“Maka nostalgia adalah ingatan yang memperindah ingatan. Sebab itu kita tak perlu mencemoohnya: ia bagian yang memperkaya hidup kita sekarang, karena mengakui ada dari masa silam yang begitu penting, begitu bagus, dan kita ingin tahu” (Goenawan Mohamad)

Apa yang lebih menyakitkan dari “dicampakkan oleh Tuhan”? Kata kawan saya suatu hari. Apa jadinya, ketika Tuhan yang paling mencintai kita, justru bisa paling membenci kita? Kita bahkan telah menjadi orang yang tidak diterima bumi dan langit. Apa jadinya, ketika seorang perempuan memiliki cinta yang lebih besar dari anak yang dilahirkannya, tetapi si anak perempuan ini kemudian menjadi anak yang tidak tahu diri? Apa jadinya, ketika seorang lelaki dan perempuan yang saling mencintai, di perjalanan justru saling melempar api?

Sakit. Pasti. Tidak ada yang lebih menyakitkan ketika orang yang dulu saling menyayangi, justru berbalik menjadi saling membenci. “Semakin dingin di luar”, kata Arthur Schopenhauer dalam Soliloque, “semakin kita berkerumun untuk mencari kehangatan. Namun semakin dekat kita satu sama lain, semakin parah pula kita saling menyakiti dengan duri kita yang paling panjang dan tajam. Dan pada malam musim dingin yang sepi di bumi, pada akhirnya kita mulai hanyut terpisah dan berjalan sendiri-sendiri. Kemudian kita semua membeku, mati dalam kesunyian”

Barangkali indah, jika kehidupan ini hanya diisi dengan harmoni, dengan rasa aman dan damai, dengan ketenangan hati. Tapi ternyata, cinta tidak akan bisa dirasakan ketika kita tidak tahu bagaimana rasanya sakit. Kita justru butuh memiliki pengalaman sakit, untuk merasakan bahwa orang-orang di sekitar kita sedang ‘sakit’. Put ourselves in other’s shoes, kata pepatah Inggris, untuk menggambarkan bahwa manusia membutuhkan dan harus memiliki rasa empati. Hingga pada akhirnya kita berjanji dalam diri, “tidak akan menyakiti orang lain, karena saya tahu bagaimana rasanya sakit itu”

Tetapi rasa sakit ada bukan hanya agar kita mengerti perasaan mereka yang sepenanggungan. Ia ada, agar kita mengerti bahwa kita memiliki kawan untuk berbagi, bahwa selalu ada rasa syukur karena memiliki sahabat yang bisa meredam kebencian. Kebencian yang tumbuh karena sebuah luka, atau karena tidak tahu lagi bagaimana bisa melupakan selain dengan membenci. Berbagi, adalah saat kita menyadari bahwa memaafkan adalah lebih baik dari menghakimi.

“Kerja cinta itu, seperti panggung” kata senior saya suatu hari. Saya mendengarkan, sambil mengamati sorot matanya yang menerawang entah ke mana. “Kenapa ada rasa sakit, karena kita terlalu mengkultuskan aktor dalam panggung kita” lanjutnya, sambil mengenang masa lalu yang baginya sangat tidak menyenangkan. Saya ingat, satu tahun yang lalu, saya bertanya bagaimana tesis kawan saya itu, belum selesai juga, sementara kawan-kawan lainnya sudah lulus entah ke mana. Ketika saya bertanya alasannya menunda-nunda, jawabannya justru membuat saya tertawa.

I was not yet done with him, but now I am!” teriaknya, girang. Saya memang tertawa, tapi sekaligus sedih dengan diri saya yang tidak peka ini.

Ternyata, dibutakan cinta itu seperti saat kita menonton teater, lanjut kawan saya. Kita terlalu fokus pada aktor utama yang bermain di panggung, dikuasai oleh akting hebatnya, oleh suaranya, oleh tangisan dan tawanya. Tetapi begitu ia turun dari panggung, tidak ada apapun selain suara tepuk tangan dan kesenyapan. Kita selama ini lupa, bahwa di pinggir-pinggir panggung ada orang-orang yang memiliki peran yang sangat signifikan dalam teater, lightingblackman, penata musik, penata rias, kostum, sutradara, dan sebagainya. Mungkin, saat kita mencintai orang lain, kita dikuasi oleh panggungnya, tapi sama sekali tidak melihat bahwa ada orang lain di sekitar kita yang menyenangkan hati kita, yang dengan tulus dan tanpa pura-pura mencintai, yang dengan sabarnya membuat kita bersitahan terhadap rasa sakit. If you’re hard to say goodbye, kata sebuah ungkapan Inggris, it will be hard to find new hello.

Barangkali indah, jika kehidupan ini hanya diisi dengan harmoni, dengan rasa aman dan damai, dengan ketenangan hati. However, it’s not always the case, karena ternyata, kita tetap butuh rasa sakit untuk mengakui bahwa ada orang-orang lain di sekitar kita yang harus kita hargai, harus kita hormati, harus kita cintai. Jika saja kita merasa sakit hanya karena cinta bertepuk sebelah tangan, atau merasa dipermainkan, ditinggalkan atau meninggalkan seseorang, bagaimana dengan perasaan Tuhan yang seringkali kita campakkan? (*)

🙂🙂🙂