Seindah apa pun huruf terukir, dapatkah ia bermakna apabila tidak ada jeda? Dapatkah ia dimengerti jika tidak ada spasi?

Bukankah kita baru bisa bergerak jika ada jarak? Dan saling menyayang bila ada ruang? Kasih sayang akan membawa dua orang semakin berdekatan, tapi ia tak ingin mencekik, jadi ulurlah tali itu. (Dee dalam Filosofi Kopi)

Juni, 2012

Saya tak pernah menyangka, hari itu benar-benar terjadi. Padahal sudah jauh-jauh hari saya catat: jangan lupa ulang tahun teman sendiri. Apalagi teman yang pernah memberikan kado atau ucapan selamat. Saya selalu berusaha untuk ingat dan membalas pemberiannya. Tapi rasanya, kesibukan kantor waktu itu mengalahkan segalanya. Sore hari, sepulang kerja, saya didera kepanikan luar biasa.

“Paraaaah, lu lupa ultah Adhul, Fi, padahal lu dikasih ucapan dari Rusia sana. PARAH”

“Aaaarrgh, gimana ini gimana, Jooo! Mesti apa gue?? *emot panik*”

Percakapan saya dengan Ijo via bbm berakhir dengan tanpa penyelesaian. Karena melihat status bbm Ijo tentang Adhul yang merayakan ultah dua hari yang lalu, saya baru ingat, 26 Juni kemarin seharusnya saya memberikan teman genk saya itu ucapan selamat. Entah mengapa tiba-tiba saya didera kesibukan luar biasa, dan dalam waktu singkat harus berpikir bagaimana caranya meminta maaf. Kalau saja bukan karena perkara salju, mungkin saya tidak akan sepanik itu.

“Dhuuuul, waaaaah, sorry sorry sorrryyy, gue lupa ultah lo. Padahal lu udah ngirim email ke gue pas gue ultah, wkwkwk, sorrryyy”

“Hehehe, gak papa Teh..” jawabnya santai

Saya ingat, bbm saya waktu itu lebay sekali karena saya betulan panik. Waktu itu saya berpikir hadiah kemarin itu memberikan saya kesan persahabatan, tidak lebih. Sekalipun pada akhirnya saya harus mundur beberapa ratus meter dari tebing, setelah sebelumnya nyaris jatuh kalau bukan karena kata-kata Fik di tempat makan…

“Gue saranin lu gak usah ge’er, Tem…” sambil mengunyah ayam bakar dan tempenya, Fik membuka pembicaraan siang itu. “Tem” adalah panggilan kecil saya dalam keluarga

“Lha, sempet, tapi sekarang kagak lagi, Haha”

“Hehe, default dia kan emang baik sama semua orang”

“Iya gue tahu. Makanya gak usah dibawa ke perasaan juga. Lagian tiap ultah juga kita dikasih cake kan bareng-bareng hehe. Elu juga dulu digituin..”

“Iya Tem, dulu gue sempat ge’er, wkwk, tapi lama-lama ngeliat emang default anaknya kayak gitu”

“Yoiii”

“Tapi Tem, kalau misalnya nih yah, Adhul propose lu, terima gak lu?”

Saya terdiam

“Tem, terima ga lu?”

“Gimana yah?”

“Iyah atau nggak, Tem??” Fik terus mendesak saya

“Tergantung lah Fik, kan gue belum tahu gimana-gimananya dia…”

“Yah, dia pernah bilang waktu lagi makan bareng yah, nikah umur 27, mau S2 ke luar dulu abis dua tahun kerja, dan gak mau sama orang yang outstanding kayak mapres gitu, maunya sama yang biasa aja…”

“Yah, kayaknya aneh juga kalau udah teman banget tahu-tahu jadi…”

“Nah…”

Saya mencerna kata-kata Fik dengan sangat khusyuk, walaupun beberapa hari sebelumnya, ketika saya tunjukkan ucapan salju di depan Fik dan Ika, mereka berteriak histeris dan bilang, “Gue setujuuuu! Gue setujuuu banget lu sama Adhul, Teeem! Setujuuu banget!”. Padahal waktu itu saya belum komentar apa-apa. Dan teriakan itu rasanya hanya euforia yang tidak berdasar atas fakta. Hehe. Sejak percakapan saya dan Fik di tempat makan dekat kosan, saya mencoba realistis dan enggan membuka hati untuk siapapun, kecuali dia menyatakan keseriusannya. Apalagi sejak lulus kuliah, terlalu banyak kisah tentang PHP bertebaran di muka bumi, hehehe, maka saya memilih untuk fokus pada karir terlebih dahulu.

But inspite of that, untuk mengobati perasaan bersalah, hari itu juga saya berpikir untuk memberikan Adhul sesuatu. Setidaknya balasan tanda persahabatan. Saya ingat Fik pernah memberikan ucapan selamat untuk Ika via facebook. Hadiah kecilnya adalah “sebuah tulisan tentang kesan Fik pada Ika”. Maka malam harinya, saya mengetik beberapa paragraf tentang teman genk saya itu. Saya berniat melakukan hal yang sama kepada Ika juga.

Mengalir, dan ternyata saya tidak sadar, saya menulis sesuatu yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Begitu saya baca lagi, beberapa menit saya terdiam di depan laptop dan bergumam sendiri, “Kok ini anak hebat juga?” Tiba-tiba saya merasa lugu dan awkward karena belum pernah merangkum hal-hal tentang Adhul dalam pikiran saya; membuat serpihan-serpihan karakter dia yang tercerai berai menjadi satu kesatuan utuh dan harmonis dalam sebuah tulisan.

Saya menggaruk kepala saya. Terkadang memang kita harus mundur ke belakang dulu untuk melihat sisi positif teman dekat kita secara objektif. Atau menyediakan waktu untuk melihat sisi baiknya. Karena mungkin, saking dekatnya kami antar sesama, kami tidak pernah menyadari hal-hal detail dan baik tentang teman kami sendiri. Bisa saja, misalnya, X yang seorang Mapres dipandang wow oleh publik dari jauh, tapi oleh teman dekatnya sendiri dianggap aneh, koplak, atau biasa saja karena sudah tahu “gila-gilanya”, hehe.

Saya post tulisan saya tentang Adhul di blog dengan judul “Happy Birthday, Mate”, karena menurut saya, tidak ada salahnya dengan komentar saya yang cukup memberikan respek padanya. Tetapi tidak ingin dianggap terlalu berlebihan, di sela-sela paragraf saya menulis,I mentioned his positive sides already, but actually the negative sides are greater than these, haha, kidding, but I won’t open his card, haha.

I don’t know what to say in a very short time, Adhul, I know in your b-day today, you have made a big decision in your life; resigning from your company. You know, to resign, for a man, as you said to me, was relieving and burdening at the same time. But after all, I believe after this you can be a star, not just like an eagle trapped in a gilded cage, am I right? Sometimes you need to stay out, and breathe fresh air to remind you of you’re gonna be.

Blog posted. Email Sent…

Detik itu saya tersadar, dia baru saja mengambil keputusan besar, mengundurkan diri dari perusahaan Schlumberger. Gila…

Bersambung