Pada mulanya adalah kaki, lalu perjalanan dari sepatu ke sepatu;

Pada mulanya adalah hati, lalu perjuangan dari ragu ke ragu (Hasan Aspahani)

 

“Selamat, Alfi dan Adhul, kalian sudah berhasil ke luar dari Friend Zone!” Yola, teman kosan menyalami saya begitu tahu kabar pernikahan yang membuat mereka cukup shocked. Tapi tentu saja tidak ada yang lebih shocked dibandingkan dengan shocked-nya genk saya. Genk berdelapan yang beranggotakan saya, Adhul, Wahyu, Jay, Fik, Fiza, Ika, dan Ijo. Kami menyebut genk kami “GENK LABIL” karena sebelum kata ‘galau’ populer, kata ‘labil’ lebih dulu muncul tiga tahun silam, dan entah mengapa kata ‘labil’ terlalu sering kami sebut dalam obrolan kami yang selalu berujung pada jodoh, hahaha *fail*

Entah siapa yang menamakannya lebih dulu, yang jelas kami secara spontan membentuk genk ini ketika pertemuan para MAPRES. Karena setiap ada acara jalan-jalan, yang datang orangnya itu-itu lagi, jadilah kami spontan membuat perkumpulan. Karena kami punya banyak irisan, akhirnya kami jadi sering menghabiskan waktu untuk jalan-jalan ke manapun kami suka, memberi kejutan ulang tahun setiap tahunnya, memberi masukan-masukan tentang masa depan, mengejar cita-cita yang musykil terjadi, melakukan tindakan konyol, mengerjakan proyek sosial bersama, hingga share masalah (paling) pribadi sekalipun, tapi tampaknya…..keterbukaan kami terhadap setiap masalah tidak terjadi pada kasus yang satu ini….

Januari, 2013

Waktu itu saya sedang berada di Serang, menghabiskan libur panjang semester ganjil. Pagi-pagi sekitar jam 10 saya mengambil wudhu untuk shalat dhuha. Entah apa yang menggerakkan saya untuk berdoa begitu khusuk. Di dalam kalimat tersebut, terselip sebuah harapan yang beberapa minggu lalu saya catat dalam resolusi 2013 saya, dan rutin saya doakan ketika Ramadhan 2012: mendapatkan imam yang bisa membimbing saya dunia dan akhirat. Huehehe. Imam yang kaya hatinya, kaya hartanya, dan kaya ilmunya untuk dakwah. Kira-kira begitu bunyinya.

Sejak saya lulus S1, memang ada saja yang “berniat baik”, tapi saya tidak punya keberanian untuk bilang “iya” karena saya merasa masih bocah, dan saya sempat takut pernikahan mengganggu fokus saya pada kuliah S2 yang super padat itu, hehe. Tapi tidak pagi itu, saya merasa harus lebih serius lagi. Maka saya berdo’a, dengan sepenuh jiwa.

Selepas dhuha, saya jadi teringat, minggu lalu saya membeli buku tentang pernikahan, Barakallahulaka, Bahagianya Merayakan Cinta yang ditulis oleh Salim.A.Fillah. Saya tahu, resolusi saya harus dibarengi dengan kerja, maka tiba-tiba saja saya tergerak untuk mempersiapkannya. Sejak Ramadhan tahun lalu, saya berpikir keras bagaimana mulai mempersiapkan ini semua. Semangat ‘persiapan’ saya fluktuatif karena kuliah S2 benar-benar mengalihkan segalanya.

Hingga suatu hari, pikiran saya terganggu karena kata-kata senior saya yang waktu itu baru menikah, Bang Nanda. Ia mendorong-dorong saya untuk mempersiapkan pernikahan dari jauh-jauh hari. Akhirnya, saya tiba-tiba saja beli buku, beli perawatan tubuh, rajin olahraga, banyak nanya resep masakan, dsb, haha. Ilmu saya harus cukup agar saya siap. Saya sempat sedikit tergelitik dengan kata-kata Naya, “Fi, abis baca buku nikah kak Jo propose gue, bahaha”. Dan akhirnya, saya pun, dengan ragu-ragu dan super ketawa kecil, menenteng buku Salim menuju kasir toko buku. Sepanjang jalan saya senyum-senyum sendiri, “Agak geli juga gue beli buku beginian”, gumam saya dalam hati.

Dengan perasaan lucu, selepas dhuha saya buka buku itu dan mulai membaca. Penjelasan pertama yaitu tentang mitsaqan ghaliza (Perjanjian yang berat). Saya tahu, frase ini seringkali merujuk pada akad pernikahan. Tapi saya baru paham bahwa frase itu mulanya disebut dalam al-qur’an pada saat Allah membuat perjanjian dengan rasul. Pada saat itu, dikatakan bahwa bukit Tursina seperti tiba-tiba saja disarangkan di bahu rasul, menunjukkan betapa beratnya amanah yang dipikul. Seketika itu juga, sungguh bukan perasaan lucu lagi yang saya rasa. Dada saya tahu-tahu saja bergemuruh, hati saya menggelegak, ada badai dalam benak, membayangkan kalau saja tiba-tiba ada seorang lelaki yang menyarangkan bukit besar di bahu saya. Astaghfirullah, saya baru-baru ini saja sadar untuk mempersiapkannya.

Dua jam berlalu sudah, saya tenggelam dalam halaman demi halaman. Semakin tertamparlah diri saya berkali-kali ketika membaca buku tersebut. Menyesal, mengapa baru sekarang saya sadar, bahwa menikah tidak semudah yang diduga, ada banyak persiapan yang harus dilakukan jauh-jauh hari. Diiringi dengan rasa menyesal yang bertumpuk-tumpuk, saya menulis di blog dengan judul PERJANJIAN YANG BERAT. Saya menulis kalau saya harus lebih serius mempersiapkan fase tersebut karena saya tidak bisa membayangkan seandainya ada lelaki yang membuat saya memikul bukit ke mana-mana, hehehe. Selesai blogging, tiba-tiba BB saya bergetar. Ada telepon masuk. Adhul?

Bersambung