Saya terpaku. Memandang satu sisi dinding di kamar kosan saya. Dua karton berwarna merah darah dan merah jambu. Yang merah darah bertuliskan kata-kata penyemangat sejak saya memilih untuk kuliah kembali. Ayat-ayat Qur’an, hadits, perkataan ulama, hingga ungkapan-ungkapan bahasa Inggris. Sedangkan karton merah jambu berisikan empat cita-cita yang saya tulis pada tahun 2008, tetapi selama tiga tahun saya taruh di gudang karena cita-cita saya sempat berubah semasa kuliah S1. Isinya adalah: masuk surga, jadi dosen, penulis, dan pengusaha. Baru pada 2012 saya pasang lagi, butuh kelapangan hati untuk (pada akhirnya) meredam cita-cita bekerja di stasiun TV atau media cetak. Saya kembali pada cita-cita semula, menjadi akademisi, penulis, dan pengusaha. Hehe. Maka kertas karton itu saya cari, tertumpuk di antara kertas-kertas yang berdebu, lalu saya pasang lagi. Dan jalan menuju ke sana semakin Allah mudahkan.

Lalu saya beralih ke sisi dinding yang lain. Ada kertas bertuliskan career path sejak saya selesai sidang skripsi, hingga saat ini. Di samping kertas itu ada foto keluarga. Tujuh tahun yang lalu, dan yang terbaru, saat lebaran. Posisi itu membuat saya harus selalu bersemangat. Karena ada orang-orang terkasih yang harus saya bahagiakan. Di tengah-tengahnya, satu tulisan besar mengingatkan diri saya yang lalai ini, “Jaga Qiyamullail”, serta sederet daftar ibadah yaumiyah dan foto satu grup ‘lingkaran’ saya yang sudah terpecah belah, selalu membuat saya ingin menangis saja. “Kita sudah tak bersama-sama lagi seperti dulu. Masing-masing memilih jalan yang berbeda”.

Saya beralih ke dinding yang ketiga, daftar pekerjaan saya, mengajar ini dan itu, proyek ini dan itu, kegiatan begini dan begitu. Satu kehidupan baru yang belum pernah saya jalani. Orang-orang baru yang saya jumpai. Situasi yang kadang membuat saya harus lebih banyak bersabar karena dunia, ternyata bukan hanya milik saya. Sejak itulah saya tahu, bahwa menjadi realistis itu penting, hahahaha.

Tunggu, ada satu dinding lagi, di antara tiga sisi yang sudah terisi penuh dengan alur hidup. Masih kosong melompong. Serta merta dada saya bergemuruh, kepala saya agak berat, karena ada gambaran peristiwa ketika Allah hendak mengangkat gunung Thursina ke atas Bani Israil. Ada bayangan perjanjian antara Allah dan Rasul. Al-Qur’an menyebut peristiwa ini dengan frase “miitsaqan Ghaliizhaa”, atau perjanjian yang berat. Dan, yang lebih mengejutkannya lagi, frase ini dipakai juga dalam sebuah ayat yang pasti akan menampar-nampar diri saya, menggelagakkan semangat saya, sekaligus membuat saya bergemetar karena kehidupan yang benar-benar baru. Kehidupan yang melahirkan tanggung jawab yang sesungguhnya. Karena dalam pada itu, akan ada Allah, di antara saya dan seseorang yang kelak akan berjanji, “kupanggulkan bukit Thursina ke pundakmu seumur hidup”. Satu dinding kosong ini membuat saya begitu takut. Saya menepuk kening, ya Tuhan, saya belum menyiapkan apa-apa untuk itu (*)