Hanya lelaki itu yang menangis, tersuruk-suruk di kala para sahabatnya bergembira menerima wahyu dari nabi. Wahyu tentang kemenangan umat Islam; wahyu yang mengabarkan bahwa telah tiba saatnya orang-orang datang berbondong-bondong memeluk Islam; wahyu yang seharusnya disambutnya dengan sukacita.

Tetapi, ironis. Ia malah tak berbahagia, sebagaimana para sahabat rasulullah yang lain bergembira. Sungguh baru kali ini, lelaki itu mengalami kesedihan yang teramat dalam. Nuraninya yang begitu jernih, begitu agung, suci, dan khalis, bisa menangkap bahwa tugas rasul telah usai, bahwa Islam sudah tersyi’arkan dengan baik, yang berarti bahwa ajal Sang Nabi telah dekat.

Rasulullah malah tersenyum menanggapi, sementara lelaki itu berteriak, “Demi Allah Ya Rasulullah, ayah dan ibu kami sebagai tebusanmu!” katanya hingga membuat sahabat lain bertanya-tanya. Hanya dia, hanya Abu Bakrlah yang memahami bahwa senyum itu akan menjadi senyum terakhir Rasulullah. Hati Abu Bakr seoranglah yang peka dengan keadaan rasul.

Maka, ketika ajal rasulullah tiba, kondisi lantas berbalik, Abu Bakr tampil menjadi orang yang paling tenang, sementara kaum Muslim lainnya menangis, didera oleh keguncangan jiwa yang amat dahsyat sepeninggal Rasulullah. Bahkan Umar, sempat mengangkat pedang dan meyakinkan kaum muslim bahwa rasulullah belum mati.

Abu Bakr dengan tenangnya mengecup kening rasulullah di pembaringannya. Ia kemudian menenangkan Umar, serta menyelamatkan kaum muslimin dari duka yang amat dalam, dari isak, dari tangisan, dan dari emosi jiwa berkepanjangan. Begitulah firasat orang mukmin, firasatnya Abu Bakr, firasatnya seorang sahabat rasul yang berhati jernih.

Kejernihan hatilah yang membuat kita peka pada kebutuhan saudara. Kejernihan hatilah yang melahirkan baik sangka. Kejernihan hatilah yang membuat iman itu tetap ada. Petunjuk akan menghampiri manakala kita yakin pada nurani, ketika kita bisa membedakan mana baik dan buruk, dan saat kita menyadari bahwa dalam setiap penyesalan selalu terselip rasa syukur.

Hati yang bersih, adalah hati yang terus menerus berdialog, hati yang peka pada dosa dan kemaksiatan, hati yang tidak pernah berhenti mengingat Allah, dan hati yang selalu berdoa, “Ya Allah, jangan sesatkan aku, setelah Engkau beri petunjuk” (*)

 

Inspired by Jalan Cinta Para Pejuang