Pada beberapa orang cinta itu muncul sekali. Begitu besar. Sehingga ia sadar jika ia sedang mencintai seseorang. Jatuh cinta namanya. Tidak ada yang tak sadar jika ia sedang terhempas. Tidak ada.

Padaku, cinta itu pelan-pelan lahirnya. Ia bahkan tak mengenal ketertarikan karena perbedaan laki-laki dan perempuan. Padaku, cinta tumbuh linear dengan pertumbuhan diriku sebagai manusia. Sehingga aku sulit menyadari apakah aku sedang mencintai seseorang ataukah tidak. Tumbuh cinta terlalu perlahan sehingga sering diabaikan memang (Muhammad Akhyar, Serial Sepi Paling Tepi)

Juli 2012

“Money is not everything” tegas seorang lelaki di depan saya. Saya tidak habis pikir memang, bisa-bisanya dia mengundurkan diri dari sebuah perusahaan multinasional yang diincar banyak orang.  Saya dan teman-teman gemas, tapi mau bagaimana lagi.

“Yah satu lagi, biar Ramadhan gue bisa lebih khusuk, hehe” lanjutnya

Saya dan Adhul waktu itu terlibat dalam sebuah percakapan makan siang di perpustakaan UI. Waktu itu dia baru saja mengundurkan diri dari perusahaan yang (katanya) menjadikannya benar-benar seperti robot. Apa rasanya kerja 20-an jam dalam sehari, belum lagi harus curi-curi waktu shalat, siap kapanpun dipanggil ke lapangan dengan jadwal yang manasuka, dan beberapa  teman kantor yang hobi melakukan percakapan sia-sia. Walau rekening gemuk, rasa-rasanya kerja seperti itu membuat kita tidak punya kehidupan. Mungkin bertemu dengan teman-teman lama membuat nafasnya sedikit lebih longgar.

Pertemuan saya dengan dia juga tidak direncanakan. Waktu itu, Ninis, junior kami di FISIP UI (panitia ILDP) cukup berhasil melakukan sebuah konspirasi. Hehe. Dia dan kawan-kawan menyatukan kami berdua dalam sebuah pelatihan bahasa Inggris. Dengan tanpa diduga-duga, saya disandingkan untuk menjadi pembicara dengan Adhul.

“Tadinya mau kak Alfi doank, tapi gak seru ah, yah sengaja aja pas rapat pada sepakat dibarengin sama kak Adhul, wkwk, kan cocok”

Ada keringat sebesar biji jagung di kepala. Entah kenapa, sejak kami terlibat di ILC (Indonesia Leadership Camp), kami selalu jadi korban cengan yang sampai sekarangpun kami tidak mengerti kenapa. Sebab muasalnya adalah hanya kami satu-satunya peserta 2010 ILC yang jadi panitia di tahun berikutnya. Waktu itu saya mengajak Teguh, Bela, dan Akhyar FIB untuk menjadi staf saya di kepanitiaan. Tapi kenapa juga saya tidak diledek dengan Teguh dan Akhyar yah? Haha. Entah siapa yang memulai, intinya, anak-anak jadi sering meledek saya dengan Adhul. Sampai di komunitas naik gunung AADT (Arungi Alam Dekati Tuhan) pun, saya dan dia sering jadi korban. Haha. Dan kami pun hanya bisa bertanya-tanya, ada apa dengan dunia.

Tapi rasanya tidak bijak, kalau hanya gara-gara ini kami jadi, haha. Rasanya juga tidak bijak, kalau gara-gara ini saja malaikat lewat dan berdoa, dan rasanya juga tidak lebih bijak, kalau menduga-duga saya ada apa-apa dengan dia sejak dari lama. Haha. Sejauh saya berteman, to be completely frank, tidak pernah sekalipun saya merasa diperlakukan tidak baik olehnya, di bbm aneh-aneh, digantung, diberi harapan palsu, dijanjikan macam-macam, apalagi dipermainkan J.

