Mestakung atau Semesta Mendukung, kata Yohanes Surya. Alam berkonspirasi, kata Paulo Coelho. Positive thinking, kata para trainer dalam buku-buku motivasinya. Jauh sebelum wacana-wacana tersebut lahir, sebetulnya al-Quran sudah lebih dulu mengatakan bahwa Allah sesuai dengan prasangkaan hamba-Nya, bahwa cita-cita, keinginan, dan do’a-do’a kita akan dikabulkan manakala kita yakin dengan janji Allah. Kita sebut sikap ini dengan ‘husnuzhan’.

Aku sesuai prasangka hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku akan bersamanya selama ia mengingat-Ku (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Seringkali, dalam hidup ini, kita disibukkan dengan keluhan demi keluhan, baik karena waktu yang sempit, rizki yang tidak lancar, pekerjaan yang tidak kunjung datang, bahkan jodoh yang sulit sekali dicari. Kita terlalu sibuk dengan ketidakyakinan, ketakutan, serta kekhawatiran akan tidak dikabulkannya do’a-do’a kita. Lantas ketika semua usaha telah dilakukan, ketika keringat dan air mata telah kering, ketika kita merasa sendiri, kita berhenti, mengutuki nasib dan menyalahkan takdir. Hingga pada akhirnya, kita berhenti berdo’a karena merasa segala usaha kita sia-sia. Apa yang keluar dari dalam diri kita melulu sesuatu yang negatif.

Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir (Yusuf: 87).

Saya sendiri pernah, bahkan, sering mengalaminya, terutama ketika menghadapi dunia yang berbeda dari biasanya. Semakin batang usia meninggi, semakin kompleks tantangan yang harus dilalui. Pada titik inilah ‘prasangka’ kita, sebagai manusia, diuji. Apakah kita yakin bisa melewati itu semua, atau kita hanya menjadi manusia berotak kerdil, yang tak pernah mau berpikir, yang hatinya bahkan teralingi dari melihat hikmah dibalik setiap peristiwa. Kita melulu menganggap peristiwa yang terjadi dalam hidup kita itu buruk. Kita menyerah saat mimpi kita hanya tinggal selangkah, saat tidak lagi tahu harus berbuat apa.

Semua itu mengungkapkan kebingungan mematikan, yang tiada ketenangan dan kedamaian di dalamnya. Mengungkapkan keadaan jenuh yang telah mencapai titik terendah. Dijadikan dunia ini indah bagi mereka, lalu mereka berhenti pada batasnya, terantuk, tak mampu melampauinya, tak kuasa menembusnya (Sayyid Quthb)

Manusia akan terus bertumbuh, mengalami fase yang berbeda, serta lingkungan yang tidak sama. Kita mengalami benturan yang, katanya, maha dahsyat, tapi lupa bahwa ada yang lebih ‘Maha’ dari itu. Lalu kita merasa Tuhan tidak adil, memberikan sesuatu yang buruk, tidak mengabulkan do’a kita, serta label-label lainnya. Apakah permasalahan selesai sampai di sana? Tidak. Ia bisa menjadi lebih buruk lagi.

Pernahkan suatu hari dalam hidup kita, kita mengalami kebahagiaan yang tidak direncanakan? Lalu kita bingung mengapa peristiwa itu terjadi? Sadarkan bahwa peristiwa itu sebenarnya adalah cara Allah memperkenalkan diri-Nya? Ia hadir tanpa kita minta, di tengah lautan nikmat, dan amalan kita yang hanya setitik debu. Ia selalu hadir, tapi pandangan manusia begitu terbatas.

Keyakinan pada keberadaan Tuhan dan prasangka baiklah yang akan menyelamatkan kita dari keluhan demi keluhan. Saat kita mengejar cita-cita dan terantuk di tengah jalan dan menyerah, sesungguhnya kita sudah lebih dahulu berprasangka negatif. Saat kita mengalami peristiwa yang dirasa tak adil, dan melulu mempertanyakan mengapa itu semua terjadi, sesungguhnya secara tidak langsung kita sudah memberikan jarak pada Sang Maha Mengatur.

Jika ia mendekat kepada-Ku satu jengkal maka Aku akan mendekat kepada-Nya satu hasta, jika ia mendekat kepada-Ku satu hasta maka Aku akan mendekat kepadanya satu depa, dan jika ia mendatangi-Ku dengan berjalan maka Aku akan mendatanginya dengan berlari (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Skenario Allah begitu cantik untuk dijangkau oleh pengetahuan manusia yang sangat terbatas. Apa yang terjadi dalam hidup kita bisa jadi hanya akan menyisakan senyuman kecil di masa depan, serta rasa syukur yang tidak ternilai. Saya rasa, setiap kita pernah mengalaminya. Bukankah hidup tidak lebih dari hukum sebab-akibat?

Prasangka baik kepada Allah adalah kunci kesuksesan. Ia yang melahirkan kesabaran dalam penantian yang panjang, ia yang mengamini mimpi-mimpi kita saat kita berdo’a, ia yang menggerakkan laku kita saat kesempatan terbuka, dan ia yang menjadikan kita pribadi yang senantiasa optimis. Tantangan demi tantangan yang ada akan bisa dilalui dengan keyakinan yang penuh pada Sang Maha Pembuka Jalan (*)

Wallahu’alam