Pembahasan pada bab I buku Discourse Analysis yang ditulis oleh Barbara Johsnton memiliki kaitan yang erat dengan pembahasan pada bab 5 dan 7 buku Introduction to Discourse Studies yang ditulis oleh Jan Runkema. Secara umum, Johnston menjelaskan bagaimana wacana dibentuk dan membentuk konteks. Sementara itu, Renkema memaparkan bagaimana struktur membangun wacana, serta apa saja konsep yang digunakan dalam mengaitkan wacana dan konteks. Tulisan ini akan memaparkan lebih jauh bagaimana wacana, konteks, dan struktur saling mendukung satu sama lain.

Pada bab 1 buku Discourse Analysis, Johnston mendefinisikan wacana ke dalam dua kategori. Pertama, wacana dipandang sebagai ‘mass noun’ (discourse) yang berarti peristiwa nyata komunikasi dengan perantara bahasa. Johston berpendapat bahwa ada kaitan antara wacana dan media komunikasi. Kedua, wacana dipandang sebagai ‘count noun’ (discourses), yang berarti bahwa dalam wacana terkandung aspek ideologis dan kekuasaan. Dengan kata lain, wacana terbentuk melalui cara-cara komunikasi yang mempengaruhi dan dipengaruhi oleh suatu gagasan (Johnston 2002:1-2).

Lebih lanjut, dalam disiplin ilmu akademik, dikenal istilah “discourse analysis” yang dipahami sebagai studi bahasa dan pengaruhnya (Johnston 2002:1). Aspek yang membedakan analisis wacana dengan studi bahasa dan komunikasi lainnya adalah aspek struktur dan fungsi bahasa dalam penggunaannya (Johnston 2001:4). Menurut Johnston, analisis wacana bekerja dengan teks sebagai satu kesatuan, serta mengaitkannya dengan apa yang ada di luar teks untuk menemukan konteks. Hasil analisisnya berupa deskripsi yang memungkinkan munculnya kritik sosial, bahkan intervensi.

Dalam metodologi kajian wacana, terdapat beberapa pertanyaan yang menjadi dasar analisis, seperti “apa yang dibicarakan dalam teks?”; “bagaimana teks tersebut dibuat?”; “siapa saja partisipan yang terlibat dalam teks?”; “bagaimana struktur teks tersebut?”; serta ”apa media yang digunakan?”. Johnston berpendapat bahwa untuk menjawab pertanyaan tersebut dibutuhkan enam kategori yang menunjukkan bahwa makna wacana dibentuk oleh konteks, yaitu dunia (world), bahasa (language), partisipan (participants), wacana sebelumnya (prior discourse), media (medium), dan tujuan (purpose) (Lihat Johnston, 2002:8-9)

Pertama, wacana dibentuk dan membentuk realitas atau dunia (world). Johnston berpendapat bahwa wacana dan pemahamannya dibentuk oleh dunia pencipta dan penafsir teks, dan dunia mereka dibentuk oleh wacana yang ada. Misalnya, dalam pemberitaan mengenai komunitas muslim dan peristiwa 9/11, beberapa media barat menyandingkan kata “jihad” dengan kata “perang”, “kekerasan”, “teror”, dan “ekstrimis”. Alhasil, komunitas muslim direpresentasikan sebagai teroris. Dengan demikian, ada wacana yang dibentuk dan membentuk realitas.

Kedua, Johsnton berpendapat bahwa wacana dibentuk dan membentuk bahasa. Dengan kata lain, interpretasi dibentuk oleh pemilihan struktur yang membangun teks tersebut. Di tempat umum, misalnya, seringkali kita menemui kata-kata, “Terimakasih telah membuang sampah pada tempatnya”. Dalam rangkaian kalimat tersebut, ada praanggapan (presupposition) bahwa publik seringkali membuang sampah sembarangan. Dengan kalimat tersebut, si penulis mengajak pengunjung untuk tidak membuang sampah sembarangan. Dengan demikian, motivasi teks dapat dilihat dari struktur dalam kalimat.

