marina Bay2
“There are two things that can not be a joke: marriage and potato”

Saya tertawa kecil begitu suami saya menunjukkan sebuah tulisan di bungkusan french fries. Hari pertama di Singapura kami putuskan untuk membeli kentang Irlandia seharga Sin$ 5, atau sekira Rp50.000. Maklum, harga makan di Singapura bisa 3-6x lipat dari Indonesia, jadi kami (lucunya) mengawali makan malam kami dengan fast food yang lebih murah. Dengan tambahan nasi goreng yang saya bawa dari rumah, hari pertama di Singapura jadi terasa lucu, hehe.

Entah bisikan apa yang membuat suami saya tiba-tiba ingin mengajak saya jalan ke Singapur. Saya juga bingung bagaimana harus berekspresi. Senang, karena saya belum pernah ke sana.  Kaget, karena saya yakin, perjalanan ke sana bakal menghabiskan cukup banyak tabungan.

“Kalau ke Malang, diitung-itung harga pp-nya gak beda jauh” kata dia dari seberang telepon. Saya di Depok, dan dia (sedang bekerja) di Papua. Tiga minggu berjarak, membuat ide-ide di dalam kepala kami begitu liar. Bawaannya ingin selalu jalan-jalan. Maka dengan pertimbangan abc, kami putuskan untuk terbang ke sana. Agenda ke Malang kami batalkan. Tentu saja ini akan menjadi jalan-jalan kedua kami, setelah sebelumnya kami pergi ke Lombok. Saya agak khawatir, karena kami hanya berdua. Tapi saya berpikir lagi, tidak sulit sebetulnya bagi suami saya mengajak saya, karena ini akan jadi yang ke-3 kalinya ia ke Singapur, dan kami sama-sama pernah tinggal di luar, so then, I said, “Ok, Dear”

Mungkin suami saya masih penasaran, karena sebetulnya, waktu awal menikah destinasi kami adalah Bangkok alih-alih Lombok. Selain banyak tempat wisata, harganya juga ramah. Tidak ada beda dengan di Indonesia. Tapi saya urung, karena saya pernah studi selama dua bulan di sana. Ditambah lagi, untuk mencari makanan halal rasanya susah. Dan agaknya, hanya sekali dua kali saya menemui perempuan berhijab. Kalau jalan ke luar negeri, tidak bisa dimungkiri, saya agak susah merasa santai dengan pakaian saya, walaupun mungkin sebetulnya orang-orang biasa saja melihatnya. Hehe.

Sementara itu, di Singapura lebih banyak orang Melayunya, walaupun tetap etnis Cina mendominasi. Transportasinya sangat nyaman, MRT. Jauh lebih tertib dari di Indonesia. (ya iyalah). Waktu awal ke Bangkok dua tahun yang lalu, saya masih shock dengan kecanggihan-kecanggihan yang saya dapati, tapi begitu saya ke negara tetangga lagi, saya merasa biasa saja, tapi tetap sering iseng ngejek negara sendiri kalau melihat betapa tertibnya transportasi dan orang-orang di sana.

“Bang, ini tombol lampu merah kalau di Indonesia pasti cepet rusak. Terus kalau jalanan udah sepi gini, lampu hijau buat pejalan kaki belum nyala juga pasti maen nyebrang aja. Mana motor gak kita temuin sama sekali”

Suami saya tertawa dan berkata, “Kamu jangan begitu. Harus tetap bangga donk sama negara sendiri. Optimis lah”. Jawaban yang tidak saya harapkan, tapi tentu saja dia benar. Hehe.

Jalan-jalan ke Singapura berarti sama dengan tight budget. Waktu hendak berangkat, kami menghadapi masalah pertama, hotel yang murah kebanyakan ada di daerah merah alias prostitusi. Itu info dari kawan kami yang pernah lama di Singapura. Alamak. Akhirnya, setelah mengobrak-abrik internet selama beberapa hari, kami mendapat hotel promo di daerah Bugis. Dari Sin$ 200, jadi $60, permalam. Hore banget ini! Letaknya juga dekat sekali dengan stasiun dan National Library. Mau lebih murah lagi, ada sih hostel yang unisex khusus backpacker, tapi masak iyah suami-istri mau menginap di sana, haha. Masalah kedua, harus dibayar pakai kartu kredit, sementara kartu kredit suami saya itu punya perusahaan, dan tidak boleh dipakai untuk pribadi. Syukurlah, akhirnya ada teknis pembayaran PAL. Dan teman kami membantu kami dalam urusan teknis ini J. Karena kami masih menginap di hotel alih-alih hostel, mari namai ini “semi backpack”, hehe.

Akhirnya, kami terbang naik air asia dengan tas carrier saja tanpa koper, sekitar 3 minggu yang lalu, hehe. Niatnya mau mengeksplor Singapur dengan MRT dan jalan kaki saja. Waktu itu kami sempat salah gate ketika di Bandara. Karena ternyata counter Air Asia ada di gate 3, bukan gate 2 (gate keberangkatan luar negeri). Masalah berlanjut, antrian migrasi panjangnya kagak nahan, sementara  45 menit lagi pesawat kami akan boarding.  Ditambah lagi, saya lupa belum ambil ATM untuk tukar ke money changer. Gubrak. Akhirnya, ½ jam menjelang boarding, suami saya lari-lari mencari-cari ATM.

“Ngajak kamu ke sana, tapi gak bisa pulang itu konyol namanya” canda dia berbalut nasihat. Saya cukup yakin, jantung dia berdetak lebih cepat. Wkwk.

Sekitar pukul 04.00 pm kami sampai di Singapura. Tunggu, kami dicegat oleh petugas imigrasi karena passport kami hilang! Ups, gak denk. Hehe (kalau ini pernah saya alami waktu di Bangkok, walaupun akhirnya diketemukan oleh pilot, haha). Begitu sampai Singapur, kami dicegat oleh ibu-ibu Chinese umur 79 tahun dari Malaysia yang berangkat sendirian ke Singapur pakai pesawat. Gila juga tuh ibu. Karena kesulitan mengisi kartu imigrasi, jadilah kami bantu, dengan spontanously ikutan pakai bahasa aksen Melayu. Di sana sering sekali disangka orang Singapur Melayu. Tapi karena ke mana-mana kami bawa peta yang diambil dari bandara, tampaknya orang-orang cukup tahu saja kalau kami adalah turis.

Setelah melewati antrian imigrasi, kami segera menelusuri peta yang kami ambil dari bandara. Begitu dibuka, alur-alur MRT berkelindan membuat kami bingung.

“Wew, hotel kita dimana ini???”

Bersambung