Beberapa bulan lalu saya pernah post tulisan tentang perkara jodoh juga. Dalam tulisan itu, saya berkata bahwa tekanan sosial itu memang harus disikapi secara dewasa. Nah, ada satu hal lagi nih yang ingin saya share. Pengalaman orang tentu berbeda, tapi setidaknya tulisan ini bisa memberi sedikit pelajaran buat gadis dan bujang yang mikir bahwa pernikahan itu memang selalu indah. Apakah demikian?

Bermula dari pengamatan pada orangtua saya ketika saya masih gadis, saya seringkali mendapati keduanya bertengkar kecil di depan anak-anak. Kadang sehari bisa jadi banyak kasus. Saya dan adik-adik saya berpikir, rasanya nyaris tidak pernah melihat ayah saya berlaku romantis pada ibu saya di depan anak-anak. Perasaan kok ya beda terus.

“Udah tuir ah, malu keles” Yah mungkin begitulah alasannya. Tapi suatu hari, saya pernah meminjam hp ibu saya dan ga sengaja membuka pesan masuk. Isinya deretan puisi dari ayah saya. Aiiih…sesuatu. Pernah juga suatu hari ayah saya diam-diam memuji ibu saya di depan anak-anak tanpa ada ibu saya, “Contoh tuh ummi, ama saudara-saudaranya tuh bener-bener care. Orangnya ngasih melulu. Ini nurun ke anak mana sih?” Padahal, kalau di depan ibu saya, ayah saya suka berkata, “Boros amat”, yang menurut ibu saya masih dalam tataran proporsional. Gu to the brak!

Dan, saat saya pun berumah tangga, apa yang sering saya lihat pada orangtua saya pun baru dimengerti setelah saya menjalaninya. Ternyata apa yang saya lihat baru secuil dari tangga-tangga yang dibangun oleh pasangan suami istri di dalam rumah. Saya bisa melihat polanya setelah setahun membersamai suami saya. Pada kenyataannya, marriage is also about compromizing! Yeah!

Dua bulan pertama memang semuanya terasa indah, yah masih masa-masa bulan madu lah. Dan saya dan suami saya mungkin masih srada-srada jaim. Apalagi kami tidak mengawali masa pernikahan dengan pacaran, hehe. Tapi lumayan juga, berteman cukup lama membuat saya dan suami saya sudah cukup tahu jelek-jelek dan bagus-bagusnya dimana ajah. Jiaaah. Tapi menjelang bulan keempat, ternyata apa yang kami lihat dulu atau malah kami asumsikan ada saja yang salah. Tapi pada fase ini, tentu gerutuan-gerutuan masih disimpan saja di dalam hati. Kok begini yah, kok begitu yah. Indah dan bingung memang ada masanya, haha.

Setelah setahun berjalan, saya pun menyadari bahwa tidak selamanya hidup berjalan seperti kisah-kisah Cinderella. Jangan pernah berharap bahwa masing-masing kita, lelaki dan perempuan, akan mendapatkan 100% fokus dan perhatian ketika berumah tangga, 100% terpenuhinya keinginan, 100% puji-pujian, atau 100% terlaksananya rencana. Yah, perbedaan memang kadang menyulut konflik-konflik kecil, mulai dari kapan puasa dimulai, uang dipake buat apaan, kenapa kursi harus diletakkan di posisi depan, kenapa ga beli X dulu baru Y, mau punya anak berapa, tabungan sekian persen ga boleh diambil, harus banget yah milih A daripada B, kenapa gak nanya orang ajah daripada ngandelin google maps, kenapa pegang gadget melulu, Apa sih yang lucu???, kenapa sih ga bantuin daritadi, kenapa kelamaan dandan, boleh gak istri kerja atau pulang jam sekian-sekian, kalau mertua datang enaknya dikasih apa ya. Kalau beda gitu, bisa sebel melulu bawaannya, haha.

Hal yang paling sering buat cekcok itu biasanya manajemen keuangan dan kalau kami lagi nyasar-nyasar di jalan walaupun suami udah berusaha ngandelin gadgetnya #jreng. Setelah kami jalani, tampaknya pelajaran financial planning, sex education, dan interaksi dengan keluarga besar dan tetangga di seminar-seminar pernikahan jarang disinggung atau kurang dieksplor ya, padahal itu amat sangat penting lo Guys. Belajar dari pengalaman, sering-seringlah bertanya pada orangtua tentang apa saja yang harus diantisipasi. Kalau malu sama mereka, yah tanya saja kawan yang sudah berpengalaman.

Misalnya, dalam soal keuangan. Harus dari awal disepakati ATM suami dipegang istri atau bagaimana, belanja bulanan dijatah berapa, biaya tak terduga itu juga dijatah berapa, tabungan mau dideposito, atau diinvestasi dalam bentuk apa, dipakai buat apa saja, gaji istri gak boleh diganggu atau gimana, kalau ada bonus kantor mau dikemanain yah enaknya, bikin rekening berapa banyak dan buat apa ajah, ada asuransi gak yah, dan sebagainya dan sebagainya. Karena usut punya usut, saya sering mendengar bahwa perceraian timbul karena urusan ekonomi. Nauzubillah.

Begitu juga pengetahuan kita tentang sex. Banyak pasangan yang ragu-ragu memeriksakan diri ke dokter saat lama tidak dikaruniai anak. Kadang kita mikir ada masalah di ceweknya doank, padahal bisa jadi ada masalah juga sama cowoknya. Bisa saja soal infertilitas, bentuk atau pergerakan sperma yang tidak sesuai, kista dalam rahim, dan lain sebagainya. Konsultasikan ke Ginekolog (dokter kandungan), atau androlog (khusus cowok), dan sering-seringlah memanfaatkan internet atau buku-buku terkait agar dapat pemahaman yang tidak setengah-setengah. Maklum, di Indonesia suka banyak mitos orangtua yang aneh-aneh, hehe. Masalah punya anak atau nggak juga bisa jadi buat cekcok suami istri, jadi jangan ragu belajar dari yang sudah berpengalaman.

Yah, banyak hal yang perlu dikompromikan. Saya pernah bertanya pada murobbiah saya berapa lama baru bisa menerima paket full suaminya. Dia bilang 8 tahun. Et dah lama bat. Bahkan mertua saya pun bilangnya 5 tahun baru bisa nerima senerima-nerimanya. Orangtua saya juga butuh bertahun-tahun untuk bisa menerima full paket pasangannya, hehe. Pesan dari mereka, jangan pernah bawa tidur masalah, selesaikanlah sebelum matahari menyembul kembali dari peraduan. Apalagi saya menemukan pola bahwa perempuan itu lebih emosional daripada lelaki, dan lelaki lebih gak mau terbuka sama perempuan kecuali penting dan harus tahu. Perempuan lebih senang belanja (yang menurut mereka penting), sementara lelaki lebih demen nabung dan kebutuhan harus disesuaikan dengan prioritas. Default. Hehe. Kalau gak bisa menyikapi perbedaan dengan iman, setan itu gampang banget membisikkan keburukan-keburukan yang bisa buat pasutri cekcok melulu. Nauzubillah.

However, despite berpedaan yang menyulut konflik-konflik kecil, tak bisa dimungkiri bahwa ada saja yang membuat kami ketawa karena ternyata kami sekufu #eaa. Buat suami saya, mudik ke Serang bukan barang baru, karena hampir tiap lebaran dia dan keluarga silaturahim ke Serang, secara ada sepupu ayahnya yang tinggal di Serang, dan ternyata beliau menikah dengan saudara saya juga. Menjelang pernikahan dan setelah kami menikah pun, ternyata saya tahu bahwa ada 3 saudara saya yang menikah dengan anggota keluarga besar suami saya. Yaaah, jadi muter di situ-situ ajah yak. Nyari jodoh jauh-jauh kok dapetnya deket amat, haha. Alhasil tidak sulit bagi saya dan keluarga saya untuk menyesuaikan diri.

Dari karakter, dari kekoplakan-kekoplakan, dari irisan teman, dari visi-misi, selalu bisa kami temukan kesamaan. Jadi Guys, kalau lagi sebel, ingat aja baik-baik dan sama-samanya dimana, plus selesaikan juga dengan kepala dingin. Kalau ga bisa juga, harus ada mediator yang dipercaya agar semua senantiasa berjalan harmonis. Rumah tangga itu memang complicated, tapi kedewasaanlah yang membuatnya jadi sederhana. Saya dan suami pun masih terus belajar untuk menjaga keharmonisan ini, apalagi 3 bulan lagi si baby lahir. Wow..wow…ada kejutan apalagi yah nanti? Kita tunggu saja.

Wallahu’alam.