Beberapa hari yang lalu saya terlibat obrolan cantik dengan mahasiswi-mahasiswi saya.

“Miss ya ampuun, hidup udah enak banget ya. Miss umur 24 udah nikah masak, suami di migas kurang apalagi coba, udah PNS pula, udah ada anak lagi. Kayaknya enak aja gitu hidup. Da kita mah apa atuh”

Saya tertawa renyah, sekaligus membatin “Wah kagak tahu aja pait-paitnya”

“Other’s grass always looks greener ya” jawab saya sekenanya

“Yah miss, gimana donk ini kita masih gini-gini aja. Bisa gak yah, pada saat usia segitu, kita udah ngelakuin yang selevel gitu”

Saya menepok jidat saya.

“Lagian miss ngapain sih kerja, udah tinggal kipas-kipas duit suami juga, hahaha”

Bagian yang ini seringkali ditanya sama kawan-kawan saya.

Obrolan mengalir ngalor ngidul, dan dari percakapan tersebut, saya jadi berpikir, “apakah banyak orang lain yang iri dengan saya karena begini dan begitu, sementara terkadang saya juga masih selalu melihat rumput tetangga yang lebih hijau? Saya yang tidak begini dan begitu, saya yang merasa selalu kurang karena tidak begini dan begitu, saya yang menyesal karena salah mengambil jalan hidup, saya yang rasanya biasa-biasa saja dibandingkan si A, si B, atau si C. Saya yang masih berpikir saya harus bekerja karena saya merasa butuh tantangan lain dalam hidup.

Ah, capek sekali rasanya membanding-bandingkan diri dengan orang lain. Toh, ketika orang melihat rumput saya yang hijau, saya pun seringkali tidak pernah puas dengan diri saya. Saya pernah menyesal mengapa saya tidak kuliah ke luar negeri, sehingga ada masanya saya memendam rasa iri dengan kawan-kawan yang sudah lebih dulu S2 ke LN. “Duh, harusnya gue bisa banget kayak gitu tuuuh, kenapa buru-buru banget sih kuliah di dalem”. Tapi suami saya selalu menghibur “Ntar aku susah ini modusnya kalau dulu kamu ke luar”. Saya hanya tertawa menghibur diri.

Pernah, saya merasa iri dengan kawan yang bisa beli macam-macam barang karena tinggal ambil duit dari ATM suami. Tapi, walaupun mungkin gaji suami saya se-wow yang orang-orang pikirkan, saya seringkali memutar otak agar belanja bulanan tidak melebihi dari budget, agar saya sehemat mungkin berbelanja dan tidak terjebak gaya hidup. Agar suami saya tidak selalu bertanya dan bertanya duit larinya ke mana. Apa enaknya mencatat setiap detail belanjaan agar semuanya jelas? Walau pada akhirnya saya berkesimpulan ini adalah sesuatu yang akan menjaga keharmonisan saya dengan suami.

Saya juga sering sekali dengar kawan saya yang melulu protes soal mertua begini dan begitu. Adik ipar yang begini dan begitu. Tapi, saya merasa tidak pernah ada masalah besar seperti mereka. Semua terasa baik. Subhanallah, mertua dan adik ipar saya itu baiknya benar-benar luar biasa jika dibandingkan dengan curcolan kawan-kawan saya. Tapi, pasti ada tantangan lain yang Allah beri pada saya. Allah menitipkan adik ipar yang down syndrome kelak kepada saya dan suami. Dan saya selalu berfikir bahwa memang rizki suami saya itu adalah rizki adiknya juga, juga rizki bagi berjuta orang baik yang tidak kami kenal. Allah Maha Adil bukan?

Dan, ini pikiran yang tidak habis-habis melintas, kapan saya bisa hidup normal bersama suami seperti yang lain? Bertemu setiap hari, saat anak sakit ada yang menenangkan, saat butuh hal-hal teknis soal rumah ada yang langsung turun, saat butuh ke tempat jauh ada yang mengantar. No matter how I choose to view this LDR, but it never change the fact, right?

Tapi there is no free lunch. Saat memilih jalan hidup, saya yakin akan selalu ada take and give as well as up and down. Saat melihat orang yang WOW, saya selalu yakin ada kelemahan atau sesuatu yang menyedihkan yang menjadi ujian bagi dia. Saat melihat orang yang menurut kita NGGAK WOW, saya selalu yakin dia punya kelebihan dan sesuatu yang kita tidak pernah bisa melakukan itu. Saya selalu yakin Allah Maha Adil dalam memberikan kita rizki.

“Iyah nih, gue belum dikasih anak juga”

“Ada waktunya pasti, kalau gak gini, mana bisa lu conference melanglang terus ke luar negeri. Anak lu masih nete, terus lu harus banget gitu presentasi sana-sini”

“Iyah ni, kapan yah gue nikah?”

“Duh, harusnya lu bersyukur karena lu masih bisa ngelakuin ini itu tanpa terikat ini dan itu”

“Iyah ni, gaji gue segini-gini aja”

“Ada orang yang gajinya gede, tapi kerja di tengah laut 23 jam, elu mau? Tuh ada orang-orang kecil yang kerjaannya nambang timah melulu tapi masyaAllah dihargai berapa sih secapek itu?”

Dalam hidup, selalu ada ruang untuk mengalihkan diri dari rasa sombong karena memiliki segala, atau rasa inferior karena merasa kurang dari yang lain. Saya selalu yakin, bahwa Allah itu Maha Adil dalam membagi rizkinya. Hanya saja, jarang sekali kita merenungkan berbagai alasan baik mengapa Allah menempatkan kita di posisi A, B, atau C. Kita selalu tak pernah puas, selalu mebanding-bandingkan diri dengan orang lain, dan tak pernah bisa memberikan ruang untuk berprasangka baik, bahwa rizki bukan sekedar uang, bahwa keberkahan adalah bukan suatu kesenangan semata. Keberkahan itu datang, saat kita bisa mendekatkan diri pada Allah baik dikala senang maupun sedih #NTMS