Cafe, November 2012

Aku tidak mengerti mengapa ada makhluk bernama…

“Perempuan!” katanya sambil menuding angin. Matanya sedikit memerah. Ragu aku ingin meresponnya segera. Tapi, ini waktu yang tidak tepat, pikirku, “Perempuan itu…” lanjutnya lagi. Kali ini ia sudah mulai terisak.

Aku sedikit panik, hendak memanggil pelayan untuk meminta tisu, tapi perempuan di depanku ini terlanjur merogoh tasnya, mengeluarkan lembar demi lembar benda berwarna putih itu. Ia tidak berkata apa-apa setelahnya, hanya menangis, menangis saja, dan terus menangis.

Di seberang perempuan itu, yang hanya terpisahkan oleh meja dan secangkir cappucino, aku duduk terpekur dalam ketidakmengertian. Mungkin karena menangis adalah karya budaya pertama manusia saat lahir ke dunia, bagiku segalanya jadi tampak rumit. Minimal, untuk saat ini.

“Jadi…” kataku ragu, “perempuan mana yang membuat kamu menangis?” aku bertanya, tapi tangisannya makin jadi. “Ah, pasti kamu iri dengan dia ya?”Aku ragu melanjutkan. Berlembar-lembar tisu basah berserakan di atas meja.  Satu dua ia lempar pelan, “atau kamu pasti…” tiga empat ia lempar keras, nyaris mengenai cappucino pesananku. Maka perlahan kusingkirkan secangkir cappucino yang ruapnya perlahan menghilang itu. Kupindahkan lima sentimeter mendekati bibir meja.  Ingin sekali menyeruputnya, tapi kuurungkan. Karena ini waktu yang tidak tepat, pikirku lagi.

Maka kutatap saja perempuan yang menangis itu, tapi lamat-lamat pandanganku beralih ke cappucinoku. Kulirik lagi perempuan itu, tapi kembali kutatap lekat cappucino di depanku. Demikian seterusnya, hingga ia berujar lirih kembali “Perempuan itu…”, lalu menangis lagi, sementara wangi cappucino di depanku makin menggoda.

Aku sudah mulai jengah dengan ketidakmengertian yang entahlah siapa duluan yang menciptakan. Pelan-pelan kuangkat cangkir kopi itu, kuhirup dalam-dalam. Sedapnya….kuminum pelan-pelan, ah, nikmatnya… Kutenggak, ah, hangat melewati kerongkongan.

“Brak!” Aku tersedak. Cappucinoku tumpah, jatuh membasahi kaos dan celana jeansku. Perempuan di depanku itu tidak lagi melempar tisu, tapi melempar meja, ah, maksudku, memukul meja, dan membuatku terhenyak.

“Perempuan itu…!” Ia kembali menuding angin.

“Aaaah, cukup! Cengeng sekali! Kenapa sih? Perempuan mana, perempuan mana yang kamu maksud sih?! Kenapa??!” Aku berdiri bertolak pinggang. Wajah perempuan di seberangku kali ini tampak ketakutan. Kulepas topi dan kuacak-acak sendiri rambutku. Aku duduk kembali sambil mengatur nafas. Agak menyesal juga aku membentaknya, di waktu yang tidak tepat, pikirku—untuk ke sekian kalinya.

Ia menangis lagi, hingga lama-lama air mata perempuan itu mereda. Selanjutnya hanya senyap yang tersisa di antara kami, barangkali menengahi apa yang telah lalu dan apa yang mungkin akan muncul kemudian.

Malam semakin dingin. Dalam kesenyapan, kami sibuk dengan pikiran kami masing-masing. Satu lampu cafe sudah dimatikan. Tapi wajahku belum melentur. Masih mengeras. Menyusul lampu kedua, lalu ketiga, keempat, hingga di sisiku sudah gelap, tapi di seberangku masih ada cahaya remang kekuningan. Kini hanya wajah perempuan itu yang terlihat dari seberang. Ia terdiam, tak ada lagi tangisan, hingga dua kata itu muncul lagi dalam nada yang berbeda.

“Perempuan itu….” ia mulai bicara saat sudah tidak bisa lagi melihat jelas wajahku.“hanya ingin…” nadanya tak lagi lirih, “didengarkan”

Klik. Lampu terakhir mati. Gelap di sekitar.