Secara umum, E.K.M Masinambow dalam artikelnya yang berjudul “Teori Kebudayaan dan Ilmu Pengetahuan Budaya” memaparkan konsep-konsep penting dalam teori kebudayaan, seperti perbedaan antara ilmu pengetahuan budaya, ilmu sosial, dan ilmu pengetahuan alam; serta bagaimana keragaman teori budaya dan dinamikanya dari masa ke masa.

Pada prinsipnya, teori kebudayaan sebagai salah satu bidang dalam program pascasarjana bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang prinsip-prinsip konseptual yang melandasi disiplin-disiplin ilmiah yang dicakupi oleh bidang tersebut. Tujuan praktis dari teori ini tidak dapat diprakirakan secara seksama karena terdapat sisi-antara (interface) yang harus diteliti secara tuntas, sehingga dengan hasil penelitian itu, konsekuensi dalam penerapan praktis dapat dikendalikan secara ketat. Maka dari itu, teori kebudayaan yang dipaparkan Masinambow lebih bersifat akademis alih-alih praktis.

  • Ilmu Pengetahuan Budaya, Ilmu Pengetahuan Sosial, dan Humaniora

Masinambow memaparkan bahwa perbedaan antara ilmu pengetahuan alam dan ilmu pengetahuan budaya sudah lama dipersoalkan oleh para filsuf Jerman, terutama Wilhem Dilthey (1833-1911) dan Heinrich Rickert (1863-1936). Pertama, karakteristik Ilmu Pengetahuan Alam yaitu (1) Memusatkan perhatian pada alam yang hukumnya bersifat universal; (2) Peneliti berada di luar objek pengamatan; (3) Bersifat nomoteis atau ilmiah dalam arti yang sempit; Mencapai kemajuan cepat dalam waktu relatif singkat. Sementara itu, karkateristik Ilmu Pengetahuan Budaya yaitu, (1) Memusatkan perhatian pada manusia, sebagai perkembangan historis; (2) Peneliti sebagai subjek seolah-olah berada dalam kondisi objek (empati-simpati); (3) Bersifat ideografis atau ilmu pengetahuan batin; (4) Mencapai kemajuan dengan meniru metodologi ilmu alam yang didasarkan pada positivisme Auguste Comte.

Selanjutnya, Masinambow mengungkapkan tentang definisi kebudayaan. Definisi tersebut berbeda-beda bergantung pada aliran teoritis. Menurutnya, ada dua konsep kebudayaan yang penting: pertama, materialistis yang menyatakan bahwa sistem adalah hasil adaptasi dari lingkungan alam; kedua, idealistis yang memandang bahwa semua fenomena eksternal adalah manifestasi suatu sistem internal. Kekaburan batas antara ilmu pengetahuan budaya (IPB) dan Ilmu pengetahuan sosial (IPS) adalah akibat dari konsep kebudayaan pada satu pihak dan konsep masyarakat pada pihak lain. Dengan kata lain, kebudayaan tidak bisa berlepas diri dari fenomena sosial. Kedua bidang tersebut sering dinamakan dengan satu istilah, ‘human sciences’. Selanjutnya, dikenal istilah ‘humaniora’ yang menekankan pada aspek pendidikan.

 

  • Peradaban dan Kebudayaan

Adapun dimensi peradaban yang membedakannya dengan budaya adalah: (1) adanya kehidupan kota dengan tingkat perkembangan yang lebih tinggi dibandingkan pedesaan (dalam lingkungan Eropa); (2) adanya pengendalian oleh masyarakat dari dorongan-dorongan elementer manusia dibandingkan dengan keadaan tidak terkendalinya dorongan tersebut. Peradaban menghendaki kemajuan disebarluaskan pada daerah terbelakang yang meliputi tata pergaulan sosial sesuai norma kesopanan. Selain itu, ekspansi Eropa ke negara-negara berkembang melalui perdagangan juga merupakan salah satu upaya untuk menyebarluaskan peradaban, yang dicirikan dengan adanya teknologi persenjataan, perkapalan, dan sebagainya. Berbeda dengan peradaban, kebudayaan memiliki pengertian yang lebih sempit karena hanya terikat batas-batas nasional dan dimensi individual.

