Abis dicurcolin sama temen, tetiba keingetan adegan di Perahu Kertas.

Keenan: gy, cinta ini masih ada sampai kapanpun, saya tetap mencintai kamu. Remy itu orang baik gy, ayo gy

Kugy: (nangis) aku ketemu satu perempuan di Bali, hati dia kayak malaikat, Nan (nangis)

Keenan: Kamu pasti bisa gi, ok? (pergi pelan-pelan)

Kugy: Nan, Keenan! (lari) Gak bisa, Nan, gak bisa! Kalau 10 atau 20 tahun lagi aku sakit gara2 masih liat kamu, aku gak bisa! (nangis sambil mukul-mukul tembok)

Keenan: Nggak gy, nggak, kamu pasti bisa, ok? (Keenan dengan kalem menjawab)

 

Akhirnya Keenan pun memilih Luhde, dan Kugy balik ke Remy. Tapi karena satu dan lain hal, Keenan dan Kugy bersatu kembali. Remy sama teman kantornya, Wanda sama orang lain juga, Luhde sama orang yang ada di Bali.

Keliatannya happy ending yah. Tapi coba kalau si Kugy jadi ama si Remy, masak iyah gak bisa move on ampe 10 tahun gitu. Lebay. Idup emang kadang kayak novel. Tapi gantungin sumber kebahagiaan pada satu hal, rasanya naif sekali.

Kapan tahu gue baca tumblrnya Kuntawiaji yang ceritanya abis baca novel. Suatu hari ada seorang lelaki dan perempuan yang ingin menikah, tetapi tak direstui orangtua karena mereka beda keyakinan. Sebut saja, Geri dan Dian. Si Geri ini mati-matian memperjuangkan Dian karena dia pikir dia bakal bahagia hidup bersamanya. Konflik meruncing saat Geri hendak dijodohkan oleh orangtuanya.

Ternyata perempuan yang akan dijodohkan dengan Geri itu pun, sebut saja Dena, memiliki problem yang sama dengan Geri. Ia juga terjebak dengan kasus perjodohan, dan mengharapkan lelaki lain yang lagi-lagi ia pikir akan membahagiakan hidupnya.

Konflik semakin meruncing dan meruncing, hingga akhirnya mereka semua tidak bertemu dengan orang-orang yang mereka perjuangkan. Masing-masing bertemu dengan jodohnya di waktu dan tempat yang berbeda.

Terkadang kebahagiaan yang sementara bisa diciptakan sendiri ya. Saya bahagia sama kamu, tapi bahagia yang kayak gimana dulu, saya cinta sama kamu, tapi cinta yang kayak gimana dulu. Saya dijanjiin sama kamu, tapi janji yang kayak gimana dulu. Yang cuma buat nangis bombay terus nyalah-nyalahin cowoknya. Aih mati. Padahal, dua-duanya juga sama-sama main api.

Sedikit cerita, ada lelaki yang lagi benerin pipa di bawah tanah. Mandornya dari atas ngawasin. Suatu hari sang mandor ingin memanggil si tukang pipa. Ia melempar uang receh dari atas agar si tukang pipa mendongak.

“Tuing”. Uang receh jatuh di dekat kakinya. Si lelaki itupun, tersenyum senang dan bilang, “waduh rejeki”, tapi dia belum juga menengok ke atas. Lalu sang Mandor pun menjatuhkan uang kertas seratus ribu rupiah. Pelan-pelan uang itu jatuh, tertiup angin, pelan…pelan…dan sempurna, jatuh tepat di kaki si petukang. Tapi si petukang itu malah semakin girang dan langsung saja menyimpan uang itu di kantong.

Sang Mandor kesal karena petukang ini belum nengok juga. Ia pun menjatuhkan kerikil dan tepat mengenai kepala si petukang. Sontak si petukang pun langsung mendongak.

Yah, mungkin kita sama kayak si petukang ini. Giliran di kasih yang senang-senang, lupa sama Yang Maha Ngawasin, giliran dikasih kerikil dikit baru deh nengok ke atas. Mungkin emang ujian itu dikasih biar kita sering-sering mendongak ke atas.

Kadang kita harus realistis dan keluar dari penafsiran bahagia yang sempit, karena gimanapun, jodoh mana ada yang tahu….