Ketiga, wacana dibentuk dan membentuk partisipan (participants). Hubungan interpersonal, seperti antara pembicara dan audiens maupun antara penulis dan pembaca dapat dilihat, baik dalam produksi maupun interpretasi teks. Misalnya, saat orangtua menulis surat keterangan anaknya yang sakit, ia akan menggunakan kata-kata “Yang Terhormat Wali Kelas”. Sapaan ini menandakan adanya hubungan formal antara wali murid dan wali kelas. Akan berbeda jika orangtua menulis surat untuk anaknya, sapaan yang digunakan bisa berupa “Ananda tercinta”, yang menunjukkan hubungan yang lebih intim.

Keempat, wacana dibentuk oleh wacana sebelumnya (prior discourse), dan membentuk kemungkinan adanya wacana yang akan datang. Johnston berpendapat, hal ini dapat dilihat dari hubungan intertekstualitas. Dalam billboard rokok misalnya, ada gambar seorang lelaki gagah, harimau, dan tulisan “pria punya selera”. Hubungan antara teks satu dengan teks lainnya membentuk satu makna baru bahwa pria yang merokok adalah pria yang gagah dan kuat.

Kelima, wacana dibentuk oleh medianya, dan wacana membentuk kemungkinan media yang digunakannya. Dalam sebuah iklan pemutih di televisi, misalnya, beberapa lelaki ditanya tentang bagaimana perempuan “cantik” itu. Mereka semua menjawab, “putih”. Alhasil, media membentuk wacana “perempuan cantik itu putih” dan mengkonstruksi opini publik tentang citra perempuan Indonesia yang cantik.

Terakhir, wacana dibentuk oleh tujuan, dan wacana membentuk kemungkinan tujuan. Saat Obama datang ke UI untuk memberikan pidato, misalnya, ia terlebih dahulu bercerita tentang masa kecilnya, baru kemudian menyinggung hubungan diplomatik antara Amerika dan Indonesia. Narasi yang digunakan Obama seolah-olah mengindikasikan bahwa ia datang atas dasar kekeluargaan alih-alih kepentingan politis.

Dari pembahasan enam kategori di atas, terlihat bahwa wacana membentuk dan dibentuk oleh konteks, yaitu oleh sesuatu yang berada di luar teks. Lantas, bagaimana Renkema melihat struktur, wacana, dan konteks? Pendapat Johsnton (2001) yang mengatakan bahwa struktur dan fungsi bahasa adalah aspek yang diteliti dalam analisis wacana, diperkuat oleh Jan Renkema dalam bukunya Introduction to Discourse Studies. Dalam bab 5, Renkema memberikan penjelasan mendetail tentang bagaimana struktur wacana dibangun.

Renkema berpendapat bahwa dalam wacana, ada satuan semantis yang terkandung dalam kalimat karena adanya struktur yang saling berhubungan satu sama lain. Renkema mengistilahkannya dengan proposisi (propositions). Proposisi berfokus pada informasi dalam kalimat, tidak peduli apakah kalimat tersebut berupa pertanyaan, harapan, atau seruan. Renkema memberikan contoh “Jokowi mengunjungi pasar” dan “Apakah benar Jokowi mengunjungi pasar?”. Keduanya memiliki informasi yang sama mengenai “Jokowi” dan “mengunjungi pasar”. Proposisi, menurut Renkema, terdiri dari satu predikat (verb) dan satu argumen atau lebih.

