Awan yang di bawah bergumpal melata

Tampaknya tak siap lagi menjadi lambang

cinta kita, “Apakah ia akan tetap ada

sehabis hujan?” Pesawat mendadak goyang

Ketika kubayangkan matamu mendesah

Jangan lupa di sini ada yang gelisah (Sapardi Djoko Damono)

“Assalamu’alaikum” sapa dari sebrang

Saya tidak bisa merasakan bagaimana perasaan seseorang di seberang telepon sana. Mungkin ia berkeringat dingin, mungkin juga ia menarik nafas berkali-kali, mungkin juga SMS orangtuanya lebih dari satu kali, sebelum ia mengatakan sesuatu yang sudah lama direncanakannya. Saya tak tahu, tapi saya bisa membayangkan sebongkah organ jantung yang berdetak, yang ia paksa dengan keras untuk mengikuti detak jarum jam. Oh w..a..ktu ke…napa eng..kau te…rasa be…gitu lam….bat…?

“’Alaikumussalam” jawab saya

“Fi, buku Notes From Qatar lu masih di gue nih” drama dimulai

“Oh ya yah..”

“Yah, katanya Fik mau pinjem, jadi masih di gue. Tapi gue mau ke Papua besok” Saya menepuk kening saya, lupa bbm Adhul untuk say goodbye, padahal saya sudah wanti-wanti, jangan lupa dengan teman genk sendiri. Waktu itu, untuk kali pertama Adhul akan ditugaskan ke Papua. Rute kerjanya jadi 3 minggu Papua, 2 minggu Jakarta, dan 1 minggu off, tergantung business needs perusahaan.

“Oh ya ya, lu mau ke Papua, gak papa kok di lu aja dulu” jawab saya singkat

“Ok, eh fi..gue kirim email ke lu, tapi pake password, ntar gue bbm yah passwordnya”

“Email?”

Telepon di tutup, saya penasaran, “Apaan si Adhul kirim email pake password segala?” Saya segera mengecek bbm saya. Dia memberikan saya sejumlah huruf dan angka, ketika saya berwacana kenapa harus pake password (dengan emot bingung), tidak ada jawaban. Perlahan tapi pasti saya buka email, mengklik gmail.com setelah blog saya yang bertuliskan PERJANJIAN YANG BERAT saya tutup. Begitu saya buka emailnya, ada sebuah catatan kecil bertuliskan, “Semoga menjadi proses yang baik”.

Deg. Ada sesuatu yang siap jatuh. Melumpuhkan persendian saya. Tiba-tiba saja saya tegang, entah kenapa tangan saya berkeringat dingin ketika ‘loading’. Proses apa ini? Apakah ada kejutan dari dia? Ternyata sebuah attachment surat yang di scan membuat saya kehilangan kata…

“Alfi, you know that we’ve been friends for three years, I eventually have…..

Baris demi baris surat berbahasa Inggris itu saya telusuri. Jantung saya rasanya sudah mau copot saja. Beberapa lamanya saya terpaku di depan laptop, hingga air mata saya menetes perlahan. Saya tertawa kecil seperti tawa seorang idealis terpental yang sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa. Speechless. Tak lama kemudian saya menghambur ke pelukan ayah saya yang sedang menonton TV di sebelah kamar saya. Kalimat PERJANJIAN YANG BERAT berlari-lari di kepala. Detik itu juga, saya menangis sejadi-jadinya….

Jangan lupa kirim pesan kalau kau tiba

dengan selamat di bandara. Tentu.

Kudengar getar dari kota nun di sana

Terpisah oleh jalan-jalan berdebu… (SDD)

 Bersambung