Saya tak pakar berbicara ini sebetulnya. Tapi saya tahu, hidup adalah sebuah perjalanan panjang yang akhirnya hanyalah Tuhan yang tahu. Kalaupun di antara pembaca ada yang sudah berjodoh, toh berjodoh juga bukan sebuah akhir yang membuat kalian bebas dari tekanan sosial, pun dari kejengahan tugas-tugas kantor yang monoton, sehingga tampaknya membersamai seorang teman hidup adalah suatu hal yang menyenangkan, melepas rasa lelah, dan minimal, ada yang membantu memijitkan saat pulang ke rumah.

Bagi yang masih menanti jodohnya, entah diiringi dengan rasa santai maupun galau, perkara jodoh mungkin akan menjadi sesuatu yang rumit karena ukuran orang Indonesia, apabila seorang perempuan sudah menginjak usia 25 dan masih sendiri, umumnya mereka akan panik. Bagi yang merasa santai akan juga ikut terbawa panik, bagi yang orangtuanya sudah uzur dan belum juga menimang cucu, akan juga ikut-ikutan panik. Bahkan bagi yang sudah pacaran, keduanya pun ikutan panik. Yang perempuan merasa dituntut oleh keluarga, yang lelaki merasa seperti ditimpa gunung Semeru yang dahsyat luar biasa.

Bagi yang single pula, mungkin mereka akan menjadi kesal dengan update foto-foto pasangan yang mengumbar kemesraan di depan publik. Dengan wajah, antara tertawa dan prihatin, mereka akan berkomentar, “Plis deh”. Sementara bagi yang sudah berjodoh, lama kelamaan mereka juga memahami bahwa rumah tangga bukan hanya dilihat dari foto-foto mesra, bahwa jatuh-bangunnya mereka pun tampaknya harus juga diperhatikan baik-baik oleh para gadis dan bujang yang sedang berada di bawah tekanan sosial.

 Perkara jodoh bukan seharusnya menjadi pertarungan antara yang married dan single. Antara tekanan sosial yang sedemikian rupanya menghampiri, dengan keadaan diri yang masih terus berupaya menuju ke sana. Toh ketika sudah menikah pun, suara-suara masyarakat tetap ada. Waktu bersalaman dengan pengantin di pelaminan kita sering ditanya “kapan menyusul?”, setelah menyusul pun masih terus ditanya, “kapan punya anak?”, sudah punya anak pun masih juga ditanya, “kapan kasih adik buat kakaknya?”, nanti-nanti sudah punya dua anak juga ditanya, “kapan punya rumah, masih ngontrak aja”, lain waktu ditanya lagi, “tetangga sebelah udah ada mobil, kok masih motor?”, sudah ada mobil masyarakat bertanya lagi, “kapan anak situ nikah?”, anak sudah menikah, ternyata masih ditanya juga, “kapan gendong cucu?” Begitulah, kalau kita belum ada jodoh karena mengukur sosial, seharusnya seumur hidup kita akan terus panik.

Sedikit bercerita, kemarin saya baru saja mengunjungi kawan lama saya. Teman SMA yang baru bulan lalu melahirkan anak keduanya. Saya datang bersama teman saya, yang juga sudah memiliki dua anak. Mereka bercerita tentang kondisi keluarga. Teman yang saya kunjungi, dengan usia yang masih sangat muda, pun suaminya juga, mereka sudah bisa membeli rumah cash seharga 1.5 Milyar, satunya lagi masih menumpang pada orangtua dan merasa panik, tampaknya ia harus ekstra berusaha. Sementara di sudut lain, seorang teman yang masih single, yang tidak bisa hadir dan sebelumnya saya ajak silaturahim berkata, “Yaah, gue doank yang belum nikah. Gue baru sadar…teman-teman dekat udah pada nikah #galau”.

Saya tersenyum dengan komentar teman saya yang belum menikah. Pun saya juga tersenyum dengan dua teman saya yang sudah menikah, tapi dengan kondisi yang kontras berbeda. Saya juga tersenyum karena merasa tampaknya tuntutan sosial akan terus ada, tetapi seperti kata kawan saya suatu hari, dalam status apapun kita, setiap diri punya lahan kebaikannya masing-masing. Toh yang sudah berumah tangga pun, perjalanan mereka belum selesai karena mereka harus sampai pada cita-cita tertinggi, mendapat ridha Allah di surga. Kesuksesan dunia tak akan ada artinya, kalau tak diringi dengan kesuksesan akhirat, seperti kata teman saya yang sudah mapan itu, “….tenang aja, toh ntar tanah kita semua cuma 2m x1 m (baca: kuburan)”

Sedangkan yang belum menikah, masih ada ladang-ladang kebaikan yang perlu dilakukan sebelum menghadapi fase yang lebih menantang. Panik sekali-kali mungkin wajar, tetapi berusaha dan berdoa, tentu saja disertai baik sangka, akan sedikit demi sedikit mendekatkan kita dengan mimpi. Janji Allah itu pasti, tetapi “Allah mencintai orang-orang yang sabar”. Menikah itu bukan sekadar memenuhi tuntutan sosial, bukan juga sekadar mengisi kekosongan hati, bukan juga cepat-cepat karena takut perempuannya direbut orang lain, apalagi karena jengah digantung terus menerus. Menikah harus juga dipikirkan masak-masak, dengan jalan yang juga baik, karena ada generasi-generasi yang harus disiapkan untuk kehidupan di masa mendatang yang lebih baik. Jangan sampai, kita dan anak-anak kita kelak menjadi korban karena niat yang salah arah. Wallahu’alam.

Januari 2014

-A year after marriage proposal #ntms-