Kedua, Renkema membahas mengenai topik-komen. Topik adalah tentang apa wacana, sedangkan komen adalah apa yang dinyatakan tentang topik. Kalimat dengan makna yang sama dapat berbeda topik. Renkema mengatakan bahwa topik tidak selalu dalam posisi subjek. Selain itu, topik juga tidak selalu tersebut lebih dahulu (given-new), dan tidak selalu merupakan informasi latar belakang, bisa jadi juga latar depan. Hal inilah yang membedakannya dengan tema dan rema (Runkema, 2004:91). Renkema juga membahas perbedaan mengenai topic continuity (kesinambungan topik), topic shift (pemindahan topik) atau topik digression. Kesinambungan topik dapat dilihat misalnya pada kata “Jokowi mengunjungi pasar. Wartawan datang meliput”. Pada kalimat pertama subjeknya adalah “Jokowi”, namun kalimat kedua, ada perubahan subjek, yaitu “wartawan”

Lebih lanjut, dalam menentukan inti suatu teks atau struktur makna sebuah wacana, Renkema, meminjam teori Teun Van Dijk (1980), memperkenalkan makrostruktur dan suprastruktur. Makrostruktur melihat bagaimana hubungan kalimat dan segmen kalimat yang direpresentasikan dengan proposisi (Runkema, 2004:94). Ada tiga aturan utama; pertama, deletion rules (penghapusan), yaitu menghilangkan proposisi yang tidak relevan bagi penafsiran proposisi lain; kedua, generalization rules (perampatan), yaitu mengubah rangkaian proposisi khusus menjadi proposisi umum; ketiga, construction rules (penyusunan), yaitu satu proposisi yang disusun dari sejumlah proposisi lain (Lihat Renkema, 2004:95-96). Sementara itu, suprastruktur diartikan sebagai skema konvensional sebagai bentuk global bagi isi makrostruktur wacana. Dengan kata lain, makrostruktur menyangkut isi (content), sedangkan suprastruktur menyangkut bentuk (form).

Selanjutnya, telah disebutkan oleh Johnston (2001) bahwa analisis wacana bekerja dengan teks sebagai satu kesatuan, serta mengaitkannya dengan apa yang ada di luar teks untuk menemukan konteks. Renkema, dalam hal ini, mengenalkan enam konsep yang digunakan dalam studi relasi wacana dan konteks. Fenomena kontekstual yang pertama disebut dengan deiksis, yaitu unsur bahasa yang bergantung pada situasi. Deiksis terbagi menjadi tiga, yaitu person deixis (persona). Misalnya, kata ganti ‘we’ bisa jadi bersifat “inklusif” (kita) dan “eksklusif” (kami). Kedua, place deixis (ruang) yang menurut Renkema bisa menimbulkan makna ambigu. Misalnya pada kalimat “Pak Rio berdiri di depan meja”, bisa berarti Pak Rio berdiri di antara meja dan penutur, atau Pak Untung berdiri di depan meja saja. Ketiga, time deixis (waktu) yang berkaitan dengan tenses dalam bahasa Inggris. Dengan demikian, posisi penutur bergantung pada ruang dan waktu.

Konsep yang kedua disebut dengan staging, yang berarti bahwa ada unsur wacana yang informasinya lebih dipentingkan. Intinya yaitu bagaimana hubungan latar belakang dan latar depan dalam suatu kalimat, serta sejauh mana prinsip kepala-ekor (head-tail) mempengaruhi wacana. Semakin dekat dengan kepala atau ekor, semakin penting informasinya. Misalnya, (1) Setiap tahun saya pergi ke Pulau Tidung untuk liburan (2) Untuk liburan saya pergi ke Pulau Tidung setiap tahun”. Informasi yang lebih dipentingkan berbeda.

Konsep berikutnya adalah perspectivization atau sudut pandang. Ada tiga pendekatan dalam hal ini. Pertama, vision (visi), yaitu perspektif ideologis dalam sebuah wacana. Kedua, focalization, yaitu sudut pandang naratif, yaitu adanya subjek dan objek, pengamat dan apa yang diamati. Focalization membantu dalam menentukan sudut pandang (point of view) sebuah cerita (story), misalnya, penggunaan orang pertama (akuan), kedua, ketiga (diaan), dst (Renkema, 2004:128). Selanjutnya adalah empathy, yaitu bagaimana derajat kedekatan penutur terhadap hal yang dibicarakan. Misalnya, efek empati pada si gadis akan lebih terasa dalam kalimat “Gadis itu diperkosa di gudang”, dibandingkan dalam kalimat “Pekerja bangunan memerkosa seorang gadis”

