“Apa rasanya jika sejarah kita berubah dalam sehari? Darah saya mendadak seperempat Tionghoa, Nenek saya seorang penjual roti, dan dia, bersama kakek yang tidak saya kenal, mewariskan anggota keluarga baru yang tidak pernah saya tahu” (Tansen dalam Madre)

September, 2012

Sudah satu tahun saya lulus S1. Dan bulan September 2012 adalah waktu bagi saya masuk kuliah S2. Cukup sudah saya menjadi salah satu pekerja gila yang berdesakkan dalam debora kecil dari Depok ke Jakarta. Kuliah lagi berarti memasang lekat-lekat pesan ayah saya, lima senti meter di depan kepala, “selesaikan kuliah, baru menikah”. Tapi apa jadinya, jika pikiran beliau berubah 180 derajat hanya dalam waktu satu hari?

Ayah saya waktu itu sedang terkagum-kagum dengan mantan mahasiswanya dulu. Katanya ada seorang lelaki yang shaleh, mantan ketua BEM, dan pernah studi di Amerika punya kecenderungan pada saya. Waktu itu beliau bilang ia sedang ikut konferensi di Jerman, dan ayah saya kenal betul dia lelaki yang santun. Dulu sekali ia pernah datang bersama orangtuanya, dan saya dipaksa pulang ketika sedang reunian dengan kawan-kawan SMA. Saya tidak tertarik sama sekali, hingga suatu hari, sambil berbaik hati meminjamkan buku TOEFL, lelaki itu berkunjung seorang diri dan duduk di ruang tamu, tepat ketika orangtua saya sedang tidak ada di rumah. Oh Tuhan, saya terjebak konspirasi perjodohan orangtua….

“Sudah terima pesan saya?”

Tangan saya mendadak dingin. Dalam hati saya berkata, “Duh, ganggu aja gue lagi kerja”

“Gak harus dijawab sekarang kan?”

“I don’t know how to deliver it, I just…” mengalir perkataan dalam bahasa Inggris. Mungkin karena lelaki itu tegang.

Dan beberapa jam kemudian saya hanya bisa melihat punggungnya menjauh dari rumah saya. Tidak ada jawaban dari saya, selain, “Thank you, but I can’t answer it now. I don’t know where destiny will bring us…but well, honestly, I have another priority..” 

Beberapa bulan setelahnya diamenikah dengan orang lain. Ayah dan ibu saya tentu patah hati. He’s not a truly fighter. Sebaliknya, di balik guncangan kedua orangtua saya, saya tertawa puas dan berkata, “Yes, gak jadi kawin”

“Kamu gak sakit dia nikah sama yang lain?” Ibu saya berkata hati-hati

“Lha, kagak, orang dari awal juga gak mau kok. Gak klik, susah nih”

“Memang kamu maunya sama siapa? Bawa kenapa ke rumah, ditawarin dia gak mau, kemarin dokter yang anaknya Prof anu juga gak mau….”

“Aduuuh, ya udah si, cari sendiri aja. Di UI banyak yang bagus ini…”

“Hayo siapa…bawa ke sini kalau banyak yang bagus mah. Masak satu doank gak ada sih”

Adrenalin saya terpacu. Ditodong begitu, saya harus mengakses nama dalam kepala saya agar saya tidak dijodohkan dengan macam-macam orang. Seseorang yang sudah orangtua saya kenal. Si A oh bukan, B, aduh nggak deh, C, jangaaaan, ah ini aja….ini bagus, dan orangtua saya kenal…

“Yang kayak Adhul gitu…mungkin” saya murni bergurau. Dalam hati saya berkata, “I can’t believe I say this”

Ada jeda antara saya dan kedua orangtua saya. Beberapa menit saya memasang tampang lugu. Berharap tidak ada lagi pertanyaan setelahnya. Hingga perlahan, pertanyaan yang tidak diharapkan itu keluar juga…

“Emang dianya mau sama kamu…?”

“HAHAHAHAHA” saya tertawa, orangtua saya menunggu.

Sambil menarik nafas dalam-dalam dan siap-siap membuat orangtua saya kecewa, saya menjawab, “NGGAK, nggak mungkin, lebih tepatnya” saya pasrah

TV di rumah masih terus menyala. Suaranya semakin kecil dengan pertengkaran kami bertiga…..

Detos, Mei 2012

“Kalau elu sama Adhul jadi beneran, gue akan jadi orang pertama yang ketawa ngakak, pake gaun terindah sambi standing applause di pelaminan, hahahaha”

Saya tertawa maksimal dengan gurauan Bela, setelah saya bercerita tentang perkara kejutan ulangtahun yang ditulis di atas salju bulan April lalu. Seseorang berbaik hati mengirimkannya pada saya. Tapi saya realistis saja, tidak ingin terbang ke mana-mana. Toh setiap tahun juga si pengirim itu memberikan kejutan bersama dengan teman-teman yang lain. Basically, dia baik pada semua teman genk. Bela dan teman-teman genk saya juga yakin, pemberian dari Adhul itu murni karena teman semata…

“Tapi yang ini beda…telepon dari Rusia langsung lo. Ngasihnya sendirian lagi, niat banget Fiii”

Ada bisikan yang datang tiba-tiba. Benak saya berkelindan dengan ragam peristiwa. Saya tak gubris memang, tapi sejak kejadian itu, diam-diam saya jadi mengamati perlakuannya pada saya. So far, dia baik dan tidak pernah aneh-aneh dengan saya….

Saya tidak tahu, kalau di balik gurauan saya bersama orangtua dan juga bersama Bela, nun jauh di Rusia sana, lelaki itu diam-diam menyusun rencana yang cantik dan matang untuk saya dan keluarga.

This is only….the beginning….

Bersambung