Dia teman yang baik, sebagaimana Jay, Wahyu, dan teman-teman genk memperlakukan saya. Tapi dibanding yang lain, kalau diibaratkan dengan kurva, Adhul ini tampaknya pasang strategi.. Kurva dia tiba-tiba naik secara signifikan, lalu turun untuk memberikan saya spasi, kemudian pelan-pelan naik lagi, dan gotcha! Yes, you got it! Intinya, dia berhasil memberikan saya rasa nyaman tanpa harus woro-woro bergalau ria, atau secara frontal menuntut sana-sini. Kalau ibarat masakan, bumbunya pas, enak, dan sehat, hehe

Agustus-September 2012

Alhamdulillah, finally Adhul diterima bekerja di British Petroluem (BP) Ramadhan tahun laluKarena diterima di tempat kerja baru, akhirnya saya, Akhyar, Teguh, dan Bela pun mendapat privillage traktir buka puasa bersama dari Adhul. Hehe. Beberapa minggu setelahnya, saya masih ingat, saya jalan bersama Bela malam-malam setelah nonton, lalu entah bagaimana ceritanya Bela jadi cerita tentang group wasap AADT , percakapan antara Tika dan Adhul tentang ‘cara mengambil kesempatan’, terutama soal pekerjaan. Saya lupa detailnya bagaimana. Intinya, kata Bela, Adhul bilang di group, ‘ambil yang sesuai passion dulu, walaupun tampak sulit dan jauh, kalau gak bisa juga baru ambil yang dekat aja’. Ah jadi lupa redaksinya. Bela, entah mengapa jadi menghubung-hubungkannya ke jodoh. Dan dia bilang, mungkin saja saya bisa jadi berjodoh dengan Adhul karena dekat, haha. Apa kali si Bela. Koplak dah.

Lalu untuk ke sekian kalinya dia berkata kepada saya, “Gue gak akan cumastanding applause di pelaminan yah kalau lu jadi sama Adhul, tapi gue juga akan pake gaun terindah, bahaha”. Dengan superbangga karena merasa tidak mungkin sekali saya (yang menurutnya koplak ini) jadi dengan Adhul (yang menurut dia lebih OK), Bela berkata dengan apa adanya, lugu, dengan aksen betawi yang kental, plus nada yang terkesan meremehkan, haha. Setelah mengetahui kabar pernikahan saya, dia hanya bisa berkata di group wasap, “Aaaaargh, wkwkwk, gak nyangka lu berdua jadi, ya Allah, harkat martabat gue dimana??? Masak gue harus standing applause di pelaminan pake gaun terindah sambil ketawa ngakak *emotnangis*”

Pelajaran nomor 203, hati-hati kalau bicara, bisa saja malaikat mendengarnya dan jadi betulan, haha

Januari 2013

Awal tahun pun datang. Saya termenung memandangi resolusi 2013 saya. Saya coret-coret buku harian saya. Saya yakinkan dalam diri, saya harus mempersiapkannya dari sekarang. Entah pada siapa semua ini akan dilabuhkan. Maka beberapa poin pun saya tulis:

STEPS

PERJANJIAN DENGAN CALON

KONDISI KELUARGA

KARAKTER

RUMAH

CARA MENDIDIK ANAK

dll

Saya terus shalat, bangun malam, berdoa, tidak putus-putus. Semakin sering berdoa, terutama ketika tawaran Bang Nanda tidak jadi berjalan dengan sempurna.

Hingga suatu hari, bagai guntur di siang bolong, telepon dari seberang pun datang. Saya terkejut sekali. Mengapa doa saya begitu cepatnya didengar. Padahal baru bulan lalu tawaran Bang Nanda menguap bagai buih, baru minggu lalu juga saya beli buku pernikahan, dan baru kemarin saya mencorat-coret buku harian saya.

Yang tersisa selanjutnya adalah rasa cemas dan syukur yang tidak terkira. Cemas karena saya merasa persiapan saya menuju fase menikah belum sesempurna yang saya bayangkan. Cemas karena kiriman email dari Adhul membuat tidur saya sempat tidak nyenyak; saya waktu itu memikirkan bagaimana bisa saya mengatur waktu antara kuliah dan menikah, antara tesis dan mengurus kandungan saya, misalnya, antara mimpi dan realita, bahkan antara Depok dan Papua, ada jarak yang memisahkan kami berdua.