  • Analisis Data dan Keragaman Teori

            Dalam menganalisis, pemerolehan data dalam disiplin ilmu pengetahuan budaya meliputi perilaku verbal, perilaku kinetis, dan lingkungan alam asli. Perilaku verbal diwujudkan dalam dua bentuk, yaitu tuturan (bunyi bahasa) dan teks (tanda visual). Sementara perilaku kinetis meliputi arsitek dan lingkungan alam termodifikasi, seperti ladang, sawah, dll. Terakhir, lingkungan alam asli, yang menciptakan mitos-mitos dalam masyarakat. Teori kebudayaan dulu berfokus pada perilaku verbal (nonteks) sebagai data primer, sedangkan teks (tulisan) adalah data skunder. Namun, aliran pascastrukturalisme menggantikan tuturan lisan dengan tulisan sebagai data primer.

Keragaman teori kebudayaan seperti yang disebutkan di atas disebabkan oleh perspektif perkembangan sejarah dan perspektif konseptual. Pada abad ke-19, misalnya, muncul teori evolusionisme budaya yang berupaya menjelaskan perkembangan manusia dan pranatanya yang dianggap tunduk pada alam. Aliran yang dipengaruhi oleh positivisme ini dianggap ilmiah berdasarkan dua prinsip, yaitu rasionalitas dan kegunaan. Rasionalitas berarti bahwa manusia dan pranatanya semakin sempurna dengan meningkatnya rasio. Kegunaan berarti bahwa ada peninggalan adat istiadat yang menunjukkan tahap evolusi terdahulu. Teori ini juga berpendapat bahwa kebudayaan adalah suatu hal yang universal.

Teori ini kemudian dibantah oleh antropolog Amerika, Franz Boaz (1858-1942) yang mangatakan bahwa kebudayaan tumbuh dari emosi, berkembang atas dasar prinsip-prinsipnya sendiri (sui generis), bersifat unik, dan memperlihatkan dinamika dan kreativitas. Hal ini ditegaskan oleh murid Boaz yaitu Kroeber yang melihat dua aspek dalam kebudayaan, yaitu nilai dan realitas. Singkatnya, kebudayaan nilai akan berkembang pesat jika tuntutan realitas terpenuhi. Teori ini kemudian dikembangkan lagi oleh Julian Steward yang melihat kebudayaan sebagai sarana penyesuaian manusia dengan lingkungan alam. Hal ini ditegaskan oleh Leslie White yang menghidupkan paham evolusi bersifat multidimensional. Teori Steward dan White merupakan teori materialistis. Bagaimana dengan teori idealistis?

Dalam tulisan Keesing, tokoh-tokoh teori-teori idealistis, diantaranya: (1) Ward Goodenough yang melihat kebudayaan sebagai sistem kognitif, yaitu menganggap perilaku budaya sejajar dengan gramatika bahasa; (2) Levi-Strauss yang menganggap kebudayaan sebagai sistem struktural, melihat oposisi dwipihak (binary opposition); (3) Clifford Geerts dan Schneider yang melihat kebudayaan sebagai sistem simbolis. Teori kebudayaan kognitif dan struktural terinspirasi dari Saussure, sedangkan teori kebudayaan simbolis (semiotis) terinspirasi dari Charles Pierce yang menempatkan tanda dan acuan di luar pengguna tanda, berkebalikan dengan Saussure.

Dalam melihat fenomena kebudayaan, ada prinsip penting dari Saussure yang perlu dicermati, yaitu pertama, penanda (signifier) dan petanda (signified). Penanda di sini berupa citra bunyi, sedangkan petandanya adalah gagasan atau konsep. Kedua, tanda tidak memiliki acuan ke realitas objektif (nomenclature). Ketiga, adanya konsep langue (pengetahuan kemampuan bahasa secara kolektif) dan parole (perwujudan dari langue). Berbeda dengan Saussure, Pierce mengakui adanya realitas objektif dalam pembentukan tanda, yaitu representamen (penanda) dan objek (petanda). Adapula teori heurmenetik yang digagas oleh Noth, yang mengatakan bahwa pola perilaku dan tindakan nonverbal adalah juga teks atau wacana.

