Tulisan, 4 tahun yang lalu, 13 Januari 2009, dengan sedikit pengeditan

O, why is everything so confusing

May be I’m just out of my mind

Take me by the hand, take me somewhere new

(Avril Lavigne, “I’m with you”)
Adakalanya kita merasa begitu jenuh, Kawan. Sangat jenuh. Apalagi ketika kita berada dalam barisan yang menuntut pembuktian dan melahirkan energi perngorbanan. Kita merasa sendirian. Tak ada teman. Bisa jadi, ketika kita mengawali pengorbanan itu, kita merasa begitu bersemangat, sampai-sampai semua agenda lain kita taruh paling belakang, tapi begitu kita mencoba menikmati proses, menaiki anak tangga satu persatu, lalu bertemu dengan onak dan duri di perjalanan, kita merasa betapa lamanya sampai ke puncak. Bahkan terkadang, kita merasa pengorbanan itu tak berujung. Kita merasa dipermainkan. Semuanya jadi serba tidak terencana. Melelahkan. Jenuh. Jenuh. Jenuh. Sulit. Sulit. Taat. Kapan semua itu akan berakhir?

Hari-hari hanya diisi dengan keluhan. Tentang waktu yang terasa begitu sedikit. Tentang orangtua yang marah karena pulang terlalu malam. Tentang pekerjaan yang menumpuk. Tentang orang-orang yang membuat kita sakit hati. Tentang ejekan kawan-kawan karena telat mengumpulkan makalah, atau mungkin, tentang nilai yang dari semester ke semester selalu terjun bebas. Jenak-jenak putus asa hinggap. Ia seperti kunang-kunang yang berterbangan di kepala ketika tidur. Hingga suatu hari, beberapa berguguran, pergi, jauh sejauh-jauhnya, ikatan ukhuwah pudar, mereka memilih menjadi orang yang berbaring dalam zona kenyamanan. Zona kenyamanan..

Adalah tiga orang perempuan waktu itu mengobrol di selasar mesjid.

“Aku pernah mikir mau berenti aja. Capek” kata seorang perempuan berkerudung biru

“Iyah, kayaknya asik liat temen2 yang begitu. Kuliah, terus pulang. Belajar fokus. Kayaknya gak mikirin apa-apa” tambah satunya yang berkerudung coklat tua.

“Yah sih, gue juga pernah mikir begitu. Kerjaan satu belum selesai, ada lagi kerjaan lain” ujar seorang perempuan berkerudung putih. Ia membuang jauh pandangannya ke jalan komplek, lalu menghela nafas berat.

“Mmm…betul tapi…” tiba-tiba seorang perempuan yang paling tua di antara mereka datang, masuk ke dalam lingkaran, “Mungkin selama ini, kita terlalu banyak menuntut, tapi jarang sekali memberi. Makanya kita jenuh. Sulit sulit ikhlas…” lanjutnya lalu mulai memberikan sebuah materi yang menyejukkan.

Ketiga akhwat yang mengeluh tadi saling pandang. Perempuan yang setiap pekan bertemu dengan mereka itu menyentil kesadarannya. Ada yang perlu di-rewind dalam otak mereka. Tentang niat, tentang meluruskan niat. Untuk apa dan siapa mereka MEMBERI.

Terkadang, pikiran semacam itu selalu mewarnai hari-hari kita saat sedang berusaha menikmati proses yang melelahkan. Kadangkala, kita harus mengorbankan waktu istirahat dengan rapat, adakalanya, kita harus pulang malam, menyusun strategi ini itu. Adakalanya kita harus bekerja untuk mencari uang, hingga lupa makan dan minum, bahkan lupa dengan ibadah harian.

Tapi…..

Inilah “ukhuwah”. Kata itu adalah satu kata yang menguatkan. Kata itu adalah satu makna yang mengingatkan. Kata itu adalah satu materi yang membuat kita tak pernah merasa kelelahan. Ketika ada yang lalai dengan ibadah yaumiyah, maka ada kawan-kawan yang selalu menjadi charger. Ketika ada yang lupa dengan tugas kuliah, maka ada seseorang yang mengingatkan dan membantu. Ketika ada yang lelah dengan pekerjaan atau kepanitiaan acara, maka ada yang memberikan pengarahan. Sejuk nan menyejukkan. Damai nan mendamaikan. Haru nan mengharukan. Menyenangkan.

“Aku merasa disembilih…” kata seorang pemuda suatu hari. Lelaki yang sangat melankolik.

Ia takluk dalam gelimang harta. Takut melihat darah. Tak suka dengan kekerasan. Selalu menolak diajak berperang. Namun, begitu ia mengetuk pinta paksa dalam hatinya, ia melihat betapa indahnya persaudaraan dan pengorbanan di antara para sahabat rasul. Ia terkejut. Terpana menikmati irama persaudaraan di antara para sahabat ketika sedang mempersiapkan peperangan.

Shalahudin al-Ayyudi, nama lelaki itu. Lelaki melankolik yang mengetuk pintu paksa dalam dirinya, seorang tokoh menyejarah yang berhasil memimpin perang melawan tentara Romawi. Ialah Shalahudin al-ayyubi, yang berhasil menghijrahkan sifat melankoliknya menjadi kerja-kerja cinta untuk memenangkan perang demi meraih ridho-Nya.

Keterpaksaan, kata Salim A Fillah, memang terkesan negatif. Tapi tidak dengan tanda kutip. Ia akan selalu hadir mengetuk hati-hati kita. Amanah, kadang kita ingin pergi meninggalkan sejauh-jauhnya, tapi nurani membisik halus hati kita, agar kita tetap berada dalam barisan ini. Mengetuk pintu “paksa”, untuk senantiasa tsabat dan istiqomah (*)