Kemarin pagi, saya mendapatkan mata kuliah tentang bahasa, kognisi, dan budaya. Ada teori yang menarik nih dari Spradely, seorang antropolog.

Spradely bilang bahwa setiap kelompok budaya memandang semesta dengan kacamata yang berbeda-beda. Realita yang ada dikonstruksi melalui suatu proses yang kompleks, dimulai dari bagaimana manusia membentuk persepsi terhadap peristiwa yang terjadi disekitarnya. Persepsi tersebut merupakan representasi mental yang tidak bisa dirasakan secara langsung, tapi dapat diamati melalui perilaku simbolik. Peristiwa yang terjadi tersebut kemudian menjadi suatu tanda (sign)dalam persepsi manusia dan dimaknai sebagai simbol. Untuk mengatur perilaku simbolik itulah dibutuhkan aturan (rule). Ketika dua kebudayaan dengan dua aturan yang berbeda bertemu, bisa jadi menimbulkan clash atau benturan

Sederhananya begini, kalau ada dua orang yang memiliki perbedaan budaya bernaung dalam suatu institusi bernama ‘pernikahan’ dan harus komitmen seumur hidupnya, penyesuaian antar keduanya pasti sulit.  Karena mereka membawa dua persepsi, perilaku simbolik, dan konsep yang berbeda dari masing-masing keluarga besar. Behavior keduanya bahkan terbentuk dari kecil, dan bisa jadi ada sesuatu yang given yang sangat sulit untuk diubah. Masalah akan timbul ketika ada perilaku yang tidak disenangi. Akan tetapi, bukan berarti mereka tidak bisa beradaptasi dengan lingkungan baru, atau tidak bisa menerima hal-hal yang tidak disenanginya.

Pengalaman dosen saya, waktu satu atau dua tahun itu belum cukup untuk sampai pada titik menerima. Makanya wajar kalau dalam kognisi manusia cinta dan benci itu beda tipis. Contohnya, ketika kita mendengar lagu yang tidak kita senangi, rasa benci itu akan terus kita rekam dalam kognisi kita dan membuat kita bersenandung atau terngiang-ngiang tanpa sadar. Sering kan kita berkata, “ini kenapa gue jadi nyanyi lagu ini terus?” Lama-lama bisa jadi malah suka.

Dalam rumah tangga, rasa-rasa tidak suka itu harus disesuaikan melalui suatu proses yang panjang. Contoh sederhananya begini. Dosen saya tidak senang karena suaminya sering meletakkan celana panjang sembarangan. Pada mulanya beliau sangat kesal, tetapi akan ada titik di mana masing-masing pihak menerima dengan lapang. Saat salah satunya meninggal, hal-hal buruk yang paling terekam dalam kognisi itu malah akan menjadi yang paling dirindukan, karena paling sering dipermasalahkan, hehe

Mungkin memang benar bahwa untuk mengikat senyawa dua unsur yang berbeda itu dibutuhkan konflik-konflik kecil (atau malah besar), agar hidup menjadi lebih dinamis. Ibaratnya, kalau kata teman saya, dua orang itu kadang butuh jarak, biar cinta masing-masing memberontak. Nah.