Renkema juga menjabarkan konsep mengenai informasi lama-informasi baru (Given-New). Informasi lama menandakan, penutur berasumsi bahwa ia sudah mengetahui terlebih dahulu tentang apa yang diujarkan, sedangkan informasi baru menandakan bahwa penutur baru memperkenalkan informasi pada si petutur. Dalam bahasa Inggris, penggunaan artikel seperti “the” (definite article) membedakan mana informasi lama dan baru.

Dalam menganalisis suatu teks, ada informasi yang dinyatakan secara implisit atau tersirat. Inilah yang disebut dengan presupposition (praanggapan). Praanggapan berada di wilayah makna. Istilah praanggapan berasal dari logika filsafat. Praanggapan dapat bermakna sama untuk kalimat positif dan kalimat ingkarannya. Contohnya 1. Nina (tidak) membuka pintu. 2. Pintu itu tertutup. Kalimat (2) benar walaupun kalimat (1) dinegasikan.

Terakhir, inference (inferensi), yang terbagi menjadi tiga. Pertama, entailment (perikutan). Contohnya, 1. Ibu membeli kalungdan 2. Ibu membeli perhiasan. Berbeda dengan praanggapan, perikutan pada kalimat (2) tidak benar jika kalimat (1) dinegasikan. Ketiga, implikatur percakapan (conversational implicature). Istilah ini diperkenalkan kali pertama oleh Grice. Contohnya, A. Udah beli perhiasan yang diidamkan, Ma? B: Kalungnya Mama taruh di kotak dalam lemari. Jawaban B memiliki konteks yang bisa dipahami oleh A, bahwa B sudah membeli perhiasan. Keempat, konotasi, yaitu adanya nilai rasa. Misalnya kata “pelacur” dan “PSK”, lalu “kakus”, “WC”, dan “kamar kecil”

Kesimpulan

            BukuJohnston yang berjudul “Discourse Analysis” memberikan pemahaman kepada saya bahwa wacana tidak terlepas dari konteks. Wacana dibentuk dan membentuk konteks melalui enam kategori, yaitu dunia, bahasa, partisipan, wacana sebelumnya, media, dan tujuan. Pemaparan Johsnton mengenai wacana dan konteks dipertegas oleh Jan Renkema dalam bukunya “Introduction to Dyscourse Studies” melalui pendekatan yang berbeda. Namun, irisan di antara keduanya jelas, yaitu ada kaitan antara bentuk dan fungsi atau antara struktur dan konteks.

Pertanyaan-pertanyaan yang menjadi pertimbangan Johnston dalam menganalisis wacana, seperti “apa yang dibicarakan dalam teks?”; “bagaimana teks tersebut dibuat?”; “siapa saja partisipan yang terlibat dalam teks?”; “bagaimana struktur teks tersebut?”; serta ”apa media yang digunakan?” secara tidak langsung dijawab juga oleh Jen Renkema. Dalam bab 5, Renkema melihat bagaimana struktur dideskripsikan dalam tingkatan wacana yang berbeda (global structure, mesostructure, dan local structure), sedangkan dalam bab 7, Renkema melihat unsur-unsur wacana, baik dari sisi produksi maupun persepsi. Hal ini menunjukkan bahwa wacana membentuk dan dibentuk oleh konteks.

 

Daftar Pustaka:

Johnstone, Barbara. (2002). Discourse Analisys. Massachusetts: Blackwell Publishers Inc

Renkema, Jan. (2004). Introduction to Discourse Studies. Amsterdam: John Benjamins Publishing Co.

Laporan bacaan ini adalah tugas mata kuliah Kajian Wacana program pascasarjana Departemen Linguistik, UI

-Alfi Syahriyani-