Cemas karena saya tidak pernah menyangka, doa saya dikabulkan secepat itu. Dengan orang yang sempat berkali-kali terlintas dalam benak saya belakangan ini, tapi saya kuburkan dalam-dalam karena saya tidak bisa menebak misteri Tuhan. Saya jaga hanya sampai tiga sentimeter di bibir tebing. Hendak jatuh tapi ragu, karena bahkan saya sendiri tidak bisa menebak perasaan apa ini, yang jika dipelihara mungkin hanya akan bertepuk sebelah tangan. Akhirnya saya hanya membuat diri saya sesantai mungkin. Play safe. Tetap berteman, dengan jarak paling aman. Hehe. Alhamdulillah, Allah memberikan jawaban di saat yang tepat, sehingga saya hanya perlu bergerak perlahan untuk meyakinkan diri kalau dia adalah orang yang tepat untuk saya. Datangnya juga tepat. Kriterianya juga tepat, meleset sedikit gak papa lah yah, hehe.

Proses berjalan dengan baik, via email dari Papua, dan selanjutnya dengan perantara yang mempertemukan kami berdua. Bahkan Adhul sempat pergi ke Australia untuk training, bayangkan betapa cemasnya saya waktu itu. Sungguh sulit awal-awal bagi saya untuk menyesuaikan diri dengan teman genk sendiri, feeling awkward, dunno how to build respect, dan menghilangkan perasaan lucu yang hinggap dalam benak, “Kenapa jadinya gue sama lo ya? Padahal gue dan Ijo dulu sering becanda minta jodoh sama lo, kenapa jadinya sama loooo? Kenapa??? Anak AADT dan ILC yang suka ngecengin apa kabar banget itu??? Teman genk berdelapan bakal shock banget pasti” haha.

Afterl all, semuanya berpulang kepada Tuhan. Do’a kita akan dikabulkan manakala kita tidak lagi berharap pada manusia. Semuanya benar-benar dipasrahkan hanya kepada Tuhan. Saya juga belajar untuk tidak pernah membenturkan cita-cita pribadi dengan pernikahan. Toh bersama-sama itu lebih kuat daripada seorang diri, menyelesaikan urusan pribadi lebih mudah karena ada teman berbagi, keberkahan akan didapatkan manakala kita menjaga kesucian diri.

Sebening prasangka kita kepada Tuhan, sebening doa-doa yang dipanjatkan. Mungkin dunia sedang berkonspirasi. Mungkin Allah ingin menjaga kami, yang diam-diam saling berdoa tanpa tahu satu sama lain. Yang dengan sabarnya bersitahan terhadap waktu. Yang dengan doa-doa itulah malaikat juga tahu, siapa yang jadi juaranya (*)

The End

Thanks to Allah Swt (dengan segala misterinya), our beloved parents, my true friends; Ika yang nganterin kami cari rumah, Fik yang buat rencana pengumuman di depan genk labil (walaupun harus pake air mata haru dan kaget, haha), Anto teman share yang tampaknya bisa membuat gue mengantisipasi karakter sahabat lo (baca: Adhul) yang gue gak tahu, wkwk, Jay, Wahyu, dan Aji atas bantuan foto prewednya; Fahry and Riza, a brilliant designer and web developer, Nurmei and Mirza for incredible video, Ijo teman gue yang paling tahu A-X gue dan bantu edit foto; sorry kalau lu sempat nangis Bombay karena gue bohongin berbulan-bulan, hehe, Fiza, yang sering ngingetin gue biar makan yang banyak, haha, Naya, Risma, genk AADT for our beautiful moments before our new life begins. And all readers yang suka nanya, “Kapan lanjutannya?” Sepenting itukah gue harus cerita??? Ini tulisan, semata-mata buat bacaan anak cucu, Adhul, teman-teman genk yang shocked-nya sekarang udah ilang. Semoga kalian semua cepat dapat jodoh, amin😀. Doakan juga semoga pernikahan kami lancar jaya, hehe.