Pada dasarnya, kesemua teori yang dipaparkan mencerminkan aliran intelektual pada masanya. Perkembangan mutakhir melahirkan aliran baru bernama pascastrukturalisme dan pascamodernisme. Keduanya mengakui bahwa realitas sebagai sesuatu yang konkret di luar subjek tidak mempunyai wujud mandiri, tetapi terbentuk oleh wacana. Salah satu tokoh pascastrukturalisme yang dikenal dengan teori dekonstruksinya adalah Derrida. Ia melihat bahwa interpretasi dan pemahaman dari suatu teks dapat berubah-ubah. Sementara itu, dengan kesadaran penuh tentang kekurangan, penyimpangan, dan kemunculan berbagai paradoks dalam gagasan Pencerahan (aliran modern), aliran pascamodern lahir untuk mengatasinya.

  • Komentar

Artikel yang ditulis oleh Masinambow memberikan pemahaman konseptual kepada saya tentang beragam istilah dalam teori kebudayaan, tokoh-tokoh teori kebudayaan, serta dinamika perkembangan teori tersebut. Saya mencatat hal-hal menarik dari penjelasan Masinambow. Pertama, dari segi teoritis, mempelajari teori kebudayaan dapat mengembangkan sikap bijak dalam menilai kebudayaan lain karena kita tidak hanya melihat segala sesuatu dari satu sisi. Selain itu, penjelasan filosofis dan historis dalam artikel ini dapat memberikan pemahaman dalam merancang dan melaksanakan penelitian kebudayaan. Kedua, memahami disiplin ilmu pengetahuan budaya berarti memahami manusia, baik itu berupa perilaku, tindakan, maupun fenomena sosial yang ada di sekitarnya. Teori kebudayaan bisa memberikan penyadaran kepada manusia tentang problematikanya sebagai makhluk individu sekaligus makhluk sosial. Oleh karena itu, memahami teori kebudayaan sangatlah penting.

Ketiga, setiap teori memiliki kelebihan dan kekurangannya. Penyempurnaan teori terus dilakukan mengikuti situasi yang berkembang. Salah satu hal yang menarik adalah penjelasan mengenai aliran modern. Aliran ini ternyata tidak lagi mampu menjawab beberapa tantangan di masa kini. Saya menemukan bahwa aliran modern dalam masyarakat Barat, yang semula bertujuan untuk membahagiakan manusia, saat ini justru telah membuat mereka kehilangan sisi kemanusiaannya. Alhasil, aliran pascamodern lahir untuk menyempurnakan teori yang datang sebelumnya. Begitu juga evolusionisme budaya yang mengandalkan rasio dalam mencapai kesempurnaan, ternyata dibantah juga oleh teoris yang lain. Namun demikian, superioritas dan inferioritas sampai saat ini tetap lekat dalam masyarakat Barat. Globalisasi semakin menciptakan jurang antara negara yang dianggap memiliki peradaban tinggi (barat) dengan negara yang dianggap memiliki peradaban rendah (dunia ketiga).  Salah satu ideologi dari peradaban Barat yang menyebar ke Indonesia adalah kapitalisme. Sampai saat ini, kapitalisme masih menjadi wacana yang menarik dalam penelitian sosial dan budaya.

Keempat, dalam mendiskusikan teori budaya, teks rupanya menjadi bahasan yang penting di era pascastrukturalisme. Dapatlah disimpulkan bahwa Saussure, Pierce, dan teori interpretasi teks menjadi keran utama dalam melahirkan teori-teori kebudayaan selanjutnya. Bagaimanapun, semakin zaman berkembang, akan ada lagi teori-teori baru yang dapat memperkaya khazanah penelitian budaya dalam dunia akademis.

Alfi Syahriyani

Artikel ini adalah Tugas ujian tengah semester ‘Teori Kebudayaan’ program pascasarjana Linguistik FIB UI