Baru kemarin saya dan suami saya menonton sebuah film Cina series di channel 8i (baca: eight international). Kami tertawa-tawa karena film yang berjudul “Mars vs Venus” itu penuh dengan stereotyping, yang tampaknya adalah juga sebuah inevitable fact yang sering kami alami di rumah. Tapi di sini, saya tak akan berbicara soal perbedaan perilaku lelaki dan perempuan, atau bercerita tentang film drama-komedi rumah tangga tersebut. Yang jelas, menonton film tersebut membuat saya dan suami saya berpikir bahwa manajemen konflik dalam rumah tangga itu sangat penting.

Selama enam bulan kami menikah, saya belum pernah bercerita betapa saya awal-awal harus “kaget-kaget” dulu karena proses penyesuaian diri. Saya berteman baik dengan suami saya dulu selama 3.5 tahun, saya kira, saya sudah cukup bisa membacanya luar dalam, hehe, tapi tetap saja, ada hal-hal yang masing-masing dari kami belum ketahui setelah menikah.  Dan kami berpikir bahwa printilan itu adalah hal-hal konyol yang membutuhkan kompromi lebih.

“Aku dulu setahun nikah banyak nangisnya tahu, baru tahun kedua aja bisa sejalan seiring” kata Mbak Diani, tetangga saya di komplek

“Ah masak sih Mbak, kenapa emang?”

“Yah itu masa-masa penyesuaian”

Percakapan di atas adalah percakapan saya dengan Mbak Diani seminggu setelah saya menikah, hehe. Awalnya saya tak percaya. Saya bisa jamin, saya dan suami saya bisa akur, karena seriously, tidak ada karakter-karakter yang mengganggu saya sama sekali.

Kemudian, bulan demi bulan berlalu berlalu. Walaupun dulu saya sudah 5 tahun hidup di kosan, rasanya mengurus rumah itu susah-susah gampang. Rumah itu berbeda dengan kamar kosan 3×3. Rumah itu urusannya sama tagihan listrik dan TV kabel, sama kebersihan yang kalau tidak rutin dijaga bisa aja dikomentarin keluarga dan tetangga, kalau sibuk dengan tugas-tugas kuliah magister, suami bisa gak sempet makan seharian, dan akhirnya ridha juga beli ke luar. Wekekek. Belum lagi ATM suami juga yang dipegang saya, dan harus sangat dicatat dengan ketat. Peace!😀

Kalau genteng bocor, kalau pam rusak, kalau gak ada air bisa berantem-berantem kecil dan jadi sensi karena gak bisa mandi, wekekek, sama tipikal pasangan yang abc juga. Misalnya, gerimis dikit aja, pas dibonceng di motor, gue harus nutupin kepala gue dengan bagian belakang jas ujan dia donk (bisa berantem lama gara-gara ini doank), haha, atau suami gue yang sangat sabar luar biasa menasihati gue agar gak lagi lupa naruh duit di kantong dan kegiles mesin cuci, hehe. Pernah suami saya minta ada pembantu aja kalau saya sibuk, tapi saya keukeuh dan gak mau, baru bulan keenam saya menyerah dan akhirnya sewa pembantu juga, wkwk

Urusan rumah tangga juga berarti pengeluaran bulanan harus dihemat-hemat karena komitmen nabung. Masih ngontrak dan mau beli rumah juga mikir lagi karena suami pengen sekolah ke luar negeri, hehe, siapa juga yang tahu masa depan ya. Dulu aja tiket ke Jerman di tangan, tapi nikah dan kerja jadi pilihan😀

Belum lagi kekagetan-kekagetan karena karakter-karakter geje yang dulu gak ditemui masing-masing, hahaha, plus suami yang bolak-balik Papua, dan saya suka tetiba kesepian di rumah, akhirnya ditemenin adik cowok juga. Beberapa bulan ini juga belajar buat lebih mengasah karakter “melayani” tamu-tamu , harus lebih sensitif lagi, harus lebih banyak makanan lagi, dan harus demen masak-masak lagi. Dan ternyata, kesehatan reproduksi itu harus juga dijaga lagi dan lagi, dan sebagainya dan sebagainya.

Hidup berdua di rumah, dan belum ada anak aja udah repot, hahaha. Tapi saya dan suami selalu merasa seru. Seru karena hal-hal perintilan itu jadi tantangan bagi kami untuk menjaga harmonisisasi labil ekonomi kontroversi hati😀. Enam bulan berlalu, kalau mbak ani bilang tahun kedua baru bisa berjalan seiring, saya akui bisa jadi iyah. Karena tiga bulan pertama nikah, sejujurnya saya banyak nangis diem-diemnya, hahaha, (jangan sampai ketahuan deh, haha), tapi setelah 3 bulan itu lewat, saya kadang suka ketawa dan inget kata-katanya Mbak Ani.

Ah, hal-hal remeh temeh itu saya pikir akan selalu ada. Kalau gak salah yah gak pernah belajar. Bulan keenam menikah secara de jure, saya bisa menerima cultural shock itu, tapi de factonya, ternyata baru tiga bulan yah saya membersamai suami di rumah, yang harus pulang 3 minggu sekali agar saya dan anak-anak bisa sejahtera lahir batin, hehe. Masih 6 bulan, belum 6 tahun, dan belum 60 tahun! Perjalanan masih panjang ya Sayang. Semangat selalu🙂

17 Februari 2014

Six Months Anniversary