Pondok Indah, April 2012

23 tahun kemudian di kaca ia temukan wajahnya.

Sendiri. Terpisah dari ruang.

Lekang, seperti warna waktu pada kertas koreografi.

Tapi ia masih ingin meliukkan tangannya.

“Aku tak seperti dulu,” katanya,

“tapi di fragmen ini kau memerlukan aku.

Aku — hantu salju.” (Goenawan Mohamad)

 

Musuh apa yang paling mengerikan ketika kita berulangtahun? Kita merayakannya seorang diri, ditemani dengan huruf-huruf mati pada layar komputer dan pekerjaan kantor yang menjenuhkan: menerjemahkan.

Saya waktu itu sempat berkesimpulan, wajar saja jika Putu Widjaya membuat cerpen enigmatik yang berjudul “Bersiap Kecewa, Bersedih Tanpa Kata-kata”. Cerpen tentang seorang lelaki malang yang membeli kado bunga untuk ulang tahunnya sendiri, tetapi sang perangkai bunga enggan memberikan bunga itu. Dia kecewa, dia bersedih, dia kehilangan kata-kata karena tak ada yang memberikannya ucapan selamat sama sekali…

Dan saya merasakan hal itu tahun lalu. Kantor waktu itu begitu hening; karena sebagai anak baru, tak ada yang tahu tanggal ulang tahun saya yang ke-23. Baru ketika BB saya bersuara dan menunjukkan kode telepon yang tidak familiar, saya benar-benar merasa tidak sendirian…

“Hello, can I speak to Alfi?” saya bingung, di seberang sana seseorang menyapa saya dengan bahasa Inggris.

“Who is this?” ragu-ragu saya menjawabnya juga dengan bahasa Inggris.

“Bla bla bla…”

Saya tertawa “Huahaha Adhul ya?”

“Kok lu tahu sih?”

“Ya eya lah…” dalam hati saya, “berapa tahun lo temenan ama gue, lagian bahasa Inggris lo masih kedengeran aksen Indonesianya, hahaha”

Saya sejenak menghentikan pekerjaan. Dan mengalirlah percakapan kami, tentang kabar, tentang pekerjaan, tentang teman-teman. Waktu itu Adhul baru satu bulan berada di Rusia, mengikuti training perusahaan Schlumberger. Sudah lama juga, saya tidak dengar kabarnya.

“Lu udah cek email belum?”

“Belum..”

“Cek deh”

Pembicaraan ditutup dengan, entahlah saya lupa, random sekali saya mengobrol, sampai akhirnya saya membuka email dan tampaklah tiga buah foto tulisan di atas salju…

HAPPY BIRTHDAY ALFI

Saya terpaku. Bingung bagaimana harus berekspresi. Beberapa detik kemudian alam bawah sadar saya bekerja lebih keras. Neuron saya saling terhubung mengingat-ingat kejadian masa lampau. Saya, Alfi Syahriyani, usia 23 tahun pada tanggal 25 April 2012, belum pernah sama sekali diberikan kejutan ulang tahun oleh teman sendiri, menitikkan air mata….

O Man, damn….saya menitikkan air mata….

“Heh, fi…kenapa lu fii..kenapa??!”

Teman-teman kantor saya panik karena saya tiba-tiba menangis di depan komputer.

“Fiiii..kenapa fiii…??”

Tak ada jawaban. Foto di email itu akhirnya saya tunjukkan dan salah satu teman kantor saya, Mbak Inda, tercengang sambil berkata,

 “Ya ampuun, kalau gue jadi elu fi, gue akan langsung terbang ke Rusia dan bilang, ‘kawinin gueeee’

Mata saya mengerjap dua kali. Seisi kantor tertawa tak henti…

Bersambung