Nila menatap dirinya di cermin. Ia tersenyum manis. Dari ujung kepala hingga ujung kaki rasanya sudah tampak sempurna. Segalanya sudah ia konsultasikan pada kawannya yang berpengalaman dalam urusan penampilan. Tapi tunggu, ada sesuatu yang mengganggu di sana. Satu titik bekas goresan lipstik berwarna pitch yang belum merata. Dilihat-lihatnya kembali penampilan dirinya pagi itu dengan seksama. Rambutnya, wajahnya, blouse-nya, sepatu hak, dan tasnya sudah sangat serasi.  Hari ini, ia berjanji, tidak boleh ada lagi yang mengutuk penampilannya di kantor seperti kemarin. “Rambut lo kurang ok, Nil, gak pas ama bentuk muka lo”, atau seperti minggu lalu, “ini warna lipstiknya kayak tante-tante deh, Nil”, atau juga seperti bulan kemarin, “Nila, plis banget, itu kacamata jangan kayak orangtua”. Dan komentar itu, benar-benar lahir dari satu orang yang sama bernama: Naya

Naya, dengan segala pesona dan tatapan matanya yang tajam, sudah membuat Nila tidak nyaman sejak awal kedatangannya di kantor. Sebagai konsultan Public Relation senior, Naya memang sangat cakap dalam berpenampilan dan berkomunikasi di depan atasan dan klien. Kerjanya cepat, idenya cemerlang, dandanannya rapi, wajahnya cantik, tapi kata-katanya seringkali menusuk Nila, bukan lagi di belakang, tapi tepat di depan muka. “Kerja sama gue means lo harus sempurna dalam berpakaian dan bertindak, karena klien kita gak sembarangan orang. Laporan harus tepat waktu, datang ke kantor harus juga tepat waktu. Masih syukur lo diterima di sini gara-gara si Tami sekolah ke luar negeri, dan kita lagi benar-benar butuh orang. Gue yang bakal jadi supervisor lo. Sebagai orang baru, the rule, is our rule, see?”

Naya, dengan segala pesona dan tatapan matanya yang tajam, membuat Nila seringkali tegang. Kalau saja Nila bukan seorang freshgraduate yang masih ingusan, yang jengah dengan pertanyaan, “Lu udah kerja di mana sekarang, Nil?”, tentunya dia tak akan pernah menerima bekerja di perusahaan ini, dengan beban kerja yang banyak, uang kesehatan yang janjinya di-reimburse, tapi ternyata tidak, dan omongan para karyawan yang setiap hari tidak jauh-jauh dari, “Ih, si Bapak medit banget deh. Asuransi kagak ada, THR cuma bisa beli permen, uang obat yang dijanjikan gak datang-datang, tapi kerjaan dilimpahin semua ke kita”. Entah bodoh, entah karena tidak ada pekerjaan lagi, mereka masih bertahan di sana bertahun-tahun lamanya. Dan Nila, baru mengetahui itu di detik-detik akhir masa probation-nya selama tiga bulan.

Nila, seorang freshgraduate, yang sudah jadi kutu loncat selama tiga kali dalam satu tahun kelulusannya, hari ini berusaha memberikan hasil yang maksimal. Ia tidak ingin supervisor-nya yang terhormat itu berkomentar lagi soal penampilannya. Di dunia PR, penampilan luar adalah salah satu aspek utama.

****

Dandanan Nila sudah rapi kini. Ia bersiap ke luar dari kamar kosannya. Tapi baru saja dia membuka pintu gerbang, ia sadar ada sesuatu yang bau. Sudah satu minggu ini hujan, bajunya yang ia cuci sendiri masih lembab ketika ia setrika. Parfum tidak bisa menyelamatkan bau apeknya. Ia kembali membuka lemari, diacak-acaknya isi lemari itu dengan tergesa-gesa. Jam sudah menunjukkan pukul enam Ia panik karena kereta pertama akan datang. Tidak ada baju yang pas dengan riasannya kali itu. Maka ia berteriak dari lantai atas, “Teryyy, gue pinjem baju kantor loooo!”

Sempurna. Nila sudah bisa bernafas lega. Sebuah blouse berwarna merah marun sudah dipakainya. Tetapi permasalahan belum selesai sampai di sana. Saat ia keluar dari gerbang kos, gerimis turun tanpa diundang. Nila membuka payungnya dengan kesal. Bagaimanapun ia harus sampai di kantor tepat waktu. Kalau tidak, ia pasti akan kena semprot supervisor-nya seperti hari-hari yang lalu. Alasan macet tidak akan berguna, karena berangkat sebelum matahari tampak di Jakarta bisa menyelamatkan segalanya. Menyelamatkan reputasinya, menyelamatkan gajinya, menyelamatkan kantornya, dan menyelamatkan harga dirinya di depan atasannya.

“Aduuuh!” Nila menggerutu lagi, kali ini high heels setinggi 10 cm lupa ia lepas. Ia menepi dan menggantinya sementara dengan sandal. Sebuah kantong plastik dikeluarkannya dari dalam tas. Sampailah ia di stasiun, tepat ketika gerimis berubah menjadi hujan yang deras.

Seperti biasa, pagi-pagi kereta selalu ramai. Commuter Line berubah menjadi seperti sebuah koper yang overload. Pemilik koper tersebut adalah orang yang tidak ingin menenteng banyak barang sehingga semua bawaan ia masukkan ke dalam satu tas. Alhasil, koper itu tampak seperti sebuah perut yang hendak memuntahkan segala isinya karena mual. Dan Nila, harus menerima konsekuensi itu saat dipaksa mundur keluar begitu ia hendak masuk ke dalam gerbong.

“Aaaaah, kesel, kesel, sumpaaaah! Gak tahu apa gue ditungguin supervisor gue yang galaknya kayak a*j*ng penjaga rumah!” ia menghentak-hentakkan kakinya di atas peron. Beberapa pasang mata di sekitarnya melihatnya dengan tatapan tak enak. Ia sadar, bukan hanya ia yang terlempar dari gerbong kereta. Bedanya, calon penumpang lain masih sabar, tapi Nila sudah berteriak-teriak tak karuan. Ia akhirnya menarik nafas dalam-dalam dan duduk kembali dengan tenang.

Begitu ia duduk, ada satu panggilan tak terjawab. “Mampus, dari Naya” katanya dalam hati. Begitu ia cek bbm, ada pesan yang masuk. Lima tulisan “PING” berwarna merah berderet dari atas sampai bawah. Begitu ia scroll ke atas, pesan singkat Naya membuatnya mati kutu, “Nila, lo harus datang ke kantor lebih pagi yah, karena klien kita kali ini dari perusahaan besar. Gue butuh lo buat bantuin presentasi. Kalau gaji lo mau naik, jangan sampai klien itu lepas dari genggaman”. Dengan gemetar, di bawah lima tulisan PING ia membalas bbm Naya dengan singkat, “Siap, Mbak”.

Kereta datang beberapa menit kemudian, dan kini, dengan perjuangan yang maksimal, dorong sana dan dorong sini, Nila bisa masuk. Bajunya sedikit basah karena hujan begitu deras turun. Tapi sayang, begitu ia sampai di stasiun Manggarai, kereta berhenti tiba-tiba. Para penumpang kereta dipaksa turun karena menurut petugas K.A.I, stasiun Sudirman tidak bisa beroperasi dikarenakan banjir. Padahal masih ada beberapa stasiun lagi yang harus para penumpang lalui.

Semua penumpang menggurutu, tak terkecuali Nila. Ia bingung. Pada saat-saat seperti ini, tidak ada yang lebih menyebalkan dibandingkan mendengar kata-kata tukang ojeg yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, “Ke Thamrin, seratusribu, Mbak!” Ia terpaksa naik, setelah memaki-maki beceknya jalan, mobil yang sembarangan lewat dan membuat dirinya kecipratan air, juga para ojek payung yang sempat berkurumun dan menawarkan diri. “Gue udah ada payung, minggir lo pada!” katanya ketus.

Jalanan Jakarta macet, banjir di jalan Thamrin sudah tak terkendali. Ojeg motor tak bisa melenggang lempang, harus berpayah-payah dulu dengan macet, sebelum akhirnya bisa melewati jalan tikus. Walau cuaca dingin, tapi beberapa tetes keringat Nila siap meluncur dari kening, bedaknya tersapu kecemasan, lipstiknya tak lagi indah karena keluhan-keluhan sepanjang jalan, eyeliner-nya nyaris luntur karena air mata yang ia tahan, dan kakinya jadi gatal karena harus melewati genangan-genangan. Sudah dapat dipastikan ia terlambat masuk kantor.

Nila, seorang frehsgraduate, yang sudah berkali-kali menjadi kutu loncat dari satu perusahaan ke perusahaan lainnya, sampai di kantor dengan lutut yang gemetaran. Untungnya, kantor tempat Nila bekerja tidak terkena banjir yang begitu dahsyat, hanya ada becek-becek di lantai dasar. Nila akhirnya masuk ke dalam toilet, hendak berbenah dari kekacauan sepanjang jalan. Rupanya di dalam toilet banyak para perempuan yang mengantri dan saling sikut ingin bercermin. Ia menyerah dan keluar dari toilet. Sepatu haknya ia pakai begitu hendak keluar dari toilet. Tergesa-gesa ia berjalan menuju lift, hingga kakinya terpeleset, high heels-nya lepas, kepala bagian belakang Nila membentur lantai, pinggang Nila sakit bukan main. Eyeliner-nya sempurna membuat coreng wajah Nila. Ia menangis, tersedu-sedan.

****

Nila tercenung di stasiun Manggarai. Air matanya sudah kering. Tapi memori tadi masih lekat di kepalanya. Fina, sekretaris kantor, yang selalu sampai lebih pagi berkata kepadanya, “Kata Pak Johan kantor libur dulu karena klien kejebak banjir. Mbak Naya malah tadi yang nego ke Bapak supaya kantor diliburin aja. Jadi karyawan yang udah sampe semuanya balik lagi, Mbak”

“Hah? Mbak Naya kenapa gak bilang ke aku deh”

“Cek bbm deh, Mbak”

Nila mengeluarkan BB-nya. Tapi, ah, dimana BB-nya? Tidak ada di dalam tas. Ia panik, sontak mengeluarkan semua isi tasnya. Tetap tidak ada. BB-nya tidak ada. Mungkin dicuri di kereta. Mungkin jatuh waktu dia turun. Mungkin diambil oleh ojek payung. Mungkin juga oleh tukang ojeg. Mungkin waktu ia terpeleset. Mungkin, mungkin…mungkin..

“Mungkin gue pindah kerja terus nyawah aja kali yah” gumam Nila sambil duduk menunggu kereta di stasiun Manggarai, setelah naik ojeg lagi dari jalan Thamrin dengan harga yang meningkat tiga kali lipat. Terbayang kerepotannya tadi pagi, cara berdandannya yang sudah maksimal, high heels pinjaman, baju pinjaman, tas pinjaman, make-up pinjaman, dan ditutup dengan BB-nya yang “dipinjam” orang. Hari itu hujan masih menyapu kota Jakarta. Sudah beberapa hari ia tidak melihat matahari. Didongakkannya kepalanya ke langit sambil berkata, “Tapi di mana lagi gue bisa dapat duit selain di Ibukota, ya Tuhan”. Mata Nila basah. Hatinya lebih lagi (*)