hingga akhirnya mengantarkan saya pada pilihan tersebut? Emang apaan? Haha (saya pernah tulis beberapa tulisan di blog beberapa waktu lalu, silahkan buat sintesis sendiri, haha).

Alhamdulillah, intinya, Allah adalah sebaik-baik pembimbing hati dan pemberi petunjuk. Selama satu tahun ini, saya terlalu sering amazed dengan cara Allah mengarahkan hidup saya. Banyak hal yang terjadi; banyak rasa banyak warna. Dari mulai kecewa, perasaan bersalah, malu, lucu, sakit, senang, tragis, dramatis, haha, bingung, tegang, resah, galau, gak tahu harus berbuat apa, kehilangan pegangan, kembali ke Tuhan, bahagia, ceria, rasa syukur yang sungguh sangat sulit diungkapkan dengan kata! Semua benturan yang pada akhirnya membuat saya berazam, “OK, CUKUP SAMPAI DI SINI, GUE HARUS JADI ORANG YANG SUKSES DUNIA AKHIRAT. MUDA BERKARYA, TUA KAYA RAYA, MATI MASUK SURGA, YEAH!” Hahaha.

There is no growth in comfort zone and there is no comfort in a growth zone. I must leave my comfort zone to grow (Muhammad Assad, Notes from Qatar)

Dan pada akhirnya, bulan Agustus menjadi bulan transisi saya. Ini akan menjadi awal untuk membuktikan bahwa kuliah S2 saya lebih baik dari kuliah S1, bahwa saya bisa melewati tantangan demi tantangan yang ada dalam dunia akademik dan karir. Hehehe. Bismillah, mari namakan tahun ini sebagai “tahun pembuktian”

15 Agustus 2012

Masih mencari, kali aja ada beasiswa, kabar-kabari yah, haha. Kemarin yang dari Dikti ketinggalan, gak ngeuh ama deadline nih, Guys TT