Sejak kejadian sebulan lalu itu ia tak lagi mau menggali tanah. Sebab menggali bagi lelaki itu sama saja dengan mengubur mayatnya sendiri. Sebab menggali bagi lelaki itu hanya akan membuatnya menyimpan sampah-sampahnya sendiri. Sebab sampah yang lelaki itu benamkan ke dalam tanah telah terlalu lama disimpannya seorang diri. Sebab lelaki itu terlalu sering menggali tanah sampai perut bumi, ia tidak mau menggali kuburan untuk dirinya sendiri. Ia harus mengeluarkan sampah dalam hatinya sendiri.

“Ya, halo?” suara itu lagi

“Hei, ada apa yah?” tanya suara di seberang itu lagi

Tidak ada jawaban. Sudah satu bulan ia melakukan hal ini, hanya ada sepi. Sunyi. Tidak ada sapaan yang berarti.

“Dasar kurang kerjaan!” Tuut tuut, telepon ditutup. Sejak kejadian dulu itu ia tak lagi mau menggali tanah. Sebab menyimpan sampah di dalam tanah sama dengan menyimpan mayatnya sendiri.

Malam-malam lelaki itu seringkali terbangun dari tidurnya, menyentuh gagang telepon dan menekan nomor-nomor tanpa identitas. Setelahnya ia hanya akan mendengar bunyi, lalu suara yang marah-marah, atau suara-suara yang penuh kebencian, atau malah kesenyapan, karena mereka yang di seberang tidak pernah tahu telepon dari siapakah itu, atau mengapa ada orang yang sering terbangun malam-malam dan membangunkan mereka dengan dering telepon yang tidak beraturan?

“Halo..halo..? kepencet yah?” lelaki itu, di seberang sana, tetap diam

“Halo, pizza delivery service” masih saja yang di seberang terdiam

“Heh, udah tiga kali lo ngerjain gue. Gue laporin polisi juga lo biar dilacak” di seberang masih saja tidak mengeluarkan suara. Satu bulan sudah lelaki itu seringkali melakukan ini. Menelepon ke banyak orang. Termenung memegang gagang telepon. Tersenyum beku melihat tombol-tombol handphone

Kalau saja satu bulan lalu ia tak mengeluarkan sampah dalam galiannya itu mungkin hal-hal itu tak akan dilakukannya. Kalau saja waktu itu tak ada keringat yang menetes dingin dari keningnya. Kalau saja ia tak sampai berlatih di depan cermin untuk mengatakannya. Kalau saja ia tak berteman dengan gadis itu sepuluh tahun lamanya. Ia tak mungkin memendam rasa itu sendirian. Ia tidak akan menekan angka-angka dalam telepon genggam. Ia tak akan mengeluarkan sampah itu sendirian

“Eh elu! Kenapa?” Gisa, gadis jelita, suaranya merdu walau hanya sekadar menyapa dari seberang telepon sana

“Anu…” keringat deras mengucur

“Sori sori, gue lupa, buku lo belum gue balikin, lo mau nagih buku kan?”

“Bukan..ng itu…anu” jantung berdegup makin kencang

“Ah, damn, pasti si Gian ngasih tahu lo yah”

“Gisa…” leher seperti tercekik, tak ada suara.

“Udah lo gak usah basa-basi lagi, yah, gue dah jadian ama dia emang, haha. Thanks ya, lo dah ngajarin gue biar berani nembak cowok langsung. Haha. Ternyata lo bener, gak semua lelaki itu fighter. Padahal katanya dah dari lama banget dia suka gue, terus….”

Senyap. Tapi di seberang sana ada seorang perempuan yang bercerita begitu antusias, berapi-api. Persahabatan yang begitu hangat, terjalin selama sepuluh tahun lamanya, seketika berubah menjadi begitu dingin. Wajah lelaki itu membiru, beku seperti mayat. Ia siap menggali kuburannya sendiri. Siap merayakan lukanya sendiri.