“Dua garis rel itu, seperti kau dan aku,

hanya bersama tapi tak bertemu

Bagai balok-balok bantalan tangan kita bertautan,

terlalu berat menahan beban

Di persimpangan kau akan bertemu garis lain,

begitu pula aku

Kau akan jadi kemarin,

kukenang sebagai pengantar esokku”

 

Cafe, November 2012
“Waktu terasa begitu cepat” kata seorang lelaki kepada kawan perempuan di depannya. Di atas meja ada selembar kartu berwarna merah marun dan abu-abu, juga secangkir kopi hangat yang meruap di antara keduanya. Memisahkan apa yang telah lalu, dan apa yang akan datang.

“Waktu adalah sahabat yang paling jujur” si perempuan tertawa kecil, sementara si lelaki mulai menyeruput kopi di atas meja.

“Ingat 6 tahun yang lalu…” kopi itu diletakkannya kembali di atas meja, “Rasa kopinya tidak seperti sekarang. Dulu ada kental, ada gurih, ada pahit, ada manis, ada lelap, dan terjaga”

“Memangnya yang sekarang beda? Haha” si perempuan tertawa.

“Yah, terimakasih kamu telah menjadi bagian dari masa lalu. Saya pernah menjadi kopi yang meratap gara-gara dulu”

Tawa si perempuan terhenti, “Tuhan tahu yang terbaik, tidak perlu takut pada masa depan”, responnya

“Haha, tak usah seserius itu. Maaf kalau saya mendahului kamu yah. Saya hanya sedikit khawatir”

“Tak apa, tak apa. Itu sudah lama sekali kan? Sekarang saatnya saya mendoakan yang terbaik buat kamu dan istri kamu nanti” si perempuan tersenyum, diambilnya sebuah kartu undangan merah dan abu-abu itu dari meja, “Terimakasih, saya bahagia mendengarnya”

“Dia orang yang spesial”

“She is”

“Saya pamit, saya tunggu kamu di Solo”

“InsyaAllah”

Buat kawan SMA, yang pernah singgah sapa dalam hidup saya. Terimakasih telah jujur pada waktu🙂