Belakangan ini saya seringkali bertanya-tanya tentang banyak hal. Ada kekosongan setiap kali saya merasa tidak pernah bisa menemukan jawabannya. Kenapa a, kenapa b, kenapa c. Mungkin memang benar kata Mark Twain, “The two most important days in your life are the day you are born and the day you find out why.”

Sejujurnya, pertanyaan itu seringkali muncul, terutama ketika saya sedang sendiri, dan setelah tenaga terkuras sedemikian rupa karena membersamai rutinitas. Manusia memang penuh misteri, kata seorang filsuf Prancis, Gabriel Marcel. Ada yang sudah mapan dan tercukupi secara materil, ternyata semudah itu loncat dari gedung tinggi. Ada yang begitu bahagia di luar, begitu kuat, begitu luar biasa, tapi ternyata ia memiliki sisi rapuh yang tidak banyak orang tahu.

Belakangan ini, ada dorongan kuat yang selalu memaksa saya untuk mempertanyakan banyak hal yang saya sendiri tidak tahu apakah pantas dipertanyakan, seperti, “Apakah memang Tuhan ada?”, “mengapa saya dilahirkan begini?”, “Siapa sesungguhnya saya dan dari mana saya berasal?”, “Mengapa ada kejadian seperti ini?”. Setiap kali hendak menjawab, hanya ada kekosongan yang sepi, asing, seperti melewati gelapnya terowongan.

Kadang saya teringat lagu ‘Cahaya Bulan’ yang diciptakan oleh Eross. Liriknya bisa mewakili sifat manusia yang pada dasarnya seringkali bertanya. Ada yang tersadarkan untuk mencari jawabannya, ada yang tidak peduli dan tidak pernah mau tahu, ada yang bahkan terlalu sibuk merenung dan menjadi gila. Cerita Zarathustra, yang pada akhirnya membuat Nietzsche berkesimpulan bahwa Tuhan telah mati, barangkali bisa menggambarkan ini.

Saya yakin setiap kita pernah atau akan mengalami fase seperti itu. Bertanya, “mengapa”, ketika kehidupan menawarkan kejutan-kejutan, ketika ada gap antara harapan dan realita, ketika ada ironi dalam lingkungan kita, ketika kita merasa sepi, sendiri, dan tidak tahu harus berbuat apa, ketika kita mempertanyakan eksistensi diri, bahkan eksistensi ‘yang lain’.

Saya hanya berpikir, bahwa untuk menemukan jawaban akan sesuatu yang seringkali saya pertanyakan, saya harus memberikan jarak dulu pada sesuatu yang biasa saya bersamai, atau saya harus menutup mata dulu dari apa yang biasanya saya lihat. Pernah suatu kali saya mencoba memejamkan mata sejenak. Ketika membukanya kembali, saya sadar, “Is it the world?”

Saya pernah, sengaja ataupun tidak sengaja, mundur dari sesuatu yang biasanya membersamai saya. Ketika mundur, justru saya sadar, ada sesuatu yang lain, sesuatu yang menuntun saya untuk menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan saya. Apakah ada keberadaan lain dalam keberadaan saya? (*)