Musim hujan. Tardi berlari-lari kecil sambil menutupi kepalanya dengan tangan. Hari itu ia lupa membawa payung lagi. Istrinya yang biasa mengingatkannya hanya memasang raut muka tak enak sejak tadi pagi. Pada saat jam pulang kantor begini, dengan hati yang rintik-rintik, Tardi berharap Minah sudah membaik dan bersedia membuatkannya secangkir teh hangat.

Tapi perkiraan Tardi meleset. Minah masih kesal saat Tardi sampai di rumah. Wajahnya ditekuk seharian. Dari pagi sampai malam ia sungguh membuat Tardi bingung. Biasanya pagi-pagi sekali Minah sudah menyiapkan kopi hangat dan pisang goreng, malamnya ia pasti menyediakan teh hangat dan nasi goreng. Tapi kali ini, ia hanya merebahkan dirinya di ranjang. Tadinya Tardi pikir istrinya kelelahan karena semalaman ia membantu orang hajatan di kampung. Tardi maklum, maka pagi tadi ia tak bertanya lebih jauh. Toh waktu itu ia harus cepat-cepat berangkat ke kantor. Pekerjaannya sebagai Office Boy di gedung pencakar langit membuat ia harus datang lebih awal dari para karyawan.

Tapi sayang, saat ia kembali ke rumah, ia masih mendapati istrinya tak bergeming. Dari luar kamar, di antara tirai pintu yang lusuh dan sudah robek di sana sini, Tardi bisa melihat istrinya dengan jelas. Ia sungguh, sedang tidak seperti biasanya.

“Kamu sakit, to?” Tardi bertanya hati-hati sekali.

Minah diam seribu bahasa. Hanya gerak bibirnya saja yang dapat Tardi baca. Ia menggerutu.

“Minah, sekarang Mas belum gajian, masih juga tanggal 20. Ntar aku…”

“Udah ah, aku capek nih!” Minah menyambar. Ketus.

“Lha, aku kan udah apal lagumu itu, Nah. Kamu tuh seneng kalau aku gajian, yah toh?”

“Emangnya aku makan dari gaji Mas doank apa?”

“Yah, kamu makan cinta dari aku sering kan. Hehe. Ayo lah….malam ini donk, sekali aja, ya ya?” Tardi mengerling. Sayangnya, Minah membuang muka. Gombalan Tardi tak berhasil. Sungguh kali ini Tardi bingung. Ada apa dengan istrinya?

Minah sudah terlebih dahulu tertidur ketika Tardi menyusul merebahkan dirinya di ranjang. Ia mengingat-ngingat dosa apa yang telah ia perbuat sehingga sang istri mogok bekerja. Bahkan untuk memenuhi kebutuhan paling dasar.

“Gajian masih minggu depan kan, Nah. Ayolah…” katanya kepada Minah yang sudah terlelap di sampingnya. “Kamu pura-pura tidur aja kan, Nah. Ayolah, sekarang ini kan masih tanggal……” Tardi mengingat-ingat, “Astaga!” Ia terbangun dan menepuk jidatnya sendiri. Teringat minggu lalu saat Minah sedang nonton sinetron dan berkata kepada dirinya, “Mas, kemarin Jupri ngajak istrinya yang lagi ulangtahun nonton apa yah itu pelem yang lagi bagus di bioskop. Habi…Habibah-Airin kali! Duh, aku mau donk, Mas”

“Nah, bangun, Nah…aku ingat ini hari apa, Nah!” Tardi mengguncang-guncang bahu Minah. Ia gusar, tapi sayangnya, seruan Tardi hanya disambut suara dengkuran Minah yang terdengar makin nyaring.

****

Esok harinya, demi menebus dosanya yang lupa akan perayaan ulangtahun istrinya kemarin, ia berpikir keras bagaimana caranya agar bisa membahagiakan Minah tanpa perlu datang ke bioskop. Toh, ia tidak paham caranya dan sayang juga kalau hanya menghabiskan malam minggu dengan nonton. “TV di rumah masih jelas lah. Lagian daripada nonton Habibah-Airin, mendingan juga nonton bola” hiburnya dalam hati, sambil membayangkan omelan anaknya yang kemarin minta TV baru karena semutnya sudah terlalu banyak. Pagi-pagi sekali ia meninggalkan secarik kertas di atas meja ruang tamu untuk Minah. Siangnya, ia sengaja keluar sebentar dari kantor, melewati terowongan yang menghubungkan gedung perkantoran dan mall.

Diliriknya barang-barang di sana. Harganya membuat isi kantong Tardi seperti mendadak membuat formasi pertahanan 9-0-1 ala parkir bus Chelsea. Dalam bayangannya kini, mall berubah menjadi padang rumput yang luas. Jantungnya seketika berdegup kencang. Kepalanya pusing. Lututnya lemas sekali begitu melihat price tag barang yang bahkan gaji sebulan Tardi pun tidak cukup untuk membelinya. Isi kantong Tardi tiba-tiba saja membentuk dinding pertahanan. “Heh, Tardi, ngapain kamu beli barang orang-orang kaya di sini. Mereka yang cuma menghargai kamu kurang dari UMR!” lembaran uang berwarna hijau berubah menjadi wajah John Terry.

“Ingat, Di, bulan depan anakmu itu mau sekolah, pentingkan itu saja dulu lah”  kali ini muncul Gary Cahill yang membawa segepok lembaran berwarna biru.

Tapi di sisi lain, batinnya menyerang tak karuan, “Kapan lagi kamu ngasih sesuatu buat istri kamu, Di? Jupri aja bisa bawa istrinya ke bioskop. Entar istrimu mogok lagi, kamu yang pusing. Ayo beli aja!” Tardi bingung, suara Leonell Messikah tadi?

Ia menggeleng-gelengkan kepalanya gemas, lalu menepikan diri ke skywalk. Ada diskon besar-besaran di sana, tapi tetap saja harganya masih melangit. Ada yang membisik-bisik Tardi lagi, “Udah, balik aja lah ke kantor. Masih banyak kerjaan!” Barislav Ivanovic hadir dengan membawa alat pel di tangan. Sempurna, membuat Tardi bertahan dan membalikkan badan. Ia mengucapkan hamdallah berkali-kali. Mall ini memang bukan tempatnya. Tempat dia hanya di basement. Ya, hanya di basement. Tapi begitu ia jalan ke luar mall, tahu-tahu saja seorang perempuan menyemprotkan parfum sembarangan ke arahnya. Ia terkejut. Seperti mendapat tendangan Robie Van Persie yang menukik, taktik pertahanan parkir bus ala Tardi pun jebol. Dua lembar uang kertas merah melayang bebas.

****

Dilihatnya parfum itu lama sekali saat ia sampai ke ruangan tempat OB berkumpul di basement. Dipikir-pikir buat apa juga ia beli parfum, toh istrinya sama sekali tidak suka berdandan. Kenapa juga ia bisa begitu saja terpikat akan wanginya sampai tidak berpikir panjang. “Ya mau bagaimana lagi, sudah terlanjur. Semoga Minah senang” katanya menghibur diri.

Tardi lalu ke mini market di basement kantor untuk membeli kertas kado. Rapi sudah kadonya kini. Ia senyum sumringah, membayangkan Minah memeluk dirinya sambil berkata, “Terimakasih ya, Mas”. Masih senyum-senyum sendiri, Tardi mengambil alat pel di toilet. Diajaknya alat pel itu mengobrol. Ia hendak berlatih bagaimana caranya agar ia tidak canggung memberikan kado. Maklum, sudah lama juga ia tidak bermesra-mesra seperti ini. Apalagi delapan tahun rumah tangga yang penuh lika-liku membuat bunga-bunga di antara keduanya layu, tergantikan dengan pertanyaan, “Besok, si Fajri dan si Ida makan apa ya?”

“Kado ini dipersembahkan untukmu, Dinda. Di tengah curahan hujan badai dan curahan air mata dan curahan penyesalan karena kealpaanku akan tanggal ulangtahunmu” ujar Tardi di depan alat pel. Tapi Tardi tidak sadar, sedaritadi ada karyawan kantor yang mematung di belakangnya. Karyawan itu bingung dan tidak bisa melewati toilet karena pintu terhalangi drama Tardi dan alat pel. Begitu Tardi sadar, sang karyawan masuk ke dalam lalu tersenyum dan geleng-geleng kepala.

Tardi menyudahi hobi berimajinasinya. Antara malu dan prihatin, ia teruskan pekerjaannya, membersihkan toilet kantor dengan serius. Sungguh baru kali ini ia membelikan hadiah ulang tahun untuk istrinya. Dengan sumringah, ia bersihkan sudut kanan, sudut kiri, tengah, dan belakang sambil sesekali bersiul. Tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Hampir semua pegawai kantor sudah pergi dan hanya ada satpam di sana. Ia menekan tombol lift untuk naik ke lantai dasar. Waktunya pulang. Tapi tunggu, sifat pelupa Tardi kumat lagi!

Tardi berlari ke belakang untuk mengambil kadonya. Ia menekan tombol lift lagi untuk turun ke basement. Sementara itu, di luar gedung, hujan turun dengan derasnya, petir menyambar-nyambar membuat para karyawan yang berada di jalanan Jakarta begitu cemas. Air kini sudah mencapai mata kaki. Hujan terus turun tanpa ampun, semakin deras dan membuat air pancur bundaran HI lebih tepat disebut kali.

Di loker basement, Tardi melihat sebuah kado kecil yang tertinggal. Ia ambil kado itu lalu keluar dari ruangan. Begitu hendak menekan tombol lift, tahu-tahu saja ada sesuatu yang mengganggu langkahnya. Sesuatu yang masuk ke celah-celah gedung dan membuat lantai menjadi becek. Ia menunduk dan menelusuri genangan air itu dengan seksama. Namun, baru saja Tardi mendongakkan kepala, tiba-tiba saja dengan garangnya air bah menghantam dinding-dinding basement seperti ombak di lautan. Air bah tersebut menyapu ruangan basement dengan keras. Tardi terkesiap. Ia hendak berlari. Tapi sayang, air bah berlari lebih cepat.

****

            Minah masih memandangi jemurannya. Tidak kering-kering juga. Ia kesal sekaligus cemas karena hanya itulah satu-satunya baju yang bisa ia pakai untuk hajatan saudaranya di kampung. Malam makin larut, dan Minah semakin cemas saja karena Tardi tidak kunjung pulang. Ia menyesal karena seharian kemarin mendiamkan Tardi hanya gara-gara jemuran yang tak kering-kering. Sementara itu, TV di rumah Minah terus menyala, menyiarkan banjir di Jakarta yang semakin tidak terkendali. Seorang lelaki dikabarkan tewas karena terjebak banjir di basement.

Berkali-kali Minah melihat ke luar jendela. Hanya ada suara hujan dan tidak ada kecipak kaki-kaki Tardi yang biasanya terdengar. Nasi goreng sudah disediakannya di atas meja. HP Tardi sedaritadi tak bisa dihubungi. Ia merenung di ruang tamu dan bertanya-tanya dalam hati. Sampai dilihatnya secarik kertas di atas meja yang baru saja disadarinya. Sebuah tulisan yang membuatnya terpaku cukup lama, “Selamat ulang tahun, Dik Minah Sayang. Semoga kelak Mas Tardi bisa belikan mesin cuci”

Minah tertawa kecil. Sifat Tardi yang pelupa tidak berubah juga. Ulang tahun Minah masih tiga minggu lagi.