Semakin batang usia meninggi, lingkungan sosial yang kita hadapi tentu saja semakin luas. Ketika berinteraksi dengan orang lain, ada kalanya kita begitu kesal, ingin marah dan pernah merasa tidak begitu dihargai. Ketika menghadapi kondisi tersebut, ingatkan diri bahwa ini bukan tentang hubungan kita dengan saudara sesama muslim, tapi juga hubungan kita dengan Tuhan. Ketika saya kesal, saya selalu berkata pada diri saya sendiri, “C’mon Alfi, it’s not about you and them, but it’s about between you and God. Be patient anyway”. 

Artinya, kita harus belajar untuk tersenyum dalam kondisi apapun di depan saudara

Harus mematrikan dalam diri bahwa ukhuwah terendah adalah berprasangka baik pada saudara

Harus belajar untuk tidak egois dan bisa membagi waktu untuk silaturahim dengan saudara

Harus belajar untuk tidak membicarakan aib-aib saudara

Harus belajar untuk menolong saudara ketika sedang butuh

Harus belajar untuk berempati dan mendengarkan keluhan saudara

Harus belajar untuk mengingatkan dan menguatkan saudara ketika salah langkah

Harus belajar untuk tidak melabel-labelkan saudara

Harus belajar untuk sabar dengan karakter saudara yang tidak disuka

Harus belajar untuk membahagiakan saudara dengan hadiah

Ramadhan kemarin, ketika saya sedang ‘itikaf di MUI, tepat jam 10 malam, tiba-tiba ada kawan saya yang SMS dan meminta saya untuk pulang segera karena ketakutan. Kosan sepi berhubung teman-teman sudah pada pulang kampung. Saya bilang saya sedang ‘itikaf, tapi teman saya makin ketakutan dan betulan memaksa saya pulang. Saya sejujurnya agak kesal,. Setelah mohon maaf dengan geng ‘itikaf, akhirnya saya pulang karena saya juga teringat hadits Rasul.

Dari Ibnu Umar bahwa seorang lelaki mendatangi Nabi saw dan berkata,”Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling diicintai Allah ? dan amal apakah yang paling dicintai Allah swt?” Rasulullah saw menjawab,”Orang yang paling dicintai Allah adalah orang yang paling bermanfaat buat manusia dan amal yang paling dicintai Allah adalah kebahagiaan yang engkau masukkan kedalam diri seorang muslim atau engkau menghilangkan suatu kesulitan atau engkau melunasi utang atau menghilangkan kelaparan. Dan sesungguhnya aku berjalan bersama seorang saudaraku untuk (menuaikan) suatu kebutuhan lebih aku sukai daripada aku beritikaf di masjid ini—yaitu Masjid Madinah—selama satu bulan. Dan barangsiapa yang menghentikan amarahnya maka Allah akan menutupi kekurangannya dan barangsiapa menahan amarahnya padahal dirinya sanggup untuk melakukannya maka Allah akan memenuhi hatinya dengan harapan pada hari kiamat. Dan barangsiapa yang berjalan bersama saudaranya untuk (menunaikan) suatu keperluan sehingga tertunaikan (keperluan) itu maka Allah akan meneguhkan kakinya pada hari tidak bergemingnya kaki-kaki (hari perhitungan).” (HR. Thabrani)

Ketika saya pulang, teman saya tampak bahagia walau endingnya maaf-maafan. Ke-agakkesal-an saya hilang begitu saja, karena ternyata menolong orang itu membahagiakan. Yeah, as simple as that.