Ibu (tengah), di antara warga Kampung Kusta Sitanala, saat ikut saya dan teman-teman Nalacity dalam donasi parsel

Baru-baru ini saya merasa berkewajiban untuk menulis tentang riwayat ibu saya. Entah mengapa, mendekati bulan Ramadhan, jika sedang ingat ibu, saya seringkali menangis. Menangis karena ingat kata-katanya yang sejuk, menangis karena ternyata ia adalah orang yang paling mendengarkan saya ketika rasa kesal, marah, dan jengah menghampiri, menangis karena ia adalah sosok yang paling sering memaafkan sebesar-besarnya kesalahan saya, menangis karena pendidikan akhlaq yang ditanamkannya sejak kecil sungguh terasa hingga gini. Saya sungguh ingin mengabadikan hal-hal yang dilakukan ibu saya, biar saya selalu ingat pesan-pesannya, biar cucu-cucunya nanti tahu, mereka punya nenek hebat seperti ibu…

Penolong, Karakter Kuat Ibu

Ibu saya, saya memanggilnya ‘ummi’, lahir di Kota Serang, di sebuah kampung bernama Sumur Pecung. Kampung tersebut saat ini terletak di pinggir jalan protokol kota Serang. Letak kampungnya di dalam kota, jadi karakter ibu saya adalah persinggungan antara kota dan desa. Ummi adalah anak keempat dari tujuh bersaudara. Kakek adalah orang terpandang di kampung, satu-satunya yang memiliki listrik di rumah pada zamannya. Keluarga kakek adalah para pedagang dan dikenal sebagai figur yang banyak membantu warga kampung dan mendonasikan hartanya untuk fasilitas umum di kampung, terutama tempat beribadah.

Walaupun berasal dari keluarga berada, nenek mendidik ummi dengan sangat sederhana, apalagi kakek dikenal sebagai orang yang lebih banyak berinvestasi alih-alih membelanjakan hartanya sekali habis. Ummi sering makan dengan satu telor asin yang dibagi untuk enam saudara lainnya, ummi juga lebih sering bermain dengan anak kampung yang kelas ekonominya di bawah. Ummi tumbuh menjadi pribadi yang sangat peka dengan lingkungan sosial. Dia tak segan-segan membantu keluarga besar yang membutuhkan pertolongan. Dulu, kadang gaji ummi habis karena dipakai untuk sedekah saudara-saudaranya yang yatim.

Ayah, saya memanggilnya ‘abah’, seringkali protes dengan sikap ummi yang terlalu ringan tangan, dan sebentar-sebentar menangis kalau ada anggota keluarga, tetangga, atau orang tak dikenal yang kekurangan.  Ummi suka bilang pada abah dan saya kalau kita harus menolong orang lain sesulit apapun, karena selain dapat kebahagiaan batin, timbal baliknya akan terasa nanti, saat menghadapi masyarakat yang lebih luas. Apalagi keluarga kami lebih berada dibandingkan saudara-saudara yang lain. Memberi adalah tandanya bersyukur. Di situlah ada keberkahan, kata ibu. Karakter penolong yang kuat pada diri ummi sering menjadi obrolan saya dan abah di sela-sela santai. Abah rupanya sangat terkesan dan berharap anak-anak meniru perilakunya. Semoga Allah memuliakan kedudukanmu, Ummi, di dunia dan akhirat.

Kecintaan pada Ilmu

Kata nenek, saya memanggilnya ‘ibu’, ummi adalah anak yang paling cinta dengan ilmu. Ummi senang membaca buku dan sangat gigih dalam belajar. Makanya, dulu ummi sempat keukeuh ingin kuliah S1 di IAIN Banten 4 tahun (sarjana muda) dan Bandung 2 tahun (sarjana lengkap) jurusan syari’at dikala teman-teman kampungnya enggan meneruskan sekolah. Sejak sekolah, ummi adalah siswi teladan dan selalu mendapatkan 3 besar. Ia juga aktif di organisasi HMI, menyiarkan dakwah dan sudah dipercaya oleh ibu-ibu kampung untuk menjadi imam shalat sejak SMP.

Kakak ummi yang pertama lulus kuliah S1, yang kedua hanya tamatan SMA, yang ketiga tamatan SD, yang keenam, dan ketujuh tamatan SMA. Adik perempuan ummi, yang kelima, disemangati ummi untuk terus sekolah, jadilah ia mengikuti jejak ummi juga. Sebagai perempuan, saya melihat ummi orang yang berani untuk maju. Waktu kecil dulu, ummi bilang, kakek mendidik ummi dengan keras. Kakek adalah orang yang sangat protektif, makanya beliau jarang mengizinkan ummi beraktualisasi di luar sekolah, ikut ekskul dan studi di sekolah umum favorit. Kakek minta ummi memperdalam ilmu agama saja, makanya, SMP dan SMA ummi habiskan di Madrasah Negeri, setelah menangis-nangis karena tidak diizinkan sekolah di SMA 1 Serang, SMA saya dulu. Walaupun dulu kesal, tapi sekarang ummi bersyukur karena mendapatkan ilmu yang tidak ternilai.

Ummi juga senang mengoleksi majalah, terutama “Panji Mas”. Kecintaannya pada membaca diturunkan ke saya. Dari kecil ummi senang membelikan anak-anaknya tabloid, majalah, dan buku. Saking senangnya dengan buku, sejak kecil ummi berharap mendapatkan suami seorang penulis dan kolektor buku. Alhamdulillah, cita-cita tersebut tercapai, hehehe. Ummi mendapatkan abah, seorang guru besar tafsir. Di awal rumah tangga, ummi sempat berkemauan keras untuk studi S2 di Jogjakarta, karena abah belum bisa urus anak yang masih kecil, ummi mengurungkan niatnya, padahal kata abah, ummi memiliki potensi untuk sekolah setinggi mungkin. Ini menjadi salah satu alasan kenapa saya ingin sekolah lagi, demi mewujudkan keinginan ibu yang belum tuntas. Haha.

Nenek, walaupun hanya sekolah sampai kelas dua SD, adalah orang yang cerdas. Kata ‘ummi’, nenek penghafal qur’an yang baik. Keteladanan nenek sangat membentuk kepribadian ummi yang senang mengaji, menghafal, dan mengajarkan qur’an. Waktu kuliah dulu, ummi sempat mengajar privat mengaji untuk anak-anak Bu Johar, seorang istri dokter. Bu Johar mendapat penghargaan sebagai ibu teladan se-Jawa Barat. Bu Johar orang yang sangat hemat, disiplin, sekaligus dermawan. Dulu Bu Johar pernah sakit keras dan dirawat di rumah sakit, ummi yang menjaga dan merawatnya. Karakter ummi, yang kata Bu Johar “terlalu baik” dan memberikan kesan tersendiri, membuat Bapak dan Ibu Johar menghadiahkan tanah yang sekarang jadi rumah keluarga kami hingga kini. Dulu, saya  juga sering dikasih coklat tobleron setiap berkunjung ke rumah kakek dan nenek Johar.

Bu Johar sering bilang pada ummi bahwa ia ingin anak-anaknya maju secara akademis dan spiritual. Input ini membuat ummi semangat untuk belajar lebih giat, dan berjanji mendidik anak-anaknya seperti anak Bu Johar kelak. Sekarang anak-anak Bu Johar sudah besar dan sukses-sukses. Ibu dan Bapak Johar sudah berpulang. Semoga Allah memberikan mereka tempat terbaik.

Penyabar

Ummi orang yang jarang marah, kecuali kalau kebandelan anak-anaknya sudah mencapai tingkat dewa, hehe. Waktu kecil, saya dan adik-adik saya suka kesal kalau bertamu ke rumah orang terlalu lama. Kadang adik-adik saya suka memukul dan menendang ummi (duh parah banget yah jaman TK), tapi ummi tak pernah marah. Sebaliknya, ia selalu mendoakan anak-anaknya biar jadi anak shaleh.

Kesabaran ummi juga terlihat ketika abah sudah mapan dan terjun dalam dunia politik kampus. Dinamika politik di rektorat IAIN Serang yang pelik membuat saya berkesimpulan bahwa “orang besar itu bisa menjadi besar karena istri yang besar”. Maksudnya, di balik lelaki hebat, selalu ada perempuan yang hebat. Segala ujian ketika terjun dalam politik kampus selalu bisa dikendalikan ummi dengan baik. Misalnya, saat seorang lelaki kehilangan power, dukungan sang istri sangat penting untuk membangkitkan semangat yang mati. Saat berbagai fitnah, cacian, dan apapun ujian yang datang, baik berupa tahta, harta, wanita, ibu adalah the best savior seorang ayah.

Da’i yang Berani

Dibalik sifat sabarnya, ada beberapa hal yang membuat ummi susah buat sabar, haha. Pertama, saat liat perempuan dan lelaki yang pacaran di stadion belakang rumah. Ummi sering bilang sama abah kalau sedang naik motor atau mobil malam-malam, “Bah, sorot tuh pake lampu, biar jera!” kalau sudah begitu, ummi akan membuka kaca mobil dan berteriak, “Neng, pulang, kasian itu orangtua. Apalagi neng berkerudung, hayo hayo…jangan rusak citra Islam, neng”.

Saya seringkali amazed dengan cara ibu, mau pagi, siang malam kek. Kalau ada yang pacaran, ummi tidak segan-segan menegur. Itulah mengapa ketiga anak ummi diwanti-wanti untuk tidak pacaran. Langsung nikah lebih berkah katanya. Haha.

Kedua, kalau liat shaf shalat di mesjid bolong-bolong, ummi sering berdiri dan bilang pada jama’ah saat semua terdiam. “Ibu-ibu ayo isi”, lalu ummi keliling dan menegur jika masih ada shaf yang bolong-bolong. Belum pernah ada sosok ibu yang seberani ummi di depan umum begini, hehe.

Pendengar dan Penerima Kritik yang Baik

Ummi juga pendengar yang baik, sekaligus pemberi nasihat terbaik. Ia orang yang senang bercerita, kadang suka buat heboh, hehe, tapi dibalik keceriaannya, kesabarannya tidak berbatas. Ia tidak suka menyela orang ketika bicara. Sebawel apapun saya, sebanyak apapun komentar saya terhadap satu hal, ia selalu mendengarkan. Jika saya salah, ia mengingatkan dengan tanpa menggurui. Di sekolah, selain mengajar aqidah akhlak, ummi juga mengurusi BK (bimbingan konseling). Beragam permasalahan muridnya ditangani dengan baik. Kata murid-murid ummi, ummi termasuk guru favorit dan baiknya minta ampun. Waktu nenek dan kakek hampir cerai dan berpisah ranjang enam tahun pun, ummi jadi satu-satunya anak yang berhasil mendamaikan mereka.

Ummi juga orang yang sangat terbuka menerima kritik. Kalau dikritik pedas oleh ayah sekalipun, ummi selalu bilang dengan nada keibuannya, “Oh yah, maaf abah, itu pelajaran buat ummi. Lain kali ummi gak gitu lagi yah”. Kalau ummi sudah bilang begitu, biasanya abah yang jadi tak enak hati, hehe. Ummi bukan orang yang suka komentar keburukan orang lain. Alhamdulillah, untuk hal ini saya sangat belajar banyak. Ummi pernah bilang pada saya, setiap orang punya sisi positif, bertemanlah dengan siapapun. Kalau ada hal-hal yang tidak suka, sampaikan dengan santun, jangan suka ghibah. Ummi bilang, ia tidak ingin pernah punya musuh dan memusuhi. Tetangga bilang, ummi itu awet muda. Waktu ditanya rahasianya apa, ummi bilang, “jangan dendam sama orang”. Sekarang usia ummi 53 tahun, semoga ummi selalu diberikan panjang umur.

Cinta Keindahan

Ummi orang yang rapi dan memiliki selera berpakaian yang baik, hehe. Kata ummi, jadi orang Islam harus rapi dan fashionable, haha, karena dari pakaian pun kita sedang berdakwah. Waktu sekolah dulu, saya anak yang cuek dengan pakaian. Ummi tidak habis-habisnya menasihati saya biar lebih rapi. Kalau menengok kamar kosan saya saat awal-awal kuliah, ia pasti akan merombak ulang kamar, menyapu, mengepel, merapikan buku-buku seorang diri, membuat saya jadi tak enak hati, karena standar rapi saya dan ibu saya beda, haha. Sejak itulah saya jadi peka dengan kebersihan lingkungan, dan suka kesal lihat ruangan yang (agak) berantakan. Lama-lama saya jadi ikut standar rapinya ummi. Walaupun sifat pelupa saya agak susah juga yah diobatin, haha. Ngomong-ngomong abah lebih perfeksionis dibandingkan ummi. Nah lo.

Perempuan yang Ceria

Ummi orang yang senang bercerita. Ia seringkali memecahkan kekakuan dalam keluarga besar. Hobi ummi itu foto para ponakan yang kecil-kecil. Keluarga besar sudah mencatat kehebohan ummi kalau lagi kumpul dengan keluarga besar, haha. Ummi paling peka dengan anak-anak yatim, dan sangat memberikan perhatian yang besar pada mereka.

Setiap ada kawan-kawan saya yang datang ke rumah, ummi juga termasuk orang yang welcome dan mudah akrab dengan orang baru. Dulu teman-teman SMP yang datang ke rumah saya bilang, “belum pernah bertamu dan dijamu sebaik itu dengan ibu yang sewelcome itu”. Alhamdulillah, semoga Allah melimpahkan keberkahan usia untuk ummi.

Banyak sekali poin-poin tentang ummi yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu. Lembaran ini tentu tidak cukup untuk membalas kebaikan dan nilai-nilai positif yang ummi tanamkan pada saya dan adik-adik saya. Walaupun dalam perjalanan hidup ini saya banyak sekali ‘beloknya’, tapi ummi tidak pernah mengutuk-ngutuk kesalahan saya. Kesalahan saya terhadap beliau begitu menggunung, sangat menggunung, tapi ummi selalu memaklumi dan memberikan nasihat terbaik.

Saya menulis ini untuk pelajaran saya sendiri, bahwa menjadi ibu itu tidak mudah dan membutuhkan proses yang panjang untuk menjadi sehebat-hebatnya ibu. Saya merasa masih begitu jauh untuk meneladani sifat positif ibu saya, terlepas dari berbagai kekurangannya sebagai seorang manusia.

Tulisan ini adalah bekal bagi saya untuk menjadi ibu bagi anak-anak kelak. Hadiah yang sangat kecil bagi kebesaran jiwa, kebeningan hati, kekuatan dan ketulusan yang tiada bandingannya, yang dimiliki oleh seorang ibu. Itulah mengapa Rasul menyebut kata ‘ibu’ tiga kali, saat seorang sahabat bertanya siapa orang yang wajib kita hormati…

Saya yakin, teman-teman memiliki ibu yang juga hebat, dengan cerita-cerita yang barangkali lebih mengagumkan. Hadiahkanlah tulisan terindah untuk ibu kalian…