Dulu saya tak pernah membayangkan bagaimana rasanya mengandung. Ketika awal menikah dulu, yang ada dalam diri saya adalah rasa was-was dan takut, karena sejujurnya, dulu saya tak ingin cepat-cepat memiliki anak. Sungguh kufur diri ini, yang sempat berpikir bahwa hamil cepat-cepat hanya akan menambah beban studi S2 saya, hamil cepat-cepat hanya akan membuat momen-momen indah dengan sang suami berkurang, hamil cepat-cepat hanya akan membatasi aktivitas saya di luar rumah, hamil cepat-cepat hanya akan membuat saya sedih karena saya sadar, waktu itu saya mungkin belum cukup beradaptasi dengan rute kerja suami saya yang bolak-balik Jakarta-Papua.

Alhasil, Allah tahu betapa saya belum siap benar, sehingga baru pada bulan keenam Dia memberi saya amanah ini, tentu saja setelah saya menelan beragam pertanyaan khas orang Indonesia, kalau tidak boleh saya sebut ‘tekanan sosial’, dan hasil tes kesehatan saya dan suami yang sempat membuat shock, hingga akhirnya saya bersujud dan berusaha mengenyahkan segala buruk sangka. Saya menerima, dengan sepenuh jiwa. Dan amanah itu justru datang di waktu yang terbaik.

Dengan doa yang tak henti-hentinya, Allah memberikan saya anugerah yang luar biasa, setelah saya membuka hati, merasai betapa bersyukurnya memiliki keturunan yang bisa menjadi penentram jiwa. Saya akhirnya hamil, setelah menyadari betapa fase ini adalah fase menakjubkan yang harus dirasai oleh setiap perempuan. Sebuah fase yang pasti akan mengubah perspektif saya terhadap hubungan orangtua dan anak. Sebuah fase yang menggetarkan, yang mengubah rasa sakit menjadi demikian manisnya.

Sembilan bulan terlewati sudah. Ada banyak perubahan fisik yang membuat kesabaran saya diuji sedemikian rupa. Saat empat bulan pertama, saya jarang sekali bisa makan dengan enak. Selalu memilih-milih makanan karena kalau tidak cocok, saya akan memuntahkan makanannya lagi. Saya memang tidak mengenal ngidam, tapi saya tahu, suami saya pasti kerepotan karena saya susah makan. Minta A, akhirnya dibelikan, tapi nanti sampai rumah tidak dimakan. Minta B, akhirnya dibelikan, tapi nanti bilang, “perutnya gak enak kalau dimakan”. Kalimat favorit suami saya di fase ini adalah, “jadi kamu maunya apa?”. Terbayang wajah dia yang super menahan sabar🙂 karena perubahan hormon kehamilan membuat saya sering sekali kesal dengan suami saya, persis seperti PMS :p. Pernah waktu itu dia bertindak lucu, bukannya mengambilkan air hangat waktu saya muntah, dia malah membuat video tanpa saya ketahui. Katanya, biar dedek tahu perjuangan bundanya dulu :O

Di bulan kelima, saya sudah bisa makan enak. Alhamdulillah, ini terjadi justru ketika Ramadhan datang. Allah tahu, saya tidak boleh sembarangan makan dan perlu asupan nutrisi lebih, maka ia menahan saya dengan puasa semampunya. Di bulan ini juga saya sedang hectic diburu deadline tesis. Dulu saya pernah berpikir saya tidak akan mampu kalau harus mengerjakan penelitian saat saya sedang mengandung, tapi alhamdulillah, semuanya terlewati dengan izin Allah. Adanya janin dalam perut saya justru menjadi motivasi terbaik agar saya cepat menyelesaikan studi.

Menginjak bulan keenam, masalah lain pun timbul. Beberapa bagian tubuh saya gatal-gatal karena tubuh saya semakin lebar, jadilah timbul stretch markyang saya tidak tahu ini bekasnya akan hilang kapan. Kandung kemih saya juga sakit kalau buang air kecil sambil jongkok. Untung saja WC di rumah WC duduk, jadi tidak begitu membebani, walaupun setiap pergi saya kerepotan karena sering sekali buang air kecil. Menginjak bulan ke tujuh, kaki saya sering kram dan kesemutan, karena menahan berat bayi yang semakin besar. Seringkali saya terbangun tengah malam dan berteriak-teriak sakit. Dan lagi-lagi, saya terbayang wajah suami saya yang dulu bingung harus berbuat apa, hehe.

Begitu juga saat hamil delapan bulan, saya merasa betapa sulitnya berjalan panjang, mudah sekali ngos-ngosan. Ini baru saya sadari ketika saya ke Singapura menemani suami training. Tahun lalu kami backpack tidak masalah jalan panjang-panjang, tapi bulan lalu, saat berjalan menyusuri lorong MRT saja, tubuh rasanya pegal dan lelah sekali. Lagi dan lagi, saya terbayang betapa super sabarnya suami saya yang menuruti kemana maunya saya, padahal fisik sudah tidak memungkinkan lagi ;p.

Lalu bulan ke sembilan itu pun datang. Mungkin ini yang disebut Al-Quranwahnan ‘ala wahnin, kelemahan yang bertambah-tambah. Posisi tidur sungguh serba salah karena bayi saya semakin besar, berjalan pun sudah pincang-pincang karena pinggang rasanya sakit sekali. Naik tangga susah, jalan juga pelan-pelan, masak dan beres-beres rumah pun gampang sekali capeknya. Saya jadi ingat ibu saya kalau sudah begini. Akhirnya, saya diminta hijrah ke rumah mertua saja, dan suami saya…tak usah ditanya :p dia terbang ke Papua dan baru tiba satu minggu sebelum HPL (hari perkiraan lahir).

Ingin sekali rasanya memiliki suami yang siaga 24 jam, hehe, tapi hidup memang pilihan, dan saya sudah sangat bersyukur memiliki pasangan hidup yang sangat perhatian dan luar biasa, walaupun jarak memisahkan kami berdua. Kami selalu mengajak bayi kami bicara, agar lahir kalau ayahnya sudah tiba di rumah saja. InsyaAllah HPL saya 3 November, yang katanya bisa maju bisa mundur satu sampai dua minggu dari perkiraan dokter. Ya, tinggal menghitung hari. saja Semoga Allah mudahkan persalinan saya karena saya yakin Dia tahu waktu yang terbaik (*)