Dulu, saya memiliki seorang teman lelaki, namanya Yayan Puji Riyanto. Saya menemui dia sewaktu mengikuti kompetisi debat bahasa Inggris (ISDC 2005) di Jakarta, antar SMA. Saya delegasi Banten, Yayan dari Jawa Tengah. Sejak itulah, kami jadi sering berbagi ilmu. Saya melihat dia sebagai sosok yang cerdas, sangat teoritis, keras kepala ampun-ampunan, kritis, filosofis, open minded, dan sangat senang dengan sastra serius. Yayan. Katanya sih, sempat menjadi the best speaker se-Jawa Tengah, dan saya senang punya kawan yang sangat pintar dan bisa diajak berdiskusi banyak hal, walaupun ada jurang yang begitu dalam yang tidak bisa saya isi; pikiran Yayan, ya, saya kadang tidak mengerti, ia terlalu jauh melampaui anak-anak muda yang masih senang main-main waktu itu. Haha. Dia senang bergulat dengan teori-teori yang abstrak.

Yayan yang dulu mengenalkan saya lebih jauh pada Danarto, pada Putu Wijaya, pada Goenawan Muhammad, pada sejumlah penulis besar lainnya, pada dunia sastra. Lulus SMA, kehidupan begitu berbeda. Saya berkuliah di UI, jurusan sastra Inggris, jurusan yang sangat diingini oleh yayan, katanya. Tapi sayang, orangtua Yayan tidak mengizinkan ia berkuliah di sana. Karena pertimbangan banyak hal, akhirnya ia masuk STAN.

Di sana ia jadi PIMRED Media Center STAN, SUMA-nya UI. Wadah baginya untuk beraktualisasi diri. Katanya ia tidak senang dengan kuliah atau pekerjaan yang tidak membuat pikirannya lebih terbuka, monpton, dan begitu-begitu saja. Walaupun di sana, ia termasuk orang yang berprestasi. Skripsi saja ia selesaikan dengan bahasa Inggris dan dapat nilai A.

Hari demi hari, bulan demi bulan, dan tahun demi tahun berlalu. Kami jarang kontak karena kesibukan masing-masing. Kalau saya sedang ingat, saya suka sms dia dan tanya kabar, pun sebaliknya. Setelah Yayan lulus, ia ditempatkan di kantor pajak Bekasi, jadilah kami mulai kontak lagi. Paling lucu kalau dia SMS tanya bus dari Bekasi ke Depok. Kebiasaan Yayan itu, paling males nanya orang di jalan, jadi kalau gak SMS saya, dia pasti SMS ika, sahabat Yayan di UI, yang sekarang jadi sahabat saya juga. Yayan senang diajak ke pertujunjukkan seni, semisal teater, konser, diskusi budaya, atau apapun yang berhubungan dengan seni, terutama seni sastra.

Tahun lalu saya pernah ajak dia ke Petang Seni di FIB UI, lomba teater antar jurusan. Yang lucu, kalau bertemu dengan Yayan, dia suka ngomong campur-campur Inggris-Indonesia, haha. Waktu itu sempat makan di kantin FIB, dan dia full ngomong bahasa Inggris, haha. Sebenarnya waktu itu ada orang lain satu meja, saya kan gimana gitu yah pake B.Inggris. Dia seringkali pakai kata-kata sophisticated yang jarang dipakai banyak orang. Tapi saya suka belajar dari dia. Saya juga menangkap kepribadian yang berbeda, Yayan lebih matang, lebih bijak dan dewasa. Waktu SMA dulu, ya ampun, dia itu anaknya gak mau kalah, bebal, dan sumpah pengen banget gue timpuk.

Akhirnya, setelah kami “bergelut” di dunia pascakampus, masa itu tiba juga. Yayan, dengan jahatnya ngeduluin saya buat nikah duluan dengan pilihan hidupnya😀 Tahu kabarnya begini, saya sempat minta bantuan Yayan urus kartu NPWP untuk administrasi dosen UI. Dengan gampangnya dia bilang “udah aku aja yang urus, ntar aku ke Depok”. Waktu dia ke Depok, dia telepon saya dan bilang, “Fi, aku di Detos, sama calon aku. Kamu ke sini yah, aku kenalin”. Dengan agak-agak shock saya pergilah ke Detos. Akhirnya, saya melihat seorang perempuan cantik duduk di sebelahnya. Namanya Wulan. Tampaknya ia pendengar yang baik. Yayan bertemu Wulan waktu ia jadi trainee-nya di kantor pajak, haha. Mereka baru setahun kenalan. Wulan anak yang “menerima”, dan tampaknya bisa menyeimbangi kekeraskepalaan Yayan, haha. Dia juga bukan anak yang sophisticated dan teoritis seperti Yayan, beda banget kayaknya saya liat. Hehe. Tapi well, pasangan yang serasi, hehe

Saya tidak menyangka, di usianya yang ke 23 tahun, ia, seorang lelaki, yang baru jadi PNS,😎, memutuskan untuk menikah. Saya sempat amazed. Ingat kekonyolan waktu SMA dulu, ingat A sampai Z-nya dia. Ingat keras kepalanya Yayan, ingat bocah-bocahnya, ingat sebuah SMS-nya kepada saya dua tahun yang lalu yang intinya bilang dua tahun lagi dia nikah. Ternyata dia penuhi janji itu. Alhamdulillah, saya turut senang. Satu kalimat yang saya ingat dari keduanya ketika saya bertanya mengapa, Yayan hanya menjawab.

By getting married, you’ll be more mature” kata Yayan. Dia, di mata saya, tampak berbeda dari biasanya.

“Kenapa, fi, kamu udah nolak-nolakin melulu yah. Hehe. Gak ada yang perfect kali. Kalau cari yang sempurna gimana kita bisa saling melengkapi?” tandas Wulan, dan sederet kalimat-kalimat lainnya.

Saya benar-benar jleb dinasihatin abc sama itu calon manten. Hahaha. Saya tentu tak mencari yang sempurna, tapi ya itu tadi, saya belum ‘menyelesaikan’ diri saya sendiri. Ada banyak hal yang akhirnya membuat saya berpikir ulang. Saya sadar saya bukan lagi anak SMA atau kuliahan yang bergalau-galauan sampah. Dengan kuliah S2, mengajar di kampus, dan proyek ini itu, pikiran saya malah jadi teralihkan. Quote Maryam Amirebrahimi membuat saya sadar akan hal ini

“Getting married isn’t going to solve our inabilities to wake up for Fajr or get up for qiyam. We need to develop our own selves without expecting marriage to somehow magically change our lives. Marriage can be a great tool of self-improvement and can help us change for the best, with Allah’s will. Marriage is amongst the greatest blessings that Allah (swt) can bestow on a person; and the creation of a family, and taking care of that family, is amongst the greatest acts of worship. But if we are not personally working on ourselves now, how can we expect that it will be easier with the additional baggage of another individual who is also imperfect?”

Saya harus semakin dekat dengan Tuhan, sebelum akhirnya saya betul-betul siap menjadi, bukan hanya istri, tetapi ibu bagi anak-anak saya kelak. Karena pada intinya, menikah adalah melahirkan generasi, bukan sekadar mendapat teman berbagi. Dan sebaik-baiknya generasi, adalah generasi yang dekat dengan Tuhan-Nya. Allah tahu waktu dan tempat yang terbaik😉