Mungkin dulu itu kita hanya saling berpura-pura,

untuk berkata bahwa kita bisa menikmati kopi dalam satu meja.

Kita bisa saling menyuapi pahitnya, merasai getirnya, membiarkan manis dan ruapnya tanpa saling bertanya mengapa.

Lalu pada pagi di musim semi, kita duduk di bangku taman untuk bercerita tentang kertas-kertas ujian. Malamnya kita saling berkelakar di dalam rumah pohon, kalau suatu saat salah satunya pergi dan satunya lagi tak hendak kembal

Musim demi musim berganti, kita akhirnya terhanyut dan memilih berjalan sendiri-sendiri.

Waktu menua, nafas kita juga, dan bangku tempat kita duduk telah dimakan rayap dan senyap.

Musim panas mulai mengeringkan kenangan, kita sandar pada debu-debu jalanan.

Meja-meja kayu mulai rapuh, suara dan jejak kaki kita hilang di tengah jalan, tertutup rimbun dedaunan di musim penghujan. Saat semua berlalu dan kita bertemu, kita tersenyum melihat gurat-gurat wajah yang menyimpan cerita berbeda.

Hati kita telah kalis, ingat kita tak lagi likat, dan bibir mungkin akan berkata di muka, “Aku sudah lupa apa rasanya jatuh cinta”

 

Tapi mata kita bertemu dan saling beradu. Saat itu diam-diam kita saling berdoa, “Tuhan, selamatkanlah ia, karena aku masih